Biang Kebakaran Hebat di Patmaraga Kotabaru Mulai Terungkap Nasib Terkini 505 Warga Korban Kebakaran di Patramarga Kotabaru Hari Ini, 30 Warga Balangan Dominasi Kasus Positif Covid-19 di Kalsel [FOTO] Penampakan Ratusan Rumah yang Terbakar di Patmaraga Kotabaru Kena PHP, Buruh Tebar Ancaman ke Wakil Rakyat Kalsel di Senayan

Wabah Virus Corona, Ekonom: Jadi Peluang Indonesia Benahi Industri Manufuktur

- Apahabar.com Sabtu, 29 Februari 2020 - 21:13 WIB

Wabah Virus Corona, Ekonom: Jadi Peluang Indonesia Benahi Industri Manufuktur

Kepala Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede saat memberikan paparan dalam pelatihan wartawan di Bandung, Sabtu (29/02). Foto-Antara/Satyagraha

apahabar.com, BANDUNG – Kepala Ekonom PT Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan penyebaran virus Corona yang makin meluas dapat menjadi peluang untuk membenahi ekonomi dalam negeri khususnya industri manufaktur.

“Kita perlu industri manufaktur agar ekonomi dapat mendekati potensinya,” kata Josua dalam pelatihan wartawan di Bandung seperti dilansir Antara, Sabtu (29/02).

Josua mengatakan industri baru yang berpeluang muncul adalah sektor manufaktur yang dapat menyediakan pengolahan bahan mentah ke barang jadi yang selama ini masih impor.

“Kita bahan baku dasar ada, tapi bahan mentah ke bahan jadi itu prosesnya missing, ini bisa dijawab dengan manufaktur,” katanya.

Oleh karena itu, tambah dia, pemerintah dapat terus membenahi industri pengolahan yang selama ini sudah menjadi prioritas yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik dan kimia.

“PMA dan PMDN seharusnya diarahkan ke sektor manufaktur atau sekunder. Selama ini kita liat trennya dalam tiga-lima tahun, PMA dan PMDN ke sektor yang tersier (jasa), artinya tidak ada investasi,” katanya.

Ia juga mengharapkan adanya Omnibus Law bisa menjawab persoalan kemudahan berusaha yang masih berbelit dan membuat pelaku usaha ragu untuk berbisnis.

“Dengan proses perizinan yang lebih cepat, persepsi investor juga lebih baik, maka ini bisa diarahkan untuk memperkuat manufaktur,” ujar Josua.

Selain itu, regulasi itu juga dapat membantu peningkatan kualitas sumber daya manusia dan memperbaiki sistem insentif bagi tenaga kerja.

Dengan berbagai pembenahan tersebut, ia menyakini industri pengolahan dapat tumbuh diatas lima persen dan membantu penguatan kinerja perekonomian.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perlambatan industri pengolahan sepanjang 2019 telah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,02 persen.

Pertumbuhan industri pada 2019 sebesar 3,8 persen turun dibandingkan periode sama 2018 sebesar 4,27 persen karena terpengaruh oleh pengurangan impor bahan baku, terutama barang modal jenis mesin.

Peran industri pengolahan sangat besar kepada perekonomian karena merupakan penyumbang terbesar struktur Produk Domestik Bruto (PDB) yaitu mencapai 19,7 persen pada 2019.(Ant)

Baca Juga: Pimpinan Dewan Minta Kemendagri Bentuk Tim Khusus Corona

Baca Juga: Corona Jadi Judul Lagu Dangdut Remix, Netizen: WHO Menangis Mendengar Ini

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Harga Emas Antam Hari Ini Tembus Rp1.022.000 per Gram
apahabar.com

Ekbis

AS-China Tak Akur Lagi, Rupiah Rawan Terkoreksi
apahabar.com

Ekbis

HUT Ke-75 RI, Telkomsel Percepat Akselerasi Negeri
apahabar.com

Ekbis

OJK Regional IX Kalimantan Turun Tangan Awasi Perusahaan Asuransi
apahabar.com

Ekbis

Empat Jawara Dunia Games Campus League Banjarmasin
apahabar.com

Ekbis

Siasat Pelindo III Antisipasi Kenaikan Arus Peti Kemas
apahabar.com

Ekbis

Sejumlah Kebutuhan Pokok di Singkawang Naik Jelang Tutup Tahun
apahabar.com

Ekbis

Indonesia Berhasil Selesaikan Survei Seismik Terpanjang di Asia Pasifik
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com