Zakaria, Pejuang Covid-19 di Tanah Laut Tutup Usia Malam Minggu, Siring Laut di Kotabaru Kembali Bernadi walau Pandemi Putrinya Hanyut, Bapak Meregang Nyawa di Irigasi Karang Intan Kabar Baik, Tanbu Tambah Pasien Sembuh dari Covid-19 Kurang dari Sehari, Kalsel Tambah Puluhan Kasus Baru Covid-19




Home Ekbis

Jumat, 28 Februari 2020 - 08:47 WIB

Corona Picu Kekhawatiran Pertumbuhan Ekonomi Global

Redaksi - Apahabar.com

Ilustrasi: Pialang sedang bekerja di Bursa Saham New York, Wall Street, AS (Reuters)

Ilustrasi: Pialang sedang bekerja di Bursa Saham New York, Wall Street, AS (Reuters)

apahabar.com, NEWYORK – Virus Corona meningkatkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi.

Indeks utama Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat (28/2) pagi WIB untuk sesi keenam beruntun, dengan S&P 500 mengonfirmasikan koreksi tercepat dalam sejarah ketika penyebaran global yang cepat dari virus mematikan itu.

Dilansir Antara, S&P 500 berakhir 12 persen di bawah rekor penutupan 19 Februari, menandai koreksi tercepatnya hanya dalam enam hari perdagangan.

Rekor sebelumnya adalah sembilan hari pada awal 2018, menurut analis Indeks S&P Dow Jones Howard Silverblatt.

Dow mencatat rekor penurunan poin satu hari, yang juga merupakan penurunan 1.000 poin keempat dalam sejarah dan yang kedua minggu ini.

Ketiga indeks utama AS juga berada di jalur untuk penurunan mingguan tertajam sejak krisis keuangan global, karena infeksi baru yang dilaporkan di seluruh dunia melampaui yang terjadi di daratan China.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 1.190,95 poin atau 4,42 persen, menjadi ditutup di 25.766,64 poin. Indeks S&P 500 merosot 137,63 poin atau 4,42 persen, menjadi berakhir di 2.978,76 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup jatuh 414,30 poin atau 4,61 persen, menjadi 8.566,48 poin.

Dow berakhir 12,8 persen di bawah rekor penutupan 12 Februari dan Nasdaq ditutup 12,7 persen di bawah penutupan tertinggi 19 Februari.

Semua dari 11 sektor S&P ditutup lebih rendah dengan sektor real estat, teknologi dan energi semuanya kehilangan lebih dari lima persen. Kinerja terbaik adalah sektor kesehatan dan industri, yang semuanya ditutup lebih dari tiga persen.

Indeks Arca Airline NYSE berakhir turun 5,7 persen di tengah kekhawatiran tentang gangguan perjalanan di seluruh dunia, sedangkan indeks Philadelphia SE Semiconductor, yang meliputi saham yang terpapar China, jatuh 4,7 persen.

Pemerintah yang memerangi epidemi dari Iran hingga Australia menutup sekolah, membatalkan acara besar dan menambah persediaan medis. Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada Rabu malam (26/2/2020) mengonfirmasi infeksi yang tidak diketahui asalnya di California.

Sementara penjualan mereda untuk sementara waktu selama sesi, kerugian S&P semakin cepat dalam satu jam terakhir perdagangan menjadi berakhir pada level terendah sesi, mencatat persentase kerugian satu hari terbesar sejak 18 Agustus 2011.

“Jalur bencana ini tidak diketahui, karena itu Anda tidak bisa mengetahui dampak ekonomi. Anda dapat melempar dadu tetapi itu dugaan,” kata Direktur Perdagangan Performance Trust Capital Partners, Brian Battle di Chicago.

Tetapi Peter Jankovskis, co-chief investment officer di OakBrook Investments LLC di Lisle, Illinois, mendesak agar berhati-hati.

Baca Juga: Corona Picu Kekhawatiran Pertumbuhan Ekonomi Global

Baca Juga: Dipicu Sentimen Virus Corona, Rupiah Ditutup Melemah

Editor: Fariz Fadhillah

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Saat Covid-19, Pengusaha Sarung Tangan Karet Malaysia Makin Kaya Raya
apahabar.com

Ekbis

Harga Gula Naik, Mendag Cek Satgas Pangan
apahabar.com

Ekbis

Hipmi Siap Lahirkan Sentra Ekonomi Desa
apahabar.com

Ekbis

Proyek Pemerintah Mandek, 60 Persen Pekerja Kontruksi dan Bangunan Menganggur
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Kehilangan Daya Magis
apahabar.com

Ekbis

Menanti Stimulus Ekonomi, IHSG Diprediksi Menguat
apahabar.com

Ekbis

Kalsel Siap Jadi Tuan Rumah Fesyar 2019 di KTI, Ini Penjelasan BI
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Menguat Jelang Rilis Neraca Perdagangan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com