Biang Kerok Banjir Kalsel, Ternyata Tak Cuma Tambang dan Sawit Presiden Jokowi Blusukan ke Banjir Kalsel, Nih Agendanya Esok Blusukan Batal, Denny Minta Evakuasi Korban Banjir Kalsel via Udara Banjir Kalsel, Mayat Mengapung Kembali Ditemukan di Banjar Sstttt, Presiden Jokowi Mau Blusukan ke Banjir Kalsel

Mulai Langka, Gula Pasir Tembus Harga Rp20 Ribu per Kg

- Apahabar.com Senin, 23 Maret 2020 - 18:30 WIB

Mulai Langka, Gula Pasir Tembus Harga Rp20 Ribu per Kg

Kepala Disperindag Kalsel, Birhasani di ruang kerjanya, Senin (23/3) siang.  Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Sejumlah komoditi bahan pokok mulai sulit didapatkan di pasaran. Tak hanya terbatas, dari sisi harga pun terjadi lonjakan.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperindag) Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat tiga komoditi yang saat ini mengalami kelangkaan. Dari gula pasir, bawang putih hingga bawang merah.

Kelangkaan ini dikarenakan beberapa kebutuhan barang pokok di Kalsel masih bergantung pasokan dari luar daerah. Seperti Jawa Timur, Sulawesi hingga Nusa Tenggara.

“Bahan pokok yang dihasilkan di Kalimantan relatif stabil, tapi yang bergantung dengan daerah lain yang mulai terhambat. Ini krisis nasional,” kata Kepala Disperindag Kalsel, Birhasani di Ruang Kerjanya, Senin (23/3) siang.

Seperti gula pasir, Birhasani menyebut di pasaran sudah mencapai harga Rp20 ribu.

Meski naik, harga itu menurutnya terbilang normal. Sebab pasokan gula saat ini adalah stok lama yang masih tersimpan.

“Diperkirakan April baru masuk. Sebagai catatan, ini bukan permainan pedagang gula kita di Kalsel,” tegasnya.

Terbatasnya distribusi juga dikarenakan pabrik gula mulai kehabisan bahan baku, dalam hal ini adalah tanaman tebu.

Diperkirakan, musim panen akan dimulai pada Juni mendatang.

“Kita juga mengimpor bahan baku gula yaitu raw sugar. Impornya belum ada yang terealisasi sampai masuk ke Indonesia, jadi pabrik gula kita masih tidak berjalan,” terangnya.

Selain gula pasir, komoditi bawang merah dan bawang pasir juga melangka.

Dengan kisaran harga 35 hingga 45 ribu per kilogram, komoditi bawang juga bergantung pada daerah lain.

Krisis nasional ini jelasnya juga disebabkan oleh maraknya penyebaran Covid-19.

Ketersediaan pada sumber sentra produksi dan pengiriman terhambat akibat pembatasan sistem kerja karyawan oleh perusahaan.

“Mereka pun tidak bisa optimal menjual ke daerah dalam jumlah yang banyak. Jadi di sini permasalahannya,” tutupnya.

Reporter: Musnita Sari
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

April 2019, TPK Hotel Berbintang di Kalsel Naik 0,58 Poin
apahabar.com

Ekbis

BI Dorong Geliat Ekonomi Pasca-pandemi Covid-19 di Kalsel
apahabar.com

Ekbis

Semester Pertama 2019, City Car Ini Paling Diminati di Kalselteng
apahabar.com

Ekbis

Cadangan Devisa Indonesia September 124,3 Miliar Dolar
apahabar.com

Ekbis

Volkswagen Klaim Bisa Bikin 15 Juta Mobil Listrik
apahabar.com

Ekbis

Pasca Pandemi, Bang Dhin Dorong Pemprov Kalsel Perhatikan UMKM
apahabar.com

Ekbis

Pertamax Cs di Kalsel Ikut Turun, Simak Daftar Harganya
apahabar.com

Ekbis

Kebakaran Kilang di Balikpapan Dijamin Tak Ganggu Produksi
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com