Cerita Sukses Trader Forex Banjarmasin, Modal Rp 15 Juta Berangkatkan Umrah Keluarga 3 Jam Hujan Deras, Ratusan Rumah Warga Desa Miawa Tapin Kebanjiran Kisah Pilu Istri Korban Disambar Buaya di Kotabaru, Harus Rawat 4 Anak, 1 di Antaranya Berusia 6 Bulan Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah Produksi Migas Kalimantan-Sulawesi Lampaui Target, Kok Bisa?

5 Adab Bercanda Versi Islam

- Apahabar.com Rabu, 12 Februari 2020 - 06:30 WIB

5 Adab Bercanda Versi Islam

Ilustrasi bercanda. Foto-Republika

apahabar.com, JAKARTA – Islam telah memberikan tuntunan dalam bercanda agar tidak berbalik menjadi dosa.  Rasulullah SAW pun pernah bercanda.

Dari Hasan RA, dia berkata, ada seorang perempuan tua yang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah supaya memasukkanku ke dalam surga.” Rasulullah SAW menjawab, Wahai Ummu fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh orang yang sudah tua renta.”

Perempuan itu pun berpaling sambil menangis. Lalu, Rasulullah SAW bersabda, Beri tahu dia kalau dia tidak akan masuk surga dalam keadaan sudah tua renta. Sebab, Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung.

Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqiah [56]: 35-37). (HR Tirmidzi).

Di antara tuntuntan dalam bercanda tersebut adalah sebagai berikut pertama, tidak berlebihan. Sebab, canda yang berlebihan akan menjatuhkan kehormatan dalam pandangan manusia.

Kehormatan harga diri dalam  Islam sama dengan kehormatan darah dan harta. Kesadaran orang untuk tidak mencuri harta atau mencelakai orang lain, belumlah cukup tanpa adanya kesadaran untuk menjaga kehormatan orang. Sabda Nabi SAW, Setiap Muslim dengan Muslim lain diharamkan darah, harta, dan harga dirinya.” (HR Muslim).

Kedua, bukan cacian dan cemoohan. Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS Al-Hujurat [49] :11).

Ketiga, tidak menjadikan canda sebagai kebiasaan. Kesungguhan dan serius adalah karakter pribadi Muslim, sedang kelakar hanya sekadar jeda, rehat dari kepenatan.

Keempat, isi canda bukan dusta dan tidak dibuat-buat. Sabda Nabi SAW, Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa, celakalah!” (HR Abu Dawud).

Kelima, tidak menjadikan aspek agama sebagai materi canda. Allah SWT menegaskan, Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.”

Katakanlah, Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS At-Taubah [9]: 65-66). (rep)

Baca Juga: Isi Ceramah di Tanbu, Gus Miftah Cerita Deddy Corbuzier Masuk Islam

Baca Juga: Jangan Khawatirkan Majelis Taklim

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ceramah

Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi, Allah SWT Tidak Serupa Makhluk
apahabar.com

Ceramah

Mendidik Anak; Ikhtiar Dijalankan, Doa Dipanjatkan
apahabar.com

Ceramah

Jangan Menunggu Kaya untuk Jadi Dermawan
apahabar.com

Ceramah

Salat Melihat Rasul, Bagaimana Praktiknya?
apahabar.com

Ceramah

Kemanfaatan Ilmu Terlihat Ketika Menghias Pemakainya
apahabar.com

Ceramah

Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi: Memahami Pertolongan Allah

Ceramah

Mengutamakan Memperbaiki Diri
apahabar.com

Ceramah

Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi; Ikuti Rasulullah dengan Mengikuti Para Ulama
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com