Kepergok Mesum, Dua Sejoli di Tapin Langsung Dinikahkan di Depan Warga Habib Banua Sedih Jokowi Legalkan Produksi Miras, Sentil Para Pembisik Presiden Kronologis Penangkapan Penusuk Wildan, Mahasiswa Tanbu yang Tewas Dikeroyok BRAVO! Para Penusuk Wildan Mahasiswa ULM asal Tanbu Diringkus Polisi Transkrip PPK Banjar Terima Rp10 Juta Beredar, Bawaslu Turun Tangan

Wisata Sembari Mengenang Sejarah (2), Telusur Jejak Perjuangan Tumenggung Antaludin di Gunung Madang

- Apahabar.com Minggu, 5 Januari 2020 - 08:58 WIB

Wisata Sembari Mengenang Sejarah (2), Telusur Jejak Perjuangan Tumenggung Antaludin di Gunung Madang

Benteng Madang di Kaki Meratus, HSS. Foto-apahabar.com/Lazuardi.

Berperan sebagai referensi bagi masa yang akan datang, belajar Sejarah lebih mengasikan sambil berwisata mengenal alam dan masyarakat di Bumi Antaludin.

HN Lazuardi, KANDANGAN

Matahari redup di pagi Senin (30/12), kehangatan justru datang dari warga desa sekitar Wisata Cekdam Tayub yang menyambut mahasiswa yang baru bangun dari letihnya perjalanan kemarin.

Kehangatan itu terdengar dari percakapan-percakapan, “bacuur” antar mahasiswa yang sedang menikmati minuman hangat dengan warga setempat.

Sebagian mahasiswa rupanya juga mempunyai kerabat di desa itu.

Tiba waktunya, perjalanan pun dimulai. Lewat tengah hari mereka berkumpul di depan camp.

Hairiyadi, dosen sejak 1985 di PSP Sejarah FKIP ULM kembali memberi pengarahan penelusuran di hari kedua.

“Rute dari sini (camp) menuju Benteng Madang. Kemudian kembali lagi ke Tayub,” kata dosen yang sering menjelajah alam dan melihat kebudayaan di hulu sungai ini dihadapan ratusan mahasiswanya.

apahabar.com

Pemandangan matahari terbenam dari salah satu destinasi wisata alam Bumi Antaludin, HSS, Gunung Batu Balai di Desa Madang, Padang Batung. Foto-apahabar.com/Lazuardi.

Untuk menuju Benteng Madang, para mahasiswa diberi rute yang menantang. Kembali melewati kaki pegunungan Meratus seputaran Kecamatan Padang Batung.

Sekitar pukul 15.30 Wita, para mahasiswa baru benar-benar melewati semak-semak dan tanjakan di Gunung Madang. Hingga akhirnya tepat di depan pintu masuk Benteng Madang mereka berkumpul.

Sembari menghela nafas, para mahasiswa kembali disuguhi tanjakan. Sekitar 400 anak tangga akan dinaiki para mahasiswa untuk dapat melihat langsung Benteng Madang peninggalan Tumenggung Antaludin.

Tak jarang mereka mengabadikan momen kebersamaan dengan berswafoto.

Sesampai di atas gunung, tempat berdirinya benteng itu, dua mahasiswa senior, Aditya Riswan Effendi (2009) dan Fakhrin mengambil tempat untuk menceritakan perjuangan Pangeran Antasari, Tumenggung Antaludin dan Demang Lehman.

Awal berdirinya benteng itu diperkirakan pada Agustus 1860, atas permintaan Pangeran Antasari, pemimpin perang banjar pada 1857.

Berbagai saran dan masukan oleh Pangeran Antasari, Pangeran Hidayat dan Demang Lehman mengharuskan Tumenggung Antaludin menyusun kekuatan dan pertahanan.

Terpilihlah tempat sebagai benteng pertahanan di Pegunungan Meratus tepatnya di Gunung Madang, dataran tertinggi di wilayah itu.

