Risiko Terburuk Wabah Covid-19, Kabupaten Banjar Siap Lockdown Disuruh di Rumah, Remaja di Banjarmasin Timur Malah Pesta Miras Tembus Seribu ODP, Kalsel Siapkan Karantina Khusus Dinyatakan Sehat, Balita PDP Covid-19 di Banjarmasin Dipulangkan Klaster Bogor, Pasien ke-6 Positif Covid-19 di Kalteng




Home Nasional

Jumat, 27 Maret 2020 - 12:56 WIB

Lindungi Sektor Pariwisata, Pemerintah Kaji Stimulus Tambahan

rifad - Apahabar.com

Ilustrasi pariwisata alam di Bali. Foto-net

Ilustrasi pariwisata alam di Bali. Foto-net

apahabar.com, JAKARTA – Sektor pariwisata paling terdampak pandemik Corona Virus Disease (Covid-19). Lantas, bagaimana upaya pemerintah mengatasinya?

Pemerintah akan mengusulkan adanya extra benefit atau stimulus tambahan bagi sektor pariwisata.

Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi yang dipimpin Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan melalui video conference di Jakarta, Kamis (26/3) tadi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama, memandang perlu diberikan benefit khusus, semisal pengurangan pajak bagi hotel dan restoran yang tidak memutus hubungan kerja dengan para karyawannya.

“Terkait dengan Kartu Pra-Kerja kami menyarankan, ini diprioritaskan kepada karyawan yang mengalami PHK. Jadi untuk Kartu Pra-Kerja yang training bisa dialihkan ke tahun depan, apalagi mengingat kondisi seperti saat ini,” ujar Wishnutama, Jumat (27/3).

Baca juga :  Masuk Kakbah, Jemaah Serukan Nama ‘Jokowi’

Sementara itu, Menko Perekonomomian Airlangga menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan berbagai skema seperti program Bantuan Langsung Tunai (BLT), stimulus fiskal untuk membantu sektor pariwisata, dan juga Program Kartu Pra-Kerja sebagai Social Safety Net bagi masyarakat yang paling terdampak.

“Untuk stimulus fiskal tahap kedua, beberapa pasal seperti pasal 21 dan 25 Itu di-extend ke sektor pariwisata. Kita juga sudah siapkan BLT untuk masyarakat kita yang paling terdampak, kemudian untuk Kartu Pra-Kerja juga sudah dialihkan untuk benefit bagi yang mengalami pemutusan hubungan kerja,” jelasnya.

Menurut Bank Indonesia, kondisi saat ini lebih kompleks dibandingkan dengan kondisi tahun 2008. Di mana pada saat itu dunia juga diterpa krisis ekonomi global.

Baca juga :  Mahfud MD: Jokowi Sangat Perhatikan Pesantren

Namun, BI tetap memprioritaskan di bidang kesehatan masyarakat, jaring pengaman sosial, dan juga terus berupaya menstabilkan sektor keuangan.

“Kita fokus ke penanganan kesehatan masyarakat, kemudian kepada program social safety net, karena ini berdampak sangat luar biasa bagi masyarakat. BI juga terus berusaha menstabilkan sektor keuangan, dengan cadangan devisa kita yang jumlahnya juga cukup besar,” kata Deputi Senior Gubernur BI Destri Damayanti.

Rakor sendiri diikuti pula Menko Polhukam Mahfud MD, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah.(ant)

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Keluarga Mendiang Ibu Rezky Febian Bersedia Apabila Diperlukan Autopsi
apahabar.com

Nasional

Wabah Corona di Luar China Kian Mengkhawatirkan
apahabar.com

Nasional

Polisi Tembak Mati Bandar 10 Kilogram Sabu-sabu
apahabar.com

Nasional

Kecelakaan, Wakil Ketua DPRD Kota Banjar dan Ajudannya Tewas
apahabar.com

Nasional

Tsunami Menyapu Keceriaan Malam Minggu di Sekitar Selat Sunda
apahabar.com

Nasional

Gerindra: Presiden Jokowi Telah Terima Konsep Pertahanan Prabowo
apahabar.com

Nasional

Aliansi Relawan Jokowi Harapkan Rekonsiliasi Usai Pemilu
apahabar.com

Nasional

KPK Soroti Sektor Pengadaan Barang dan Jasa Kalsel