Resmi, Palangka Raya Belum Mau Berlakukan New Normal Susul Tanbu, Giliran 3 Pasien Tapin Sembuh dari Covid-19 Cerita Tukang Cukur Banjarmasin Keluhkan Protokol Covid-19 Pemuda Mandastana Genapi 4 Pasien Sembuh Covid-19 di Batola Kebakaran Jalan Manggis, Los Bedakan Diduga Sengaja Dibakar




Home Sirah

Senin, 9 Maret 2020 - 06:15 WIB

Awal Munculnya Istilah Tarawih

Triaji Nazulmi - Apahabar.com

Ilustrasi salat. Foto-iStock

Ilustrasi salat. Foto-iStock

apahabar.com, JAKARTA – Salat tarawih merupakan ibadah pertama yang dikerjakan umat Muslim mengawali Ramadan. Awal-awal Ramadan masjid dan musala penuh oleh muslimin dan muslimat untuk berjamaah salat tarawih.

Tahukah bahwa istilah tarawih tidak dikenal oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Lalu siapa yang mempopulerkan istilah taraweh ini?

Baca Juga: Di Wadi Ranuna, Rasulullah Pertama Kali Salat Jumat

Ahmad Zarkasih Lc, menerangkan, bahwa istilah tarawih tidak dikenal oleh Nabi Muhammad SAW dan juga oleh sahabatnya Abu Bakr r.a.

“Karena memang dulu, Nabi Muhammad SAW menyebutnya bukan dengan istilah tarawih, tapi dengan nama Qiyam Ramadhan, yakni penghidupan atas malam Ramadan. Maksudnya ibadah guna menghidup malam-malam Ramadhan,” kata Zarkasih dalam pengantar bukunya Sejarah Tarawih seperti dikutip dari khazanah.republika.co.id.

Zarkasih menuturkan, bahwa kata tarawih itu adalah bentuk plural (jamak) dari single tarwiih. Dan tarwiih adalah bentuk mashdar kata sifat atau hasil kerja dari kata kerja Rawwaha Yurawwihu.

Munculnya nama tarawih, kata dia, sebagai istilah yang dipakai oleh banyak atau hampir seluruh ulama untuk menyebut salat sunah malam Ramadan ini bisa jadi ada beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah apa yang terjadi di masa Umar bin al-Khathtab menjabat.

Yakni dari riwayat Imam al-Marwadzi dalam kitabnya Kitab Qiyam Ramadhan. Dari al-Hasan rahimahullah. Umar r.a. memerintahkan Ubai untuk menjadi imam pada Qiyam Ramadan, dan mereka tidur di seperempat pertama malam. Lalu mengerjakan salat di 2/4 malam setelahnya. Dan selesai di 1/4 malam terakhir, mereka pun pulang dan sahur.

Baca juga :  Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi; Adanya Alam Bukti Adanya Tuhan

Mereka membaca 5 sampai 6 ayat pada setiap rakaat. Dan shalat dengan 18 rakaat yang salam setiap 2 rakaat, dan memberikan mereka istirahat sekedar berwudhu dan menunaikan hajat mereka.

“Menjadi mungkin istilah tarawih muncul di masa ini, karena dalam riwayat di atas, Ubai bin Ka’ab diperintah oleh Umar r.a. untuk menjadi imam Qiyam Ramadhan dengan bacaan 5 sampai 6 ayat di setiap rakaat. Dan setiap 2 rakaat, istirahat. Dengan redaksi riwayat seperti ini.

“Memberikan mereka istirahat sekedar berwudhu dan menunaikan hajat mereka.”

Bisa jadi, kata Zarkasih, itulah kenapa shalat ini disebut dengan istilah tarawih, karena pelaksaannya ketika zaman ini, imam memberikan banyak tarwiih, alias istirahat untuk para makmum di setiap selesai 2 rakaat. Itu berarti jika shalat dikerjakan dengan 18 rakaat, mereka mendapatkan 9 kali tarwiih.

Dan kalau shalat itu dikerjakan dengan 20 rakaat, maka tarwiih yang ada menjadi 10 kali tarwih. Apalagi jika ditambah dengan tiga rakaat witir yang formatnya dua rakaat plus satu. Itu berarti tarwih manjadi 12 kali.

Baca juga :  Soroti Tarawih Berjemaah di Tengah Pandemi Covid-19, PBNU: Satgas yang Turun Tangan

“Karena itulah salat ini dinamakan salat tarawih, karena di dalamnya imam memberikan banyak tarwiih alias istirahat di setiap selesai salam,” katanya.

Zarkasih menuturkan, jumlah rakaat salat tarawih yang dikerjakan saat i bercariasi. Dan hal ini juga ternyata tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Beberapa orang tahunya bahwa salat tarawih itu ada ketetapan jumlah rakaat yang teriwayat dari Nabi atau para sahabat.

Ada yang menyebut delapan rakaat, tidak sedikit yang mengatakan 20 rakaat atau bahkan ada yang lebih. Padahal tidak seperti itu juga pelaksanaan tarawih dari sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai saat kita sekarang ini. Zarkasih menuturkan, dalam perjalanannya, justru salat ini dilakukan dengan variasi jumlah rakaat yang beragam dan berbeda-beda.

Bahkan Nabi SAW kata Zarkasih, mengerjakan salat tarawih atau Qiyam Ramadan dengan jumlah rakaat yang bervariasi. Itulah sebabnya kenapa banyak ulama yang sampai saat ini masih berselisih tentang berapa jumlah raakaat tarawih yang benar dan sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi.

Sampai saat ini jumlah 20 rakaat lah yang menjadi masyhur dan disepakati oleh empat madzhab fiqih sebagai jumlah yang ideal untuk salat tarawih di malam Ramadan.(Rep)

Baca Juga: Nabi Muhammad Mendengar Suara Langkah Bilal di Surga

Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Sirah

Berikut 7 Golongan yang Akan Mendapat Payung di Padang Mahsyar
apahabar.com

Sirah

Mengenal Tiga Bangunan Peninggalan Dinasti Al-Ayyubiyah yang Tersohor
apahabar.com

Sirah

Sayidatina Zainab binti Jahsy, Istri Nabi yang Berjuluk “Si Panjang Tangan”
apahabar.com

Sirah

Begini Nasehat Abah Guru Sekumpul pada Soeharto
apahabar.com

Religi

Kesultanan Samudra Pasai Sebarkan Islam Lebih Dulu dari Turki Utsmani
apahabar.com

Religi

Sebelum Dikuasai Wahabi, Makkah Merayakan Maulid Nabi
apahabar.com

Sirah

Kenang Tuan Guru Zainal Ilmi, Bupati Banjar Ungkap ‘Kesaktian’ Beliau di Masa Perjuangan
apahabar.com

Sirah

Rahasia Rasulullah SAW Gemar Puasa Hari Senin