apahabar.com
Kondisi Jalan Sekumpul saat terjadi banjir. Foto-Ahc22

apahabar.com, MARTAPURA – Kawasan Sekumpul Martapura selalu terendam banjir saat musim hujan tiba. Jika intensitas hujan tinggi, potensi banjir pun makin besar.

Musim hujan diprediksi masih akan terjadi saat peringatan Haul Syekh Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul ke-15 yang akan mulai dilaksanakan pada 29 Februari 2020.

Hal itu pun membuat banyak pihak khawatir. Pemkab Banjar sendiri berupaya meminimalkan terjadinya banjir di Sekumpul dengan cara mengeruk drainase, sembari menunggu rencana pembenahan kawasan Sekumpul terealisasi.

“Yang paling memungkinan adalah melancarkan air di eksisting yang ada. Karena kalau kita melakukan penanganan akan sia-sia, sebab outletnya (saluran keluar) terbatas,” ujar Sekda Banjar, Mokhamad Hilman, kepada apahabar.com.

Saat ini tim drainase PUPR Banjar terus melakukan pembersihan drainase untuk mengurangi genangan air di kawasan Sekumpul. Meski begitu, pihaknya tidak bisa menjamin kawasan Sekumpul bebas banjir.

“Tapi, kami tidak bisa menjamin genangan air tidak ada. Apalagi kalau intensitas hujan sangat tinggi,” kata sekda yang juga Plt. Kepala Dinas PUPR Banjar.

Memang kendala di Sekumpul adalah daya tampung sistem drainase yang menyebabkan kemampuannya untuk membuang air sangat terbatas.

“Untuk kawasan Sekumpul larinya (air) ke Jalan Pintu Air. Sementara sipon di Pintu Air itu elevasinya ketinggian. Kalau lebih separuh air yang dibuangnya maka daerah lain akan banjir,” jelas Hilman.

apahabar.com
Rencana penataan kawasan Sekumpul sebelum dan sesudah. Foto-Dinas PUPR Banjar

Untuk diketahui, sistem drainase di kawasan Sekumpul terhalang oleh irigasi Riam Kanan yang membentang di Jalan Sekumpul dan Jalan Tanjung Rema. Sementara di irigasi itu tidak diperbolehkan membuang air buangan drainase.

Lalu, bagamana mengatasi banjir di kawasan Sekumpul?

Grand design dan master plan drainase kawasan Sekumpul dan sekitarnya sudah direncanakan sebagai upaya mengatasi banjir dan menata kawasan Sekumpul lebih baik lagi.

Perencanaan detail engineering design (DED) rivitalisasi sistem jaringan saluran drainase kawasan Sekumpul sudah dipresentasikan oleh Hilman yang kala itu masih menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR bersama Bupati Banjar KH. Khalilurrahman di hadapan warga Sekumpul pada akhir 2018 lalu.

Namun, hingga saat ini masih terkendala pendanaan dan dukungan warga Sekumpul yang sebagian masih enggan membebaskan lahannya.

“Saat ini untuk pendanaannya masih diupayakan. Tidak hanya dari anggaran daerah, tapi juga provinsi dan pusat juga diupayakan. Kemarin juga sudah dibicakan dengan anggota DPR RI Rifqinizami Karsayuda,” tutur Hilman.

Untuk membenahi banjir di Sekumpul, mau tidak mau Pemkab Banjar harus menata lingkungan dengan lebih baik. Langkah itu tentu memerlukan dukungan dari masyarakat.

“Dalam hal ini mereka harus rela membebaskan sebagian lahan mereka,” harapnya.

Selain pembenahan drainase, Pemkab Banjar juga mempersiapkan sistem saluran air hujan dari rumah warga. Melalui sistem tersebut, air hujan yang jatuh di atap rumah tidak seluruhnya masuk ke saluran, tetapi dialirkan ke dalam tanah.

Peresapan air dari atap rumah itu akan memanfaatkan lahan-lahan kosong yang strategis untuk peresapan air.

“Nanti akan kita lihat di mana yang memungkinkan. Tapi harapannya, setiap rumah bisa disiapkan di lahan mereka, karena kalau berbicara di lahan publik pasti akan terbatas,” pungkasnya.

Baca Juga: Sekumpul Dilanda Banjir, Legislator Senayan Lobi Kementerian PUPR

Baca Juga: Banjir di Sekumpul, Seorang Nenek Dilarikan ke Rumah Sakit

Reporter: Ahc22
Editor: Puja Mandela