Pak Wali… Pengungsi Banjir di Banjarmasin Mulai Sakit-sakitan, Poskes Over Diduga Sakit Hati, Pria Gantung Diri di Batulicin Sering Cekcok dengan Istri Malam Ini, Mata Najwa Kupas Biang Kerok Banjir Kalsel Banjir dan Ancaman Tim Paman Birin, “Sudah Jatuh Warga Tertimpa Tangga” PMI Balikpapan Tak Terima Bantuan Pakaian Bekas untuk Korban Banjir Kalsel

Kritik Terhadap Hari Musik Nasional di Kalsel, Kalah Saing dengan Seni Tari

- Apahabar.com Senin, 9 Maret 2020 - 17:24 WIB

Kritik Terhadap Hari Musik Nasional di Kalsel, Kalah Saing dengan Seni Tari

Ilustrasi pagelaran seni musik daerah. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Setiap tanggal 9 Maret resmi ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Sayangnya, momentum itu dirasa masih kurang gaungnya.

Hanya sebagian daerah di Indonesia selalu merayakan pertunjukan musik, tergantung sinergritas warga dan pemerintah.

Baca Juga: 40 Tahun “Cermin”, Album Rock Dahsyat yang Tak Laku

Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mungkin salah satunya yang tidak. Sebaliknya, jika dibandingkan dengan seni tari sangatlah jauh berbeda.

Pemerhati Seni dan Tradisi Lupi Anderiani mengatakan memang belum banyak daerah di Indonesia yang memperingati Hari Musik Nasional, termasuk daerah Kalsel.

Tidak seperti halnya peringatan Hari Tari Sedunia yang dilaksanakn dalam bentuk perayaan mewah.

Di Kalsel sendiri dalam beberapa tahun ini ikut merayakan Hari Tari yang difokuskan di Taman Budaya dan Minggu Raya.

Karena itulah seni pertunjukan di Kalsel khususnya seni tradisi hampir didominasi oleh seni tari.

Apalagi acara penyambutan tamu, lomba dan festival yang diadakan di daerah kebanyakan adalah seni tari.

Padahal dalam setiap pertunjukan tari juga sangat berperan seniman musik. Ada penata musik yang sama kedudukannya dengan penata tari.

“Ini juga dapat dilihat dari sanggar sangar seni yang ada di Kalsel adalah sanggar tari, jarang ada sanggar musik,” ujar Lupi yang merupakan alumni S2 Seni di Pascasarjana Institusi Seni Indonesia Surakarta ini.

Menurutnya peringatan hari musik nasional juga sangat perlu apresiasi, sebagai bentuk penghargaan kepada seniman musik yang ada di daerah.

Demikian juga sebagai motivasi dan edukasi tentang seni budaya yang dimiliki, khususnya seni budaya di Kalsel.

Namun kenyataan yang diterima di Banua tidak seperti itu. Padahal Kalsel memiliki potensi di bidang musik seperti seniman musik tradisi hingga populer.

Bahkan di Kalsel juga banyak maestro musik. Mereka masih berkarya sampai sekarang seperti pencipta lagu daerah juga komposer.

Namun karya dan even mereka kurang terpublikasikan secara luas.

Itu lanjut Upi, merupakan tanggung jawab pemerintah dan seniman. Artinya kedua sektor tersebut harus saling bersinergi memiliki misi dan visi yang sama sehingga terjalin hubungan harmonis dan saling mendukung.

Sebab musik daerah atau musik tradisi yang ada di daerah adalah salah satu kekayaan warisan budaya yang patut di lestarikan.

“Musik daerah juga salah satu identitas (ciri khas) budaya tiap daerah ciri khasnya masing kadang mirip, tetapi tidak sama karena seni tradisi itu lahir dari latar belakang budaya masyarakatnya,” tegasnya.

Orang yang sejak kecil mengeluti bidang seni ini menambahkan, untuk daerah kabupaten pedalaman masih menggunakan musik tradisional. Seperti dalam acara perkawinan musik panting dan gamalan banjar masih sering ditemukan.

Namun sayangnya, hal itu tidak berlaku di kawasan perkotaan. Nah salah satu cara untuk mengatasi ketimpangan ini lebih sering lagi mengadakan even musik lokal.

Misalnya pertunjukan musik lokal dan mengadakan diskusi seputar penggalian dan pengembangan musik lokal.

Tujuan dari itu juga untuk memperkenalkan musik daerah kepada generasi bangsa. Anak anak dianggapnya kurangnya informasi dalam artian mereka kurang mendapat pengetahuan tentang seni budaya lokal khususnya musik.

“Mereka tidak pernah melihat pertunjukan sama sekali, beda halnya dengan musik populer/barat yang hampir setiap waktu dapat mereka akses melalui aplikasi yang ada di hp mereka,” sesalnya.

Demikian, ia menerangkan sangat berpengaruh terhadap kelestarian dan perkembangan musik lokal, sehingga agak sulit menanamkan rasa cinta terhadap musik daerahnya sendiri.

Sebab jiwanya sudah dipengaruhi kebudayaan luar. Dampaknya bukan hanya pada musik, tetapi juga pada gaya hidup mereka.

“Cara berbicara dan adab sopan santun mereka akan berubah dan sangat jauh dengan ajaran kebudayaan lokal,” tandasnya.

Baca Juga: Menyimak “Batas”, Soundtrack Film KKN di Desa Penari

Reporter: Bahaudin Qusairi
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Minta Doa Restu, Kapolda Kalsel Safari ke Kediaman Guru Danau di Amuntai
apahabar.com

Kalsel

Ringankan Beban Korban Kebakaran di Alalak Selatan, Pelajar NU Serahkan Dana Rp9,6 Juta
apahabar.com

Kalsel

Bolak-balik Diperiksa, Alumni Natuna di Banjarmasin Dijamin Sehat
DPRD

Kalsel

Pencoblosan Besok, Ketua DPRD Kalsel Imbau Pendukung Tak Terbawa Euforia

Kalsel

Asyik ‘Ngamar’, Anak di Bawah Umur di Tanbu Diciduk Aparat Gabungan
apahabar.com

Kalsel

Miliki Segudang Prestasi, Sekda Tamzil Maju Pilbup HST?
apahabar.com

Kalsel

Warga Kuin Kacil Banjarmasin Segera Rasakan Pembangunan

Kalsel

Operasi Yustisi di HST, Pelanggar Prokes Didominasi Salah Pakai Masker
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com