Kecewa, Pengembang Pelaihari City Mall Ngadu ke Menkopolhukam Jalan Berlubang Km 88 Tapin Renggut Nyawa Pemuda HST Ortu Oke, Belajar Tatap Muka di SMP Banjarmasin Dimulai November Menhub Datang, Pengembangan Runaway Bandara Teweh Dibahas Kronologi Lengkap Petaka Lubang Maut di Tapin yang Tewaskan Pemuda HST

Islam Sangat Vital Terhadap Lingkungan, Santri Jangan Abai

- Apahabar.com Minggu, 23 Februari 2020 - 14:05 WIB

Islam Sangat Vital Terhadap Lingkungan, Santri Jangan Abai

Kegiatan Halaqoh Lingkungan di RTH Alun-alun Ratu Zalecha Martapura. Foto-apahabar.com/hendra

apahabar.com, MARTAPURA – Direktur Eksekutif WALHI Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono memuji langkah para satri Ponpes Darussalam Martapura telah membuka dialog soal sampah dan limbah, saat peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), pada Jumat (21/2) tadi.

Menurutnya, para santri, sebagai cikal bakal pendakwah, adalah agen syiar Islam masa depan, jangan sampai mengesampingkan tentang lingkungan.

“Kita dalam Islam itu kan diajarkan yang namanya hablum minallah wa hablum minannas (hubungan kepada Allah dan hubungan sesama manusia), bagaimana kita mau nyaman ibadah kalau lingkungan kita rusak karena kita sendiri abai,” jelas Kisworo.

Baca Juga: Bus Trans Banjarmasin Minim Peminat, Pemkot Dinilai Kurang Sosialisasi

Apalagi, jelas Kisworo, umat Islam itu sangat vital dengan air. Misalnya untuk berwudhu, mandi wajib, mencuci pakaian, dan lainnya. “Coba bayangkan jika air tercemar gara-gara limbah?” ucap Kisworo.

Ia menilai, para santri jangan abai terhadap lingkunan, dan harus memahami dampak buruknya. Ia berharap, dialog-dialog seperti ini jangan terhenti sampai di sini saja.

“Buat lah agenda rutinan, misal aksi Jumatan, menggelar dialog terkait isu-isu lingkungan dalam perspektif Islam,” jelas Kisworo.

Sementara Ustaz Khairullah Zain menjelaskan, sejak dahulu, ulama-ulama fikih sudah mengisyaratkan tentang bagaimana menjaga lingkungan, kendati tidak secara eksplisit.

“Sejatinya Fiqhul Bi’ah (fikih lingkungan) sudah banyak tersirat dalam fatwa-fatwa ulama klasik. Misalnya, makruh membasuh anggota wudhu lebih dari tiga kali. Ini mengisyaratkan agar kita menghemat air,” ujar ustaz kerap disapa Zain.

Menurutnya, karena tidak ada tekstualnya, maka mengeksplorasi Fiqhul Bi’ah dari kitab klasik harus dengan nalar Maqashidusy Syar’iah.

Maqashidusy Syar’iah adalah tujuan dari ditetapkan syariat, yaitu melindungi agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.

Lima komponen yang biasa dikenal dengan Kulliyatul Khamsah ini, disimpulkan dengan konsep Maslahat. “Jadi Maqashidusy Syar’iah sejatinya adalah untuk mencapai maslahat,” tutur Zain.

“Namun, Kulliyatul Khamsah tersebut tidak akan bisa dicapai kecuali dengan memelihara lingkungan. Karenanya, maslahat yang pertama adalah menjaga lingkungan dari kerusakan,” tegas Ketua Amanna Community.

Qoidah Fikih menegaskan “Dar’ul Mafasid Muqaddam ‘Ala Jalbil Mashalih”. Maksudnya, yang utama adalah mencegah kerusakan ketimbang mengambil kemaslahatan.

Ia mencontohkan, misalnya penambangan untuk pembangunan, namun ketika penambangan dilakukan tapi kemudian menyebabkan banjir, hal ini sudah bertolak belakang dengan konsep Dar’ul Mafasid Muqaddam ‘Ala Jalbil Mashalih.

Belakangan, tambahnya lagi, baru banyak ulama yang menulis dan berbicara tentang Fikih Lingkungan. Karena kondisi saat ini sangat membutuhkan hal tersebut.

Sementara Gusti Marhusin, mengingatkan para santri supaya mengajak yang lainnya berprilaku mengurangi sampah plastik, dimulai dari hal-hal kecil.

“Hal-hal itu seperi mengurangi pemakaian plastik, misal jika kita ke pasar biasanya dengan tangan kosong kemudian pulangnya banyak tentengan plastik, nah sekarang mulai lah dirubah dengan membawa wadah sendiri,” jelas Marhusin.

Ia menceritakan, prilaku orang dahulu, patut kembali dicontoh, seperti ketika ke pasar selalu membawa butah atau tas purun jinjing. Kemudian ketika acara resepsi atau selamatan selalu menggunakan gelas kaca.

“Seiring berkembangnya zaman, prilaku menggunakan bahan plastik semakin bertambah. Saat ini, Indonesia menjadi nomor dua penyumbang sampah plastik terbanyak ke laut di dunia,” ungkap Lurah Sekumpul ini.

“Memang sampah ini terkesan kecil, namun jika diabaikan, dampaknya besar. Sudah berapa banyak banjir terjadi lantaran sampah,” sambung suami Gusti Meika ini.

Ia mengimbau, prilaku peduli sampah ini mesti dimulai dari generasi milenial, khususnya para santri. “Ibda binnafsik, mulailah dari sendiri, kemudian keluarga, hingga tetangga sampai RT dan satu desa,” imbaunya.

Pada acara Halaqoh Lingkungan yang digelar IPNU dan IPPNU Komisariat Darussalam ini, dihadiri sekitar 50 santri, yang bertempat di RTH Alun-alun Ratu Zalecha Martapura, dengan narasumber dari WALHI, AMANNA Community, dan LPBI PWNU Kalsel.

Baca Juga: Tetap Jaga Kesehatan, Robot Canggih Masak Makanan untuk Dokter dan Paramedis

Reporter: Hendra Lianor
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Demo Tolak Omnibus Law Jilid II di Banjarmasin, Simak Penjelasan Gugus Tugas
apahabar.com

Kalsel

Pemprov Kalsel Launching Dokumen Rencana Aksi Daerah
apahabar.com

Kalsel

Budaya Ngopi di Kotabaru; dari Milenial sampai Pejabat Hobi Nongkrong di Warkopdar
apahabar.com

Kalsel

Bocoran Lokasi Lahan Calon Ibukota Baru di Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Dinsos Berharap Ketua RT Mampu Jadi Filter Pendataan Warga Miskin
apahabar.com

Kalsel

Banjarmasin Dukung Pegunungan Meratus Masuk GeoparkĀ 
apahabar.com

Kalsel

Heboh Duel Maut di Sungai Lulut, Ipar Tewas Bersimbah Darah
apahabar.com

Kalsel

Ribuan Peserta UNBK SMP Numpang di SMA
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com