Curi Susu Demi Keponakan, Perkara Remaja Banjarmasin Dihentikan Lewat Restorasi Justice Fakta Baru Pembacokan di SPBU Banjar, Tak Ada Duit yang Hilang Dear KPK! Jangan Sia-siakan Pengorbanan Kades Aisyah Kotabaru Anies Baswedan untuk Presiden 2024 Mulai Bergaung di Kalsel Diterjang Banjir Rob, Pemukiman Warga Pesisir Pantai Tala Porak Poranda

Corona Paksa Guru Melek Teknologi

Oleh Arif Rahman Corona membuat gempar seluruh dunia. Dampak virus yang belakangan disebut dengan Covid-19 itu
- Apahabar.com     Jumat, 27 Maret 2020 - 19:18 WITA

Corona Paksa Guru Melek Teknologi

Oleh Arif Rahman

Corona membuat gempar seluruh dunia. Dampak virus yang belakangan disebut dengan Covid-19 itu benar-benar sudah mengganggu tatanan bernegara. Di Indonesia, setelah Pemilu serentak terpaksa ditunda, kini nasib serupa menimpa pelaksanaan ujian nasional (UN).

Mestinya, UN dilaksanakan pada 30 Maret sampai 2 April untuk tingkat SMA. Sedangkan UNBK SMP/MTs dilaksanakan pada 20-23 April. Tapi, Corona menggagalkan semuanya. Informasi pembatalan UNBK berasal dari

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim.

Dalam pernyataan resminya saat konferensi video pada 24 Maret 2020, Menteri Nadiem menyampaikan pelaksanaan UN tidak mendatangkan untung jika dipaksa digelar di tengah mewabahnya Corona. Lagi pula UN pada 2020 tidak lagi jadi penentu kelulusan dan syarat masuk perguruan tinggi. Itu yang menjadi pertimbangan utamanya. Tak sampai di situ, aktivitas belajar mengajar di sekolah pun terpaksa diistirahatkan. Proses belajar mengajar yang semula dilaksanakan di sekolah, kini dilangsungkan di rumah. Tentu saja secara online.

Menyikapi hal tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mulai ramai mengkampanyekan belajar online, dengan catatan guru tetap diminta bertanggung jawab untuk memantau murid-muridnya. Para guru tetap memiliki kewajiban untuk memberikan tugas serta memastikan para siswa tidak keluyuran keluar rumah.

Dengan diberlakukannya kebijakan baru ini, mau tidak mau para guru harus melek informasi dan teknologi (IT). Di sini masalah lain muncul, sebab tidak semua guru bisa dengan mudah memahami dan menggunakan teknologi terkini. Untuk memfungsikan Google Class Room misalnya, tidak semua guru mampu melakukannya. Ini jelas menjadi momok bagi pengajar yang masih gagap teknologi.

Namun, tak ada pilihan lain. Semua guru harus belajar. Tanpa terkecuali. Dari sini kita bisa melihat bahwa wabah Corona yang membuat banyak orang terpaksa harus ‘lockdown’ bisa membuat para guru untuk mempelajari teknologi dan memanfaatkannya. Benar kata pepatah. Semua pasti ada hikmahnya. Kemunculan makhluk berukuran kurang lebih 125 nanometer membuat para guru yang sebelumnya kurang menguasai IT kini mulai mencari tahu, mulai mempelajari dan sebagian di antaranya sudah bisa menggunakan teknologi tersebut.

Saya melihat fenomena ini secara langsung. Di media sosial, ada guru yang sedang mencoba mempelajari cara belajar via online. Mereka biasanya belajar dengan guru lain yang sudah familiar dengan aplikasi yang digunakan. Ada pula guru yang sudah lancar berinteraksi dengan siswanya. Dia memberi cara mengerjakan soal dan belajar melalui sebuah aplikasi, sebut saja seperti Classroom, Zoom dan Jeruq. Trafic penggunaan aplikasi pembelajaran berbasis online pun mulai meningkat.

Seorang rekan lainnya yang juga berprofesi sebagai guru mengaku baru pertama kali mencoba sistem pembelajaran secara online. Dia menilai media pembelajaran online sangat efektif dan efisien selama koneksi jaringan stabil. Para siswa pun dapat terpantau dengan mudah. Antusiasme mereka juga sangat besar.

Saya sendiri mengajar menggunakan Zoom Cloud Meeting, sebuah aplikasi yang digunakan sebagai media komunikasi jarak jauh dengan menggabungkan konferensi video, pertemuan online, obrolan, hingga kolaborasi seluler. Pagi tadi, ada 15 siswa yang ikut berpartisipasi. Meski sempat terkendala jaringan, karena sebagian besar murid berada di wilayah pelosok, tapi secara umum proses belajar mengajar berlangsung lancar. Namun, ini juga perlu menjadi perhatian agar koneksi jaringan di kawasan perdesaan dapat terus ditingkatkan.

Virus Corona memang kejam. Ia sudah membunuh ribuan nyawa di seluruh dunia. Bahkan, di Indonesia jumlah kematian karena Covid-19 terus bertambah. Namun, Corona jua lah yang memaksa kita untuk kembali melakukan hal-hal mendasar yang sering kali kita abaikan. Ada banyak orang yang kembali beraktivitas di rumah bersama keluarga, saling mengkhawatirkan satu sama lain serta membiasakan hidup bersih dan sehat.

Kita tentu berharap pandemi Corona segera berlalu. Setelahnya, saya optimistis dunia pendidikan di Indonesia jauh lebih maju dan modern. Meski dengan berat hati, kita patut berterimakasih kepada virus bernama Corona. Keberadaannya telah membuat para guru mau membuka diri dengan teknologi baru, mempelajari aplikasi-aplikasi baru dan menyadari bahwa di era milenial, sistem belajar mengajar bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel.

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Opini

Mahaliling
Kalsel

Opini

NU Banua Diterpa Angin Perubahan
apahabar.com

Opini

Kenormalan Baru, Sebuah Kesenjangan
Pilkada

Opini

Pilkada Memenangkan Integritas Politik
Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada

Opini

Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada
apahabar.com

Opini

Kebakaran Hutan, Salah Siapa?
apahabar.com

Opini

Indonesia Lockdown: Melawan Virus Covid-19 dan RUU Omnibus Law
apahabar.com

Opini

Teori Impact Bias, Berdamai dengan Corona
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com