Eks Bos Berulah, Kepala Penjual Pentol Rantau Nyaris Terbelah Hendak Benarkan Tas, Pemotor Tabrak Truk di Angsau Tanah Laut Negosiasi Rampung: Bagus Lega, Hasnur Rela, Nitizen Bahagia, Bagaimana FC Utrecht? Jelang Masa Tenang, Bawaslu Kalsel Minta Paslon Copot APK Longsor Tergerus Banjir, Oprit Jembatan di Tabalong Diperbaiki

Wisata Sembari Mengenang Sejarah (3),  Menikmati Hiburan ‘Bagandut’ di Bumi Antaludin

- Apahabar.com Minggu, 5 Januari 2020 - 09:19 WIB

Wisata Sembari Mengenang Sejarah (3),  Menikmati Hiburan ‘Bagandut’ di Bumi Antaludin

Pemandangan matahari terbenam dari salah satu destinasi wisata alam Bumi Antaludin, HSS, Gunung Batu Balai di Desa Madang, Padang Batung. Foto-apahabar.com/Lazuardi.

“Bagandut” menjadi pelepas penat setelah dua hari lamanya hiburan mahasiswa PSP Sejarah FKIP ULM menjalani serangkaian wisata dengan rute yang cukup menguras tenaga.

HN Lazuardi, KANDANGAN

Cuaca cerah menyambut hari terakhir jelajah wisata, situs bersejarah dan permukiman di Bumi Antaludin, Kandangan, Selasa (31/12).

Sebagian mahasiswa masih menggali pengetahuan dari masyarakat Desa Madang, Kecamatan Padang Batung.

Mahasiswa lainnya memilih berjalan melihat langsung pemandangan di alam Bumi Antaludin. Mereka pun mulai berjalan menuju salah satu destinasi wisata unggulan di HSS.

Tak jauh dari tenda para mahasiswa mereka berjalan menuju puncak Gunung Batu Balai dan menikmati keindahan alam serta menyaksikan matahari terbenam.

Yang memilih tinggal di sekitar camp, mengisi kegiatan dengan bertanya kepada masyarakat sekitar seputar kearifan lokal, situs sejarah, tempat-tempat wisata maupun sekedar bercerita mistis.

Dinamakan Mandang, karena di desa ini memang banyak terdapat pohon mandala (mandang begitu warga menyebutnya). Besar, coklat kekuning-kuningan dan abu-abu begitulah gambaran pohon mandang ini.

Sementara tempat para mahasiswa mendirikan tenda di namakan Wisata Cekdam atau Danau, wisata air. Wisata ini dikelola oleh Bumdes Antaludin Makmur Desa Madang sejak awal 2018 lalu.

Sang dosen dan para senior sejarah juga tampak disibukkan dengan agenda menutup 2019 sekaligus menutup agenda penjelajahan untuk mengisi malam terakhir di desa itu.

Dipilihlah Bagandut untuk mengisi acara pada malam terakhir saat itu. Puspa Kencana Grup dipilih mengisi acara itu.

apahabar.com

Mahasiswa Sejarah ikut unjuk kebolehan menari Bagandut di malam pergantian tahun 2019.Foto-apahabar.com/Lazuardi.

“Ini acara mengisi pergantian tahun ala mahasiswa. Selain hiburan, ini nantinya juga sebagai tugas  untuk mereka menceritakan kembali makna, perbedaan maupun asal usul keduanya,” kata Hairiyadi.

Saatnya tiba. Ketua grup, Rusmadi sudah menyiapkan peralatan musik. Sementara para Panggandutan sudah menempati posisinya di panggung, sekitar camp mahasiswa.

Sedikitnya 15 pemainnya dikerahkan oleh generasi ketiga Panggipangan itu untuk mengisi malam penghujung 2019. Termasuk di dalamnya para wanita berparas cantik yang bakal menampilkan tarian.

Ketik malam mulai meninggi, Rahmadi memulai petikan panting yang diikuti pukulan gendang dan gong serta bunyi seruling dan biola menyatu dalam irama. Sebuah lagu Banjar, “Alahai Sayang” dimainkan.

Para wanita pun mengisi tempat di tengah-tengah panggung dan mulai menampilkan gerakan-gerakan yang memikat para lelaki untuk menari bersamanya.

Makin malam, suasana makin akrab, sejumlah mahasiwa dan masyarakat menyatu dalam alunan musik Japin dan tarian-tarian hingga pukul 00.00 Wita.

Lewat tengah malam, mahasiswa dan masyarakat tertib meninggalkan panggung hiburan. Sebagain memilih tidur dan bercengkrama dengan kelompoknya masing-masing.

Hairiyadi yang sedang menyeruput kopi hitam di tengah derasanya hujan bersama para mahasiswanya usai hiburan itu tengah menjelaskan asal usul Bagandut dan Japin.