Memiliki luas lahan sekitar 400 meter kubik, didirikanlah benteng yang terbuat dari kayu madang 2 tingkat, dan dinamakan Benteng Madang.

Wilayahnya saat itu dipenuhi semak belukar dan dipenuhi jebakan agar tidak mudah dimasuki penjajah, serdadu Belanda.

“Tempat ini terpilih karena strategis untuk pertahanan. Berada di ketinggian dan dapat melihat di sekelilingnya dengan mudah,” ujar Aditya.

Tibalah pertempuran di sekitar Gunung Madang pada September 1860. Serdadu Belanda yang dipimpin Kapten Koch. Dia curiga dengan pergerakan di Madang dan langsung mengadakan patroli.

“Tercatat sebanyak 5 kali serangan oleh Belanda. Namun selalu berhasil dipukul mundur oleh Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman dan Laskar Tumenggung Antaludin,” tutur Aditya.

Cukup lama Belanda melakukan penyerangan ke benteng itu, hingga akhirnya tak dapat lagi dibendung.

Sebagai bentuk strategi pada pertempuran terakhir (22 September 1860) Laskar Antaludin menyerang sambil mengosongkan benteng dan memerintahkan pasukan pergi ke kaki Meratus lainnya.

Benteng ini tak seperti dulu lagi yang terbuat dari kayu madang. Namun sudah terbuat dari semen dan diukir persis seperti kayu madang.

Letaknya pun tak setinggi dahulu. Sebab kondisi tanah yang sudah longsor.

Situs Benteng Madang ini pun sudah dikelola oleh pemerintah setempat sebagai cagar budaya.

Tak sulit menuju situs ini. Baik roda dua maupunĀ  empat bisa digunakan untuk menuju tempat itu.

Berjarak sekitar 8,5 kilometer dari pusat kota HSS, wisatawan bisa langsung mengakses lokasi.

Hanya saja untuk mencapai benteng, wisatawan harus menaiki ratusan anak tangga tadi. Walau begitu, jerih payah menaiki anak tangga akan terbayar dengan pemandangan alam yang luar biasa, hamparan hijau, bukit-bukit dari ketinggian terlihat. Serta berbagai kisah menarik perjuangan Laskar Antaludin pun akan ditemui dari tuturan masyarakat setempat.

Selesai mendengar cerita Perjuangan Tumenggung Antalaudin, para mahasiswa kembali ke camp untuk beristirahat.

apahabar.com

Mahasiswan Sejarah duduk menikmati pemandangan hamparan hijau Bumi Antaludin dari atas Benteng Madang. Foto-apahabar.com/Lazuardi.

Baca Juga: Wisata Sembari Mengenang Sejarah (1), Mahasiswa ULM Telusuri Gua Mandala

Baca Juga: Ketika Polisi di Kandangan Tanam Ribuan Pohon

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Eksekusi Penggusuran, Isak Tangis Pecah di Kolong Jembatan Antasari

Kalsel

Akses Jalan Margasari-Marabahan Rusak Berat, Banyak Mobil Terperosok
apahabar.com

Kalsel

PLN Kalselteng Promosi Sambung Listrik 1,7 VA untuk PT TIA
apahabar.com

Kalsel

P2TP2A Sorot Keberadaan Badut di Banjarmasin Diduga Korban Eksploitasi Anak
apahabar.com

Kalsel

Gelar Seminar Nasional, BEM ULM Gandeng BEM Seluruh Indonesia
apahabar.com

Kalsel

Karhutla, PR Tahunan Masih Mencari Solusi Permanen
Petugas Kebersihan

Kalsel

Tipu Belasan Penyapu Jalan, Oknum ASN di Banjarmasin Akhirnya Mengaku!
apahabar.com

Kalsel

Dalam Dua Hari, Polres Tapin Tangkap Tiga Pengedar Narkotika
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com