Hitungan Hari, Kasus Covid-19 di Banjarmasin Diprediksi Tembus 300 Kasus PSBB Berakhir Esok, Banjarbaru Siap Menuju ‘New Normal’ via PKM Banjarmasin ‘New Normal’: Wali Kota Tunggu Pusat , Pakar Tak Sepakat Puncak Covid-19 di Kalsel, Jutaan Warga Diprediksi Terjangkit Tambah Satu Lagi, Balita di Kotabaru Positif Covid-19




Home Hiburan

Rabu, 12 Februari 2020 - 13:10 WIB

NYANYUK: Representasi Kegilaan Lupi Anderiani

Rizky p - Apahabar.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarbaru, bakal menjadi saksi sejarah permusikan tanah air.

Sebab, untuk pertama kalinya digelar ujian karya penciptaan musik pascasarjana ISI Surakarta pada Sabtu (15/02) di Museum Lambung Mangkurat, dan Mess L Banjarbaru.

Mahasiswa yang berkesempatan untuk unjuk gelar karya ini adalah Lupi Anderiani sebagai upaya menyelesaikan studi S2-nya di Pascasarjana ISI Surkarta. Karya yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini berangkat dari tema ‘Nyanyuk’.

Tema nyanyuk ini diangkat dari fenomena-fenomona yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Seperti, berita tentang peristiwa pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, korupsi dan berbagai tindak kriminal dan bencana sosial-budaya terus muncul di koran, televisi dan internet.

Hal ini menunjukkan banyak orang yang terganggu kejiwaannya: stress, mudah marah, tidak bisa mengendalikan diri, tidak mampu melakukan tindakan yang baik, tidak memikirkan kehidupan jangka panjang.

Masyarakat juga dijejali banyak berita bohong (hoaks) yang bisa menggiring pendapat, menimbulkan kebingungan dan keresahan.

Banyak orang tidak bisa membedakan berita yang benar dan tidak benar. Faktor ekonomi menjadi pendorong utama berbagai aktifitas masyarakat modern.

Permasalahan ekonomi yang dihadapi masyarakat menggerus nilai-nilai sosial-budaya yang sudah dibangun lama hingga terjadi krisis nilai dan identitas.

Dalam bahasa Banjar, gambaran situasi yang kacau dan membingungkan ini diungkapkan dengan istilah ‘Nyanyuk’. ‘Nyanyuk’ ini merupakan gejala psikologis akibat banyak persoalan yang belum mendapatkan jalan keluar sehingga menjadi beban pikiran, menimbulkan kebingungan.

Baca juga :  Tahun Baru di Batfest 2019 Disambut Pesta Kembang Api dan "Cendol Dawet"

Orang yang sedang ‘nyanyuk’ biasanya ditandai dengan ekspresi wajah linglung, meranyau (berteriak-teriak tidak karuan), dan pelupa (misalnya mencari barang yang sedang dipegang).

‘Nyanyuk’ menggambarkan kejiwaan seseorang yang dipengaruhi oleh situasi sosial di sekitarnya yang semrawut.

Keseluruhan karya dalam pertunjukan ini bertolak dari fenomena psikologis demikian.

Gambaran ‘Nyanyuk’ yang kacau, penuh persaingan, saling tumpang-tindih justru menjadi momentum untuk melakukan kontemplasi, merenung, mengevaluasi, dan merencanakan karya menyambut masa depan.

Pengkarya menggunakan gamalan Banjar sebagai media ekspresi sekaligus pijakan atas semua karya.

Gamalan Banjar menjadi sumber bunyi, atau hanya diambil idiom-idiom dan teknik bermainnya. Nada salindru, idiom, teknik bermain tradisi gamalan Banjar ditransformasikan atau dimainkan dengan suara vokal atau alat musik lain.

Teknik permainan saron dalam gamalan tradisi Banjar yang disebut saluk diambil untuk menggambarkan situasi nyanyuk yang kacau, penuh persaingan, saling tumpang-tindih.

Teknik saluk yang biasanya dimainkan dengan saron dalam karya ini juga dimainkan dengan vokal dan alat-alat musik lain. Alat-alat musik lain di luar gamalan Banjar juga dihadirkan untuk menggambarkan urbanisasi modern yang tidak hanya melibatkan manusia, melainkan juga gagasan, teknologi, budaya.

Masyarakat modern pada umumnya sedang mengalami kondisi nyanyuk akibat krisis nilai dan identitas budaya. Ada sikap keterbukaan yang ditunjukkan melalui karya seniman-seniman gamelan di berbagai daerah.

Baca juga :  Pemko Banjarmasin Optimistis 50 Persen Pelaku UMKM Terdigitalisasi 2024 Mendatang

Gamelan ada sejak ratusan tahun lalu dan masih terus bertahan karena beradaptasi dengan situasi di setiap zaman. Gelar karya penciptaan musik ini terbuka untuk umum sehingga siapa saja bisa datang menyaksikannya dimulai dari pukul 20.00 sampai selesai.

Selain presetasi karya ‘Nyanyuk’, pada gelaran kali ini juga Kita akan melihat kumpulan empu-empu gamalan Banjar yang ada di Barikin memainkan lagu-lagu klasik gamalan Banjar. Kemudian juga akan dihibur oleh Orkes Moral Sinar Bahagia bersama Julak Larau.

Sebagai sebuah bentuk nyata kerja sama dalam upaya pemajuan kebudayaan, gelar karya Tugas akhir ‘Nyanyuk’ ini mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti HSN bergerak, Pemerintah Kota Banjarbaru, Museum Lambung Mangkurat Propinsi Kalimantan Selatan, Akademi Bangku Panjang Mingguraya, Lima Serangkai Production, UPTD Taman Budaya Propinsi Kalimantan Selatan, Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP ULM, Prodi Pendidikan Seni Tari STKIP PGRI Banjarmasin, Kasultanan Banjar, Restu Guru, Semangat Muda, Sanggar Ading Bastari, Rumah Banjarsari Solo (Jawa Tengah), Abib Igal Dance Project, NSA PM. Tata kelola Pertunjukan ini dimanagement oleh UPI pang. (*)

Baca Juga: Saat Sendratari Kolosal Budaya Banjar Lamut Hibur Ribuan Pasang Mata

Baca Juga: STKIP PGRI Banjarmasin Persembahkan Sendratari Kolosal Bujang Maluala

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Fariz Fadhillah

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hiburan

Manggung di Banjarmasin, Ari Lasso Ajak Cintai Pasangan Sepenuh Hati
apahabar.com

Hiburan

Terjatuh Dari Panggung, Rami Malek Luka Serius
Lenggak-lenggok Siswi MAN 1 Tapin di Ujian Seni Budaya Pukau Pengunjung Siring Rantau

Hiburan

Lenggak-lenggok Siswi MAN 1 Tapin di Ujian Seni Budaya Pukau Pengunjung Siring Rantau
apahabar.com

Hiburan

Ibunya Wafat, Mikha Tambayong Batal Tampil di Java Jazz Festival 2019
apahabar.com

Hiburan

Novel ‘Merdeka Sejak Hati’ Segera Sapa Pembaca
apahabar.com

Hiburan

Ramai, Silang Pendapat Tentang UU Permusikan
apahabar.com

Hiburan

Jangan Lewatkan! Tribute Sheila On 7 di Big Coffee Containers Batulicin Malam Ini
apahabar.com

Hiburan

Siap-Siap, Mama Lita Bakal Buka Tudung di Banjarbaru