Hasil Liga Champions, Tanpa Ronaldo Juventus Ditekuk Barcelona, Messi Cetak Gol, Skor Akhir 2-0 Alasan Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin Terancam Batal Beredar Video 62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah Saat Demo Anti UU Omnibus Law, Sosok Pelaku Terekam? Video Detik-detik Buaya Raksasa Diangkat dari Sungai Kayubesi Babel, Diyakini Warga Sebagai ‘Siluman’ Kasus Pembunuhan Istri Muda Pembakal di HST Inkrah, Jaksa Eksekusi Terpidana ke Martapura

Salat di Atas Perahu, Bagaimana Menghadap Kiblatnya?

- Apahabar.com Minggu, 23 Februari 2020 - 06:00 WIB

Salat di Atas Perahu, Bagaimana Menghadap Kiblatnya?

Ilustrasi salat di atas kapal. Foto: aksi.id

apahabar.com, JAKARTA – Salat fardhu itu harus dikerjakan Muslim mukallaf di mana saja berada baik di darat atau di laut.

Menurut buku Islam Sehari-Hari, karya KH Abdurrahman Nafis, salat di tengah laut di atas perahu jika memenuhi syarat dan rukun salatnya tetap sah. Karena sahabat Jabir bin Abdillah dan Abu Said pernah melakukan salat di atas perahu.

Di antara syarat sahnya salat adalah ‘menghadap kiblat’. Jika di atas perahu di tengah laut dapat melaksanakan salat dengan tetap menghadap kiblat mulai takbir sampai salam karena perahu sedang menghadap ke satu arah, maka para ulama’ fiqih sepakat itu sudah sah dan tidak harus diulangi lagi ketika sampai di darat.

Tetapi kalau ketika salat tidak sepenuhnya dapat menghadap kiblat dari sejak takbir sampai salam, umpama di tengah salat perahunya berputar arah sehingga melenceng dari arah kiblat, maka para ulama fiqih berbeda pendapat, menurut Imam Syafii, shalatnya harus diulang (i’âdah) atau qadha kalau nanti sudah sampai di darat. Tetapi menurut Imam Maliki, salatnya sah dan tidak harus diulang atau diqadha’.

Syekh Muhammad bin Ali al-Syanawani al-Syafii menjelaskan dalam kitab Hâsyiah alâ Mukhtashar ibni Abi Jamroh li al-Bukhâri halaman 46, “Dan tidak harus i’âdah (mengulang) orang yang salat dalam keadaan duduk di atas perahu, jika salat itu menghadap kiblat. Maka jika kesulitan (menghadap kiblat) karena perahu berputar, bolehlah salat menghadap ke mana arah perahu, dan ia wajib mengulang menurut madzhab kita (Syafii), berbeda dengan pendapat Imam Malik (tidak harus mengulang)”.

Dengan demikian, jika sedang berada di atas perahu yang berputar dan berpaling dari arah kiblat, kalau tidak ada kesulitan sebaiknya lebih hati-hati hendaknya diulang lagi nanti setelah kembali ke darat, sesuai pendapat Imam Syafii, tetapi kalau kesulitan karena lamanya waktu dan banyaknya shalat yang dikerjakan boleh tidak diulang dan sah sesuai pendapat Imam Maliki. Alangkah baiknya kalau bisa mengusahakan ketika shalat selalu menghadap kiblat sejak takbir sampai salam.(Rep)

Baca Juga: Jangan Terlalu Benci dan Teramat Cinta, Ini Pesan Rasulullah

Baca Juga: Nabi Muhammad Menganjurkan Hemat Air Saat Wudhu

Baca Juga: 6 Nama Bayi Laki-Laki yang Mengandung 2 Nama yang Paling Dicintai Allah

Baca Juga: Amalan-Amalan Bermuatan Sedekah Menurut Rasulullah SAW

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Ini Keistimewaan Lailatul Qadar
apahabar.com

Hikmah

Begini Adab Sebelum Salat Jumat
apahabar.com

Hikmah

Tidur Tanda Kekuasaan Allah, Berikut Dalilnya dalam Alquran
apahabar.com

Hikmah

Mimpi Rasulullah dan Kehebatan Angkatan Laut Muslim
apahabar.com

Hikmah

Ketika Nabi Muhammad Diolok-olok
apahabar.com

Hikmah

Mimpi Rasulullah, Ahli Maksiat Ini Bertobat
apahabar.com

Hikmah

Ingin Punya Anak? Berikut Sunnah Nabi Ibrahim dan Nabi Zakariya
apahabar.com

Hikmah

Dua Kalimat Zikir yang Berat Timbangan Amalnya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com