Akhir Pekan Ini, Wisata Siring Banjarmasin Resmi Ditutup Lagi Dokter Kalsel Gugur karena Covid-19, IDI: Sudah 55 Terjangkit! Ibunya Reaktif Tes Covid-19, Bayi di Banjarmasin Meninggal Dunia Rapid Test di Banjarmasin Rp 500 Ribu, Dinkes Siapkan Sanksi Klarifikasi Oknum Dokter Banjarbaru Dugaan KDRT Istri Pertama




Home Ekbis

Rabu, 18 Maret 2020 - 19:21 WIB

Jokowi: Penerima Insentif Gas Industri Harus Mampu Berikan Nilai Tambah

Redaksi - Apahabar.com

Presiden Jokowi di Istana Merdeka Jakarta. Foto-Humas Kemensetneg

Presiden Jokowi di Istana Merdeka Jakarta. Foto-Humas Kemensetneg

apahabar.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar rapat terbatas bersama jajarannya untuk membahas soal penyesuaian harga gas untuk industri dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Melalui rapat yang digelar dengan telekonferensi tersebut, Jokowi mengingatkan jajarannya untuk menghitung tiga opsi yang dibicarakan dalam ratas sebelumnya pada 6 Januari 2020 lalu.

“Opsi yang pertama mengurangi atau bahkan menghilangkan jatah pemerintah. Opsi kedua pemberlakuan domestic market obligation (DMO). Opsi ketiga bebas impor gas untuk industri. Saya minta ratas hari ini saya bisa diberikan hitung-hitungan, kalkulasinya seperti apa,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, seperti dikutip dari laman setneg.go.id, Rabu (18/03).

Baca juga :  Butuh Duit? Pilih Pinjol atau Kartu Kredit

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga mengingatkan agar industri yang diberikan insentif penurunan harga gas harus betul-betul diverifikasi dan dievaluasi. Dengan demikian, pemberian insentif penurunan gas akan memberikan dampak yang signifikan dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Menurut Kepala Negara, industri yang diberi insentif harus mampu meningkatkan kapasitas produksinya dan meningkatkan investasi barunya. Mereka juga harus mampu meningkatkan efisiensi proses produksinya sehingga produknya menjadi lebih kompetitif, serta harus bisa meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

“Untuk itu saya minta evaluasi dan monitoring secara berkala harus dilakukan terhadap industri-industri yang diberikan insentif. Harus ada disinsentif, harus ada punishment, jika industri tidak memiliki performance sesuai yang kita inginkan,” kata Kepala Negara.

Baca juga :  Butuh Duit? Pilih Pinjol atau Kartu Kredit

Sementara itu, terkait dengan harga BBM, Jokowi meminta jajarannya menghitung dampak dari penurunan harga minyak dunia yang jatuh ke level kurang lebih US$30 per barel.

“Saya minta dihitung dampak dari penurunan ini pada perekonomian kita, terutama BBM, baik BBM bersubsidi maupun BBM nonsubsidi. Juga dihitung berapa lama kira-kira penurunan ini akan terjadi. Kemudian perkiraan harga ke depan,” kata dia.

“Kita harus merespons dengan kebijakan yang tepat, dan kita juga harus bisa memanfaatkan momentum dan peluang dari penurunan minyak ini untuk perekonomian negara kita,” imbuh Jokowi.

Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Jelang Lebaran, Harga Bahan Pokok di Rantau Melambung
Dukung Pertumbuhan Investasi Daerah, PLN Suplai Listrik 30 Juta VA

Ekbis

Dukung Pertumbuhan Investasi Daerah, PLN Suplai Listrik 30 Juta VA
apahabar.com

Ekbis

Rupiah Melemah Seiring Kekhawatiran Pasar Atas Penyebaran Virus Corona
apahabar.com

Ekbis

Mencari Jawara Dunia Games Campus League di Banjarmasin
apahabar.com

Ekbis

Pasca Pandemi, Bang Dhin Dorong Pemprov Kalsel Perhatikan UMKM
apahabar.com

Ekbis

Kementerian ESDM Belum Restui Harga Gas Naik
apahabar.com

Ekbis

Jemaah Membeludak, Bank Kalsel Luncurkan Tabungan Haji
apahabar.com

Ekbis

Siasat Disperindag Banjar Atasi Meroketnya Harga Si Melon
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com