Canggih, Banjarmasin Kini Punya ADM, Sanggup Cetak 100 e-KTP Sehari Evakuasi Korban Erupsi Semeru, Dua Helikopter-Tiga Kompi TNI Dikerahkan Empat Program Bank Indonesia Majukan UMKM Busyet! Buaya Masuk Rumah Warga Saat Banjir di Kaltim Lama Buron, Mantan Kades di Katingan Tilap Dana Desa Rp 1,1 M Berhasil Diringkus di Kapuas

George Harrison dan Warisannya terhadap Perkembangan Rock Modern

- Apahabar.com     Selasa, 25 Februari 2020 - 19:50 WITA

George Harrison dan Warisannya terhadap Perkembangan Rock Modern

George Harrison. Foto-Pinterest

apahabar.com, BANJARMASIN – Hari ini, 77 tahun lalu, atau tepatnya pada 25 Februari 1943 di Liverpool, Inggris, lahir seorang bayi bernama George Harrison.

Kelak ia dikenal sebagai anggota grup band legendaris The Beatles dan seorang gitaris yang memiliki pengaruh besar pada perkembangan musik rock modern.

Namanya memang tak menonjol layaknya Jimi Hendrix atau Jimmy Page. Itu karena saat bersama Beatles, George berada di bawah bayang-bayang nama besar John Lennon dan Paul McCartney.

Meski begitu, George meninggalkan banyak warisan berharga dalam dunia musik populer. Upayanya untuk memasukkan alat musik tradisional India ke dalam lagu-lagu The Beatles merupakan warisan yang terus digunakan para musisi sampai hari ini.

Sitar ia gunakan pertama kali di album Rubber Soul yang dirilis The Beatles pada 1965. George memetik sitar dan membuat “Norwegian Woods” yang dinyanyikan John Lennon makin terdengar indah.

George menemukan ide menggunakan sitar setelah melakukan perjalanan ke India bersama Beatles. Di sana, mereka bertemu dengan Rhavi Shankar, maestro sitar India.

Satu tahun setelahnya, Brian Jones, musisi multi instrumentalis dari The Rolling Stones, mengikuti langkah George. Jones pun menggunakan sitar di lagu “Paint It Black” yang dirilis pada Mei 1966.

Di dunia rock modern, terutama pada genre progresif rock, memasukkan unsur musik klasik dan suara-suara dari alat musik tradisional merupakan hal wajib.

“Progresif rock adalah gaya musik yang dimulai dari The Beatles, di mana mereka mulai memasukkan aspek jazz dan musik klasik dan aspek dari budaya lain ke dalam musik rock. Band-band prog-rock hanya menjalankan apa yang telah Beatles mulai. Mereka menantang tradisi musik dan menantang cara umum saat itu,” komentar John Frusciante, gitaris Red Hot Chilli Peppers.

Puluhan tahun setelah eksperimen yang dilakukan Beatles, band-band rock modern meneruskan dan mengembangkannya. Contoh terdekat adalah Dream Theater.

“Aku lebih berhubungan dengan musik Beatles seperti melodi dan hal lainnya,” kata John Petrucci, gitaris Dream Theater.

Kisah lainnya dari George Harrison adalah tentang kedekatannya dengan para personel Led Zeppelin. Diam-diam, George adalah pengagum Robert Plant Cs. George tercatat pernah menonton konser Zeppelin di Tampa, Florida pada 5 Mei 1973.

Meski mengaku menjadi pengagumnya, George ternyata pernah melontarkan kritik terhadap Zeppelin yang tak pernah menulis lagu balada. “Kalian tidak pernah membawakan lagu balada,” kata George saat itu.

Kritik itu pun langsung dijawab Robert Plant dengan menulis “The Rain Song” yang akhirnya menjadi salah satu lagu terbaik Led Zeppelin. “Kalian akan lihat saya bahkan mengutip ‘Something’ di dua chord pertama lagu ini,” ucapnya.

Something merupakan salah satu hits terbesar The Beatles yang dirilis dalam album Abbey Road pada 1969. Mengenai lagu ini, Frank Sinatra pernah memberikan komentarnya.

“Something adalah lagu terbaik Beatles yang diciptakan Lennon dan McCartney,” katanya. Ternyata Sinatra tak menyadari bahwa yang menulis lagu itu adalah George Harrison, si ‘anak bawang’ The Beatles.

Selama bersama The Beatles, meski pada awalnya sempat diremehkan, tetapi George berhasil mencetak beberapa hits besar seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Here Come The Sun”, dan tentu saja “Something”.

Setelah Beatles bubar pada 1970, sebagaimana anggota lainnya, ia memilih bersolo karir dan sukses melahirkan hits “My Sweet Lord”, “All Things Must Pass”, dan sejumlah lagu lainnya.

Ia juga tercatat menjadi musisi pertama di dunia yang menyelenggarakan konser amal untuk Bangladesh yang sedang dilanda perang dan kemiskinan. Konser digelar di Madison Square Garden, New York pada 1971. Konser itu juga dihadiri dua sahabat George: Bob Dylan dan Eric Clapton.

Sebagai pemain gitar, George memang bukan gitaris dengan karakter layaknya Clapton atau Jimi Hendrix. Namun, melalui riff dan melodi yang ia ciptakan, George dianggap sebagai pelengkap yang sempurna untuk The Beatles.

George meninggal pada 29 November 2001 setelah menderita kanker paru-paru. Ia meninggal dunia dalam agama yang ia yakini kebenarannya: Hindu. Abunya disebar di Sungai Gangga, India.

Dalam satu catatan, ia pernah mengatakan, “Melalui Hinduisme, saya merasa jadi orang yang lebih baik. Saya menjadi lebih bahagia dan lebih bahagia. Saya sekarang merasakan saya tidak terbatas dan saya lebih terkendali.”

Begitulah George Harrison. Ia dikenal sebagai Beatle yang pendiam di antara John Lennon, Paul McCartney, dan Ringo Starr. Ia adalah bintang rock yang menyukai ketenangan sekaligus kedamaian.

Baca Juga: Bawakan “Kirana” dan “Separuh Nafas”, Dewa 19 Disambut Standing Ovation

Baca Juga: Solois Banua Rizki Novdiandi Bicara Single Perdananya “Teman Hidupku”

Editor: Puja Mandela

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Hari Bahagia

Musik

Terinspirasi Kisah Asmara, Berikut Lirik Lagu Hari Bahagia dari Atta dan Aurel
apahabar.com

Musik

Kisruh RUU Permusikan, Ini Sikap Musisi Tanbu
Dayana lagu

Musik

Setelah Kehilangan Followers, Lagu Dayana Panen Dislike
apahabar.com

Musik

Cantiknya Bebi Silvana, Calon Istri Baru Opick
apahabar.com

Musik

Seperempat Abad Gigi Siapkan Konser Tunggal di Yogyakarta
Guns N' Roses

Hiburan

Lagu Ikonik di Bulan November, Berikut Fakta November Rain Guns N’ Roses

Musik

Charlie Watts Drummer The Rolling Stones Meninggal Dunia
apahabar.com

Musik

4 Bulan Menghilang karena Pandemi, Bigcoustic Kini Manggung Lagi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com