Rekonstruksi Pembunuhan Agus ‘Banteng’ di Pasar Kasbah Banjarmasin, Pelaku Utama Buron Melawan, Pembunuh Sadis di Warung Remang Bungur Didor Tim Serigala Tapin Pembunuhan Sadis di Warung Remang Bungur Tapin, Pelaku ‘Lagi Tinggi’ Buron, Ketua Nasdem Tanah Laut Orbawati Sempat Ngeluh Sakit Dibui Seumur Hidup, Gembong Sabu Banjarmasin Pindah ke Nusakambangan?

Berikut 5 Saran Imam Ghazali agar Terhindar dari Bahaya Lisan

- Apahabar.com Kamis, 19 Maret 2020 - 05:15 WIB

Berikut 5 Saran Imam Ghazali agar Terhindar dari Bahaya Lisan

Ilustrasi berzikir. Foto-Net

apahabar.com, JAKARTA – Lidah memang tak bertulang, demikian ungkapan yang lazim terdengar. Goresan yang disebabkan lidah sering kali lebih membekas ketimbang sayatan benda tajam sekalipun.

Maka, Islam menganjurkan lebih baik diam daripada berbicara tak tentu arah, apalagi berkata keburukan.
Imam Al Ghazali, dalam magnum opusnya Ihya Ulumiddin seperti dilansir khazanah.republika.co.id, memaparkan sejumlah kiat agar tak mudah terpeleset lidah. Kesemua langkah itu pada hakikatnya merupakan upaya pengendalian diri untuk mengatur dan mengelola pergerekan lidah dengan baik.

Langkah pertama, ungkap sosok kelahiran Thus 1058 M/150 H itu, jauhi perbincangan yang tak penting atau sekadar hura-hura.

Di antara kesalahan lidah, kala membicarakan hal-hal yang tak perlu. Rasulullah SAW pernah menegaskan, sebaik-baik keislaman seorang ialah saat ia meninggalkan perkara yang tak perlu. Termasuk, berbicara yang tidak membawa manfaat.

Suatu ketika, seperti dinukilkan Anas bin Malik RA, Rasulullah pernah mengomentari seorang sahabat yang terdiam kala sang ibu mengusap wajahnya. Sahabat itu, mengikatkan ke perut untuk menahan rasa lapar. Peristiwa itu terjadi ketika Perang Uhud. “Tidakkah engkau ketahui mengapa ia terdiam saja? Mungkin, ia tidak ingin berbicara yang tidak perlu atau ia menolak dari hal-hal yang membahayakan dirinya.”

Cara yang kedua, menurut tokoh yang bermazhab Syafi’i ini, jaga diri boros berbicara. Membicarakan apa pun dengan cara yang berlebihan pula. Biasanya, ini dilakukan untuk menarik perhatian seseorang. Padahal, topiknya sangat tidak penting dan tidak ada kaitannya dengan objek yang diajak bicara.

Tuntunan untuk tidak boros pembicaraan tersebut sesuai dengan seruan Alquran dalam surah an-Nisaa ayat ke-114. “Tidak ada kebaikan pada banyaknya suatu obrolan kecuali dalam perbincangan itu ada perintah untuk bersedekah, berbuat baik, atau perintah untuk mendamaikan sesama manusia.”

Dan ketiga, menurut figur yang pernah menjadi kanselir di Madrasah Nizhamiyah Baghdad itu, jangan sampai lidah terpancing dengan obrolan-obrolan yang berkaitan dengan perkara batil. Kerap berbicara batil bisa mengantarkan seseorang ke api neraka. Penegasan ini seperti yang diabadikan dalam Alquran.

Surat Al Muddatsir ayat 42-45 mengisahkan tentang perbincangan antara ahli surga dan penghuni neraka. Ketika penghuni neraka ditanya, apa pasal mereka masuk siksaan tersebut? “Dahulu kami tidak pernah melakukan salat, tidak memberi makan kepada orang miskin, dan kami biasa mengobrolkan hal-hal yang batil dengan orang-orang yang membicarakannya.”

Cara yang keempat, jangan berdebat berlebihan. Debat memang berguna bagi murid yang sedang belajar. Tetapi, bagi seorang alim, debat adalah sesuatu yang harus ia hindari.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, walaupun perdebatan itu benar, Tuhan akan berikan kepadanya tempat paling tinggi di surga.”

Tokoh yang juga dikenal lewat karyanya Tahafut al-Falasifah itu menambahkan, cara yang kelima, jauhkan sebisa mungkin perkataan yang di dalamnya terkandung unsur permusuhan, kedengkian, menyakitkan, serta menjatuhkan harga diri orang lain.

Menghargai seseorang lewat perkataan yang sopan dan santun akan sangat berdampak bagi kelanggengan silaturahim. Bahkan, berulang kali Rasul pernah mencontohkan agar tidak menghujat para sahabatnya. “Janganlah kau kecam sahabat-sahabatku.”. (Rep)

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Virus Tak Akan Menular Tanpa Izin Allah SWT
Masa Iddah Perempuan dalam Islam, Berikut Perhitungannya

Hikmah

Masa Iddah Perempuan dalam Islam, Berikut Perhitungannya
apahabar.com

Hikmah

Cerita Kemurahan Hati Tuan Guru Nuzhan Dalam Pagar
apahabar.com

Hikmah

Benarkan Berhubungan Intim dengan Istri Masa Menyusui Itu Haram?
apahabar.com

Hikmah

Prof Din Syamsuddin: Indonesia Butuh Kerukunan Sejati dan Kebersamaan Hakiki
apahabar.com

Hikmah

Rasulullah SAW Sebagai Hakim yang Adil
apahabar.com

Hikmah

Berikut Amalan Sederhana Agar Bisa Ikhlas Lapang Dada Hadapi Cobaan
apahabar.com

Hikmah

Kapan Waktu Akikah dan Hewan Apa yang Diakikahkan?
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com