Tagihan Listrik di Kalsel-Teng Membengkak? PLN Ungkap Penyebabnya Jumatan Perdana di Banjar, 4 Masjid Dijaga Ketat TNI-Polri PSBB Berakhir, Duta Mall Segera Buka Bioskop dan Amazon? Jadi Contoh, Jemaah Masjid Miftahul Ihsan Malah Tak Disiplin Keseringan di Lapangan, Dua ASN di Banjarmasin Positif Covid-19




Home Ceramah

Rabu, 12 Februari 2020 - 06:30 WIB

5 Adab Bercanda Versi Islam

Aam - Apahabar.com

Ilustrasi bercanda. Foto-Republika

Ilustrasi bercanda. Foto-Republika

apahabar.com, JAKARTA – Islam telah memberikan tuntunan dalam bercanda agar tidak berbalik menjadi dosa.  Rasulullah SAW pun pernah bercanda.

Dari Hasan RA, dia berkata, ada seorang perempuan tua yang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah supaya memasukkanku ke dalam surga.” Rasulullah SAW menjawab, Wahai Ummu fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh orang yang sudah tua renta.”

Perempuan itu pun berpaling sambil menangis. Lalu, Rasulullah SAW bersabda, Beri tahu dia kalau dia tidak akan masuk surga dalam keadaan sudah tua renta. Sebab, Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung.

Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqiah [56]: 35-37). (HR Tirmidzi).

Di antara tuntuntan dalam bercanda tersebut adalah sebagai berikut pertama, tidak berlebihan. Sebab, canda yang berlebihan akan menjatuhkan kehormatan dalam pandangan manusia.

Baca juga :  Jelang Wukuf: Bus Shalawat Tidak Beroperasi, Fahmi Minta Doa untuk Jemaah Kalsel

Kehormatan harga diri dalam  Islam sama dengan kehormatan darah dan harta. Kesadaran orang untuk tidak mencuri harta atau mencelakai orang lain, belumlah cukup tanpa adanya kesadaran untuk menjaga kehormatan orang. Sabda Nabi SAW, Setiap Muslim dengan Muslim lain diharamkan darah, harta, dan harga dirinya.” (HR Muslim).

Kedua, bukan cacian dan cemoohan. Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS Al-Hujurat [49] :11).

Ketiga, tidak menjadikan canda sebagai kebiasaan. Kesungguhan dan serius adalah karakter pribadi Muslim, sedang kelakar hanya sekadar jeda, rehat dari kepenatan.

Keempat, isi canda bukan dusta dan tidak dibuat-buat. Sabda Nabi SAW, Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa, celakalah!” (HR Abu Dawud).

Baca juga :  Masjid Ini Dikeramatkan Warga, Pendirinya Masih Misteri

Kelima, tidak menjadikan aspek agama sebagai materi canda. Allah SWT menegaskan, Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.”

Katakanlah, Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS At-Taubah [9]: 65-66). (rep)

Baca Juga: Isi Ceramah di Tanbu, Gus Miftah Cerita Deddy Corbuzier Masuk Islam

Baca Juga: Jangan Khawatirkan Majelis Taklim

Editor: Syarif

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ceramah

Menyoal Salat Ied Massal, Ustaz Khairullah: Jangan Mengundang Mudharat
apahabar.com

Ceramah

Agar Hidup Berkah, Ini Amalan dan Doanya
apahabar.com

Ceramah

Masih Terngiang, Pesan Guru Zuhdi Soal Hakikat Lebaran Idul Fitri
apahabar.com

Ceramah

Soroti Tarawih Berjemaah di Tengah Pandemi Covid-19, PBNU: Satgas yang Turun Tangan
apahabar.com

Ceramah

Ibunda Rasulullah SAW Pernah Bermimpi akan Bahayanya Penyakit Hasad
apahabar.com

Ceramah

Ceramah Maulid di Banjarmasin, Abu Zein Fardany Tekankan Mutabaah Batiniah
apahabar.com

Ceramah

Ini Golongan yang Tidak Dapat Keutamaan Nisfu Sya’ban
apahabar.com

Ceramah

Nisfu Sya’ban Jatuh Malam Esok, Apa Saja Amalannya?