Usai Beasiswa 1000 Doktor, SHM Bakal Cetak Ribuan Sarjana Baru di Tanah Bumbu Sederet Prestasi Niha, Hafizah Cilik Kotabaru dari MTQ Tingkat Kabupaten hingga Provinsi Polisi Anulir Pernyataan Status Tersangka Dua Mahasiswa Kalsel 2 Mahasiswa Tersangka, Rektor ULM Pasang Badan, Ada Dugaan Miskomunikasi di Kepolisian Paula Verhoeven Hamil, Kiano Bakal Punya Adik, Baim Wong Ingin Mak Beti Ucapkan Selamat ke Sang Istri

Enaknya Jengkol Acil Baluh, Kudapan Khas Banjar Diburu Jemaah

- Apahabar.com Senin, 2 Maret 2020 - 23:07 WIB

Enaknya Jengkol Acil Baluh, Kudapan Khas Banjar Diburu Jemaah

Rombongan jemaah Haul ke 15 Guru Sekumpul saat menikmati jengkol Acil Baluh, Senin (2/3). Foto-Istimewa.

apahabar.com, MARTAPURA – Selesai sudah Haul ke 15 KH Muhammad Zaini bin Abdul Gani, akrab disapa Guru Sekumpul. Namun tak sedikit jemaah dari pulau Jawa masih menginap di kawasan Martapura dan Banjarbaru.

Mereka memilih tinggal 2-3 hari, baru pulang ke kampung halaman. Bahkan ada yang satu pekan, sembari menjenguk sanak keluarga.

Selama tinggal lebih lama di Banjar, jemaah mengisi ziarah ke sejumlah makam ulama Banjar. Seperti Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Kalampayan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar.

Jarak Sekumpul ke makam Datu Kalampayan sejauh 12,8 km, atau kurang lebih 15 menit perjalan dengan mobil.

Aksesnya lebih mudah di lewati. Disamping jalannya sudah lebar, aspalnya juga mulus sehingga enak dilalui.

Selepas ziarah, tak sedikit jemaah mampir menikmati kudapan khas Banjar. Seperti jengkol atau disebut Urang Banjar, jaring.

apahabar.com

Heriyanto dan Abdi Abidin asal Gresik saat menikmati kudapan khas Banjar, Jengkol Acil Baluh, Senin (2/3).

Makanan ini dinikmati dengan lalaan, yang terbuat dari santan kelapa dan bumbu lainnya. Lalaan semacam ‘saos’ nya. Rasanya cenderung manis, sedikit asin. Sementara jengkol (jaring) rasanya tawar.

Di sepanjang jalan ketika mau masuk ke Astambul banyak warung kecil menjualnya. Salah satunya yang cukup terkenal, Jengkol Acil Baluh.

Salah satu warungnya terletak persis di depan SPBU. Acil Baluh, merupakan nama si pembuat. Sudah jadi tradisi keluarga membuat jengkol khas Banjar, sejak orang tuanya dulu.

Kini, warga Desa Pingaran, Kecamatan Astambul itu setidaknya memiliki 5-7 warung yang berjejer di pinggir jalan A Yani Km 50 tersebut.

Jengkol yang dijualnya, disamping enak dan gurih, yang terpenting sudah tidak mengeluarkan aroma menyengat.

Sudah lima tahunan ini, warung Acil Baluh berjualan di pinggir jalan itu. Hingga banyak warung kecil lainnya ikut menjual jengkol.

“Enak, enaknya itu lalaannya ini. Kalau di Surabaya ada juga mirip jengkol seperti ini, namanya Gayam. Tapi bukan jengkol, cuma mirip. Rasanya gurih. Tapi tidak pakai lalaan,” ujar Heriyanto bersama rekannya Abdi, jemaah asal Gresik, Senin (2/3).

Jengkol Acil Baluh sendiri sudah punya banyak langganan. Terutama jemaah dari Kaltim, seperti Samarinda, Balikpapan dan Tenggarong.

“Selain pas Haul Abah Guru, mereka biasa singgah di bulan Syakban, karena rancak (sering, red) berwisata religi ke Martapura,” ujar salah satu anak buah Acil Baluh.

Jengkol Acil Baluh bisa dinikmati cukup seharga Rp5.000. Jengkolnya isi 5 tangkup. 1 tangkup, dapat dua belahan. “Kalau Rp5.000 itu tadi, 10 belah. Berarti 5 tangkup,” lanjutnya.

Sedikit ceritanya, pengolahan jengkol lumayan menyita tenaga. Sebab, setelah jengkol dikupas dan dibersihkan, terlebih dulu diredam dengan air satu malam.

Setelah itu, dibuat dalam tempat rebusan besar. Setelah itu direbus lagi dengan rerempahan, sehingga aroma khas jengkol hilang.

Sementara lalaannya, terbuat dari santan kelapa ditambah bumbu masakan. Sehingga rasanya khas.

“Kalau resepnya itu rahasia. Tapi setahu ulun (saya) begitu mengolahnya,” ujar si penjaga warung Acil Baluh.

Di tempat Acil Baluh, Desa Pingaran, jengkol direbus hingga puluhan kilogram lebih. Bahkan tempat rebus dibuat khusus, seperti drum di belah dua dengan posisi memajang. Merebusnya pun dengan kayu bakar.

Bahkan untuk jengkolnya sengaja dipesan dari Kaltim. Karena di Kalsel sedikit sekali ditemukan. Jika pun ada, seperti di Kecamatan Pengaron, bentuknya tidak sama dan jumlahnya pun sedikit.

Setelah masak, baru lah dijual ke warung-warung yang sudah disediakan Acil Baluh di pinggir jalan. Setiap penjaga warung mendapat 15-20 persen dari tiap penjualan.

“Kadang ada sampai Rp50.000 ribu lebih saya dapat dari hasil penjualan. Tergantung berapa banyak jaring (jengkol) yang terjual,” tandas si penjaga warung jengkol Acil Baluh, yang enggan menyebutkan nama dan melarang di foto.

 

Baca Juga: Berita Duka, 3 Jemaah Wafat Saat Haul Guru Sekumpul Ke-15

Baca Juga: Melihat Kembali Kesibukan Jemaah di Haul Abah Guru Sekumpul

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Aliansi Dokter Dunia Sebut Covid-19 Serupa Flu Biasa, Ini Alasannya

Nasional

Malam Ini, Puncak Hujan Meteor Geminid
apahabar.com

Nasional

PSBB Jakarta: Anies Baswedan Berlakukan 8 Aturan Ketat Mulai Hari Ini
apahabar.com

Nasional

Indonesia Hentikan Sementara Kebijakan Bebas Visa Turis China
apahabar.com

Nasional

Andika Kangen Band Ditangkap, Kasat Pol PP Angkat Bicara
apahabar.com

Nasional

Imlek 2019: TNI-Polri Terjunkan 5 Ribu Lebih Personel Gabungan
apahabar.com

Nasional

Serangan Kamp Militer di Niger: Belasan Tentara Tewas, Empat Hilang
apahabar.com

Nasional

JK Tolak Usulan Pengelolaan Zakat Layaknya Pajak
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com