Adaro-PAMA Cerai, Bupati Tabalong Turun Tangan Positif Covid-19, Mantan Wagub Kalsel Belum Divaksinasi Bos Adaro Mangkir Rapat, Anggota DPRD Kalsel Mencak-Mencak di Tabalong Merasa Dipermainkan, Puluhan Penyapu Jalan di Banjarmasin Kembali Geruduk Balai Kota  Listrik di Kalsel-Teng Mendadak Padam, PLN Beber Biang Keroknya

Kisah Juraij dan Terkabulnya Doa Jelek Orangtuanya

- Apahabar.com Minggu, 9 Februari 2020 - 06:00 WIB

Kisah Juraij dan Terkabulnya Doa Jelek Orangtuanya

Ilustrasi berdoa. Foto: Net

apahabar.com, JAKARTA – Kedudukan orangtua dalam Islam amatlah mulia. Bahkan keridhoan Allah terletak pada keridhoan orangtua. Sampai-sampai, doa dari lisan orangtua pasti akan dikabulkan oleh Allah.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. Ada tiga doa yang pasti terkabul : (1) Doa buruk orangtua kepada anaknya. (2) Doanya musafir. (3) Doanya orang yang terdzalimi. (HR. Tirmidzi, dinilai Hasan oleh Syaikh Albani)

Terkait mustajabnya doa orangtua, Nabi mengisahkan seorang anak bernama Juraij yang tertimpa fitnah mengerikan akibat doa jelek dari orangtuanya. Seperti apa kisahnya?

Seperti dikutip dari muslimobsession.com, Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali Isa bin Maryam dan (bayi di masa) Juraij” Lalu ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah siapakah Juraij?” Beliau lalu bersabda, ”Juraij adalah seorang rahib yang berdiam diri pada rumah peribadatannya (yang terletak di dataran tinggi/gunung). Terdapat seorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya dan seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya).

(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan salatku?” Rupanya dia mengutamakan salatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya. Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau salatku?” Rupanya dia mengutamakan salatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau salatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan salatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur.” Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya.

Wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam keadaan telah melahirkan seorang anak. Raja itu bertanya kepada wanita tersebut, ”Hasil dari (hubungan dengan) siapa (anak ini)?” “Dari Juraij”, jawab wanita itu. Raja lalu bertanya lagi, “Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?” “Benar”, jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.”

Orang-orang lalu menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali lalu membawanya menghadap raja. Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara manusia.

Raja lalu bertanya padanya, “Siapa ini menurutmu?” Juraij balik bertanya, “Siapa yang engkau maksud?” Raja berkata, “Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.” Juraij bertanya, “Apakah engkau telah berkata begitu?” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lalu bertanya, ”Di mana bayi itu?” Orang-orang lalu menjawab, “(Itu) di pangkuan (ibu)nya.” Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu, ”Siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi.”

Kontan sang raja berkata, “Apakah perlu kami bangun kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas?” Juraij menjawab, “Tidak perlu”. “Ataukah dari perak?” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?”, tanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah seperti sedia kala.” Raja lalu bertanya, “Mengapa engkau tersenyum?” Juraij menjawab, “(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal itu kepada mereka.”

(Disebutkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod) [Dikeluarkan pula oleh Bukhari: 60-Kitab Al Anbiyaa, 48-Bab ”Wadzkur fil kitabi Maryam”. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 7-8].(Mo)

Baca Juga: Istirahat di Siang Hari, Umar bin Abdul Aziz Ditegur Putranya Sendiri

Baca Juga: Tanggung Jawab Menjaga Lingkungan Hidup dalam Islam

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Sirah

Kenang Tuan Guru Zainal Ilmi, Bupati Banjar Ungkap ‘Kesaktian’ Beliau di Masa Perjuangan
apahabar.com

Religi

Ini Bukti Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Sayidina Abu Bakar Tidak Berkonflik
apahabar.com

Sirah

Berikut 7 Golongan yang Akan Mendapat Payung di Padang Mahsyar
apahabar.com

Sirah

Mengenal Tiga Bangunan Peninggalan Dinasti Al-Ayyubiyah yang Tersohor
apahabar.com

Religi

Begini Anjuran Nabi untuk Mengikat ‘Keharmonisan’
apahabar.com

Sirah

Syekh Muhammad Kasyful Anwar dan Keistimewaan Beliau yang Melegenda
apahabar.com

Sirah

Mengetahui Guru Sekumpul ke RS di Singapura, 3 Ulama Sepuh Mekkah dan Yaman Gelar Shalat Hajat
apahabar.com

Sirah

Detik-Detik Penaklukkan Konstantinopel di Tangan Umat Islam
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com