“Gandut ini merupakan nama penari. Namun belum ada sumber jelas asal usul nama Bagandut,” ucap Hairiyadi.

Mulanya, cerita Hairiyadi, munculnya Bagandut berawal dari kelompok petani, kalangan bawah di pedalaman yang mengadakan pemujaan terhadap padi.

“Padi inilah yang dipresepasikan mereka berwajah atau berpenampilan bidadari,” kata Hairiyadi.

Sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap panen padi, ucapan terimakasih atas asal usul yang “maharagu” padi lalu diadakanlah upacara syukuran dalam bentuk menampilkan karakter bidadari.

“Karena bidadari gambarannya wanita maka ditampilkanlah penari para wanita sebagai simbolisasi perwujudan bidadari yang “meharagu” padi,” jelas Hairiyadi.

Atas dasar itu, sebagai tanda syukur para petani, mereka menghibur diri dan berterimakasih dalam bentuk tarian-tarian para wanita dan lelaki.

Seiring perkembangan zaman, lanjut Hairiyadi, masuknya pengaruh Islam, Bagandut menjadi berubah. Baik musiknya yang menjadi Islam Melayu, lirik atau syair yang awalnya bahasa Banjar Arkais (Banjar lawas/Pahuluan-red) baik berupa pantun hiburan atau asmara juga turut berubah atau bertambah tentang keagamaan yang menunjukkan bentuk dari pemujaan yang bernuansa islam.

Karena Bagandut juga dipresepsikan hal-hal yang bersifat sensual maka berubahlah menjadi Japin.

“Tapi bukan berarti Japin itu sama dengan Gandut. Itu berbeda karena Japin bernuansa Islam Melayu Kalau dulu (Bagandut) masih bernuansa Banjar Lama, kepecayaan lama,” terang Hairiyadi.

Dengan masuknya Islam Melayu, hal-hal yang tak seirama atau senafas dengan pengaruh Islam akhirnya ditinggalkan, baik tariannya maupun nyanyiaannya.

Ditambah lagi ada pengayaan musik-musik melayu seperti seruling dan biola.

“Namun tidak menghilangkan unsur lama atau Banjar Lama, pengaruh Hindu Jawa seperti panting, gendang dan gong. Maknanya hampir miriplah dengan Ronggeng,” tutup Hairiyadi.

Jika hiburan Bagandut yang sifatnya diperuntukan bagi kalangan bawah terutama kelompok petani sebagai ungkapan rasa syukur saat panen, kini meluas. Hiburan ini terkadang juga diadakan saat pengantenan atau pernikahan yang di dalamnya berisi pantun-pantun nasihat maupun pantun humor untuk pasangan yang dinikahkan.

Tak terasa obrolan Japin dan Bagandut memasuki babak akhir. Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Walaupun hujan belum reda, semua kembali ke tendanya masing-masing dan mempersiapkan diri untuk membuat tugas dari sang dosen sekaligus berbenah untuk kepulangan mahasiswa ke Banjarmasin.

Bagi mereka yang tendanya basah akibat rembesan hujan yang cukup deras dan lama, terpaksa mengungsi ke tempat warga sekitar.

apahabar.com

Gadis berparas cantik dari Grup Puspa Kencana menampilkan tarian Bagandut mengisi malam terakhir jelajah wisata dan situs bersejarah dan pergantian tahun 2019. Foto-apahabar.com/Lazuardi.

Baca Juga: Wisata Sembari Mengenang Sejarah (2), Telusur Jejak Perjuangan Tumenggung Antaludin di Gunung Madang

Baca Juga: Wisata Sembari Mengenang Sejarah (1), Mahasiswa ULM Telusuri Gua Mandala

Editor: Muhammad Bulkini

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Puluhan Pengendara Terjaring Razia di Polres Banjarbaru, Alasannya Klise

Kalsel

Puluhan Pengendara Terjaring Razia di Polres Banjarbaru, Alasannya Klise
apahabar.com

Kalsel

Marabahan Theatre, Reinkarnasi Bioskop Bakumpai Permai
apahabar.com

Kalsel

Satu Lagi Potensi Wisata Ditemukan di Tabalong
apahabar.com

Kalsel

Di Menit Terakhir, Ketua AMPI Mantap Maju Musda Hipmi Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Wakil Ketua DPRD Banjarmasin Warning Pengusaha THM
apahabar.com

Kalsel

Gegara Eddy, Kalsel Hujan di Tengah Kemarau
apahabar.com

Kalsel

Lebaran, Pemeriksaan di Pos PSBB Kertak Hanyar Tak Mengendur
apahabar.com

Kalsel

Dandim 1022/Tanah Bumbu Kerahkan Personel Bantu Warga Pasang Kubah Musala
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com