Tak Seberuntung THM, Pembukaan Siring Pierre Tendean Ditunda Lagi Benarkah Depresi? Ibu Terduga Pembunuh Anak Kandung di Batu Benawa HST di Mata Warga Suami Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Dikenal Penanambaan KPK OTT Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna Dampak Libur Panjang, Banjarbaru Kembali Zona Merah!

Perjuangan WNI asal Banjarmasin di Jepang Saat Pandemi Corona

- Apahabar.com Selasa, 31 Maret 2020 - 05:45 WIB

Perjuangan WNI asal Banjarmasin di Jepang Saat Pandemi Corona

Yanuar Pramana Nata dan istri di Jepang. Foto-Istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Jumlah warga negara Indonesia (WNI) terinfeksi virus Corona di luar negeri per Minggu (29/3) tadi, terekam Kementerian Luar Negeri sebanyak 113 orang.

Dari data itu, WNI yang meninggal ada dua orang, masing-masing di Inggris dan Jepang.

Sebelumnya, di Jepang sendiri Kemenlu mencatat 9 WNI terifeksi Corona.

Di negeri Sakur itu, ada banyak WNI, salah satunya asal Banjarmasin, Yanuar Pramana Nata.

Jadi perantauan di sana, ia juga merasakan hal tak jauh berbeda dengan yang dialami semua orang.

Sama-sama kekhawatiran terpapar Corona.

Apalagi dia tinggal hanya berjarak sekitar 36 kilometer dari pusat ibu kota Jepang.

Yanuar mengungkapkan Tokyo saat ini bak kota mati.

Kota-kota seperti Shibuya, Shinjuku, Ginza, yang dulunya akrab dengan suasana keramaian mendadak sepi.
Terutama dalam beberapa pekan terakhir.

“Saya tinggal di Yokohama. Situasi yang saya alami biasa seperti sehari-hari, tetapi memang diimbau waspada untuk mengurangi kegiatan di luar atau kumpul di keramaian,” kata Yanuar kepada apahabar.com via WhatsApp, Senin (30/3).

Meski di sekitar tempatnya masih belum dikonfirmasi orang yang positif Covid-19, Pemerintah Tokyo turut melakukan himbauan yang sama seperti kepala negara lainnya.

Selama himbauan itu berlaku, untungnya segala kebutuhan tersedia.

“Di sini kebutuhan hidup sehari-hari tercukupi untuk belanja. Jadi cukup tenang respon masyarakat untuk menuruti himbauan,” terang Yanuar.

Yang menarik, kesadaran warga di sana cukup tinggi.

“Selain itu kalau memang ada yang dicurigai terkena, mereka langsung segera melapor untuk diperiksa, jadi terbuka,” jelas Yanuar.

Bekerja di sebuah panti sosial untuk lansia, Yanuar menyebutkan tak semua masyarakat Jepang dapat menerapkan gerakan #WorkFromHome atau bekerja dari rumah.

Seperti Yanuar sendiri. Lantas, dengan keterbatasan bahasa, Yanuar tetap berupaya untuk mendapatkan perkembangan informasi Covid-19.

Terutama melalui situs media sosial milik komunitas WNI yang tinggal di Jepang.

“Saya jarang banget liat berita, entah dari koran dan tv. Karena masih belum bagus bahasa jepang untuk bisa mengerti. Tapi saya dapat (info) dari group FB komunitas WNI yang tinggal di Jepang,” ungkapnya.

Dia pun berharap situasi sekarang ini cepat berlalu, sehingga kembali normal.

“Mudahan urang-urang Banua sehat-sehat dan dijauhkan dari Covid 19. Aamiin,” pesannya mengakhiri perbincangan.

WNI di Australia

Awal 2020 ini memang seakan jadi tahun berat bagi banyak orang.

Duka ini juga dirasakan WNI yang menjalani kehidupan di tengah perantauan.

Husniaty (27) salah satunya. Namun, warga Aceh yang kini bermukim di Australia ini merasa cukup beruntung.

Walau perjuangannya sebagai minoritas harus lebih ekstra lagi, namun dirinya masih dapat bertahan di tengah masifnya virus Corona.

“Di sini cukup merasa aman, meskipun kasusnya makin bertambah tapi fatality ratenya rendah,” ungkapnya via WhatsApp dengan apahabar.com, Senin.

Meminjam data Australian Goverment, perkembangan terakhir hingga 30 Maret pagi terdapat 4.093 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di Australia.

Dari kasus-kasus ini, 16 di antaranya telah meninggal.
Pemerintah setempat juga telah melakukan tes lebih dari 214.000 di seluruh Australia.

“Jumlah yang ditest jauh lebih rame daripada yang di Indonesia. Info yang beredar juga akurat, gak ada hoax,” ungkap dia.

Upaya pemerintah Australia dalam menekan angka penularan cukup efektif.

Sebab menurutnya, ini juga didukung dengan patuhnya masyarakat untuk saling menjaga jarak (social distancing).

“Mostly (kebanyakan) warganya patuh sama peraturan,” imbuhnya

Pemerintah Australia cukup tegas dalam menindak para pelanggar.
Masyarakat yang tidak mematuhi aturan seperti berkumpul di tempat umum akan dikenakan denda dan kurungan penjara.

“Kalau kita ngumpul di tempat umum rame-rame langsung kena denda juga penjara. Acara-acara pemakaman atau pernikahan, gak boleh lebih dari 10 orang,” sebut dia.

Sama halnya seperti Indonesia, gejala sosial Panic Buying juga sempat terjadi di Australia. Benda-benda seperti masker, hand sanitizer hingga bahan pokok mulai sulit didapatkan.

“Tapi meskipun langka, harganya gak segila di sana (Indonesia),” beber dia.

Reporter: Musnita Sari
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Walhi Kecewa, DPRD Kalsel Absen dari Dialog Publik
apahabar.com

Kalsel

Sepanjang Iduladha, Pasukan Kuning Marabahan Tetap Kerja
apahabar.com

Kalsel

Basarnas Soroti Emergency Plan Perhotelan di Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Solusi Anak Kecanduan Gadget, Pemprov Kalsel Segera Buat Taman Bermain
apahabar.com

Kalsel

Antisipasi Kebakaran, Bupati Banjar: Petani Jangan Bakar Jerami Setelah Panen
apahabar.com

Kalsel

Komisi III DPRD Kalsel Bakal Sidak Bandara dan Pelabuhan
apahabar.com

Kalsel

Warga Kecamatan Satui Tambah Daftar Positif Covid-19 di Tanbu
apahabar.com

Kalsel

BKOM Tingkatkan Kebugaran ASN Lