BREAKING NEWS Legenda Barito Putera Yusuf Luluporo Meninggal Dunia di Usia 47 Tahun Geledah Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, KPK Amankan Uang dan Dokumen Waspada Penularan Covid-19 di Libur Panjang, Disdik Banjarmasin Imbau Pelajari Patuhi Prokes Bikin Haru, Simak Curahan Mama Lita MasterChef Indonesia Pasca-ditinggal Suami Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah

Sejarah Bertaburan Muslimah Cerdik Pandai, Fatimah Contohnya

- Apahabar.com Minggu, 2 Februari 2020 - 05:30 WIB

Sejarah Bertaburan Muslimah Cerdik Pandai, Fatimah Contohnya

Ilustrasi muslimah. Foto-Shutterstock

apahabar.com, JAKARTA – Kali ini kisah menarik berasal dari seorang Muslimah ahli fikih bernama Fatimah binti Yahya.

Kisah ini diceritakan Bintus Sabil dalam bukunya yang berjudul Wanita Muslimah yang Mengajari Suaminya.

Fatimah binti Yahya adalah seorang mujtahidah abad ke-9. Mujtahidah (bentuk feminin dari mujtahid) adalah seorang ulama yang cakap yang dapat membuat deduksi (menarik kesimpulan) dari sumber-sumber hukum Islam.

Pada gilirannya, mereka menggunakan kesimpulan ini untuk memberikan hukum sesuai dengan keadaan dan kebutuhan seseorang dari masyarakat.

Bagi orang yang diberi gelar mujtahidah harus memiliki ilmu ijma para sahabat dan yang menyelisihinya, para pengikut mereka (tabi’in dan tabi’ut tabi’in), dan ulama-ulama fikih dan mujtahid yang terkemuka.

Karenanya untuk menjadi seorang mujtahidah bukan perkara yang mudah, namun Fatimah binti Yahya pantas mendapatkannya. Sedemikian ilmunya, sehingga ayahnya, seorang ulama yang juga memiliki banyak murid , ditanya Fatimah berkenaan dengan beberapa perkara fikih.

Ulama besar asy-Syaukani berkata mengenai dirinya: “Dia sangat dikenal karena ilmunya. Dia telah mendebat ayahnya dalam beberapa perkara fikih.

Ayahnya, sang imam, membenarkan bahwa Fatimah melakukan ijtihad dalam menarik kesimpulan hukum.

Hal ini menunjukkan akan kelebihan ilmunya, karena sang imam tidak akan berkata demikian kecuali bagi orang yang pantas mendapatkannya.” (Asy-Syaukani, al-Badr at-Tali, II, 24.)

Ayahnya menikahkannya dengan seorang ulama Al-Mutahar ibn Muhammad Sulaiman ibn Muhammad (wafat tahun 879H).

Al-Mutahar sangat beruntung karena kapanpun dia bimbang dalam suatu perkara, dia akan merujuk kepada istrinya untuk menilai perkara fikih yang sulit.

Bahkan di tengah-tengah para muridnya, ketika dia terbentur pada sebuah perkara yang rumit, dia akan bangkit lalu menuju ke balik tirai, dimana sang mujtahidah duduk di baliknya.

Ketika dia kembali dengan jawaban, murid-muridnya berkata: “Ini bukan darimu, melainkan dari orang yang berada di balik tirai.” (al-Hibasyi, Mu’jam an-Nisa al-Yamaniyah, 149).(Rep)

Baca Juga: Mualaf Dosmauli S, Dulu Benci Islam Kini Pejuang Agama

Baca Juga: Ketika Pahala Zikir Setimpal dengan Haji, Umrah, dan Jihad

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Setelah Mualaf, Ini yang Dirasakan Deddy Corbuzier
apahabar.com

Hikmah

Bekam, Metode Kesehatan Warisan Rasulullah
apahabar.com

Hikmah

Vanessa Angel Sekarang Kenakan Gamis dan Berhijab
apahabar.com

Hikmah

Ada 5 Keutamaan Membayar Zakat
apahabar.com

Hikmah

Jintan Hitam dan Pembuktian Medis Sabda Nabi Muhammad SAW
apahabar.com

Hikmah

12 Keistimewaan Salat Malam
apahabar.com

Hikmah

Tiga Tahap Alquran Diturunkan Allah SWT
apahabar,com

Hikmah

Amalan-Amalan Bermuatan Sedekah Menurut Rasulullah SAW
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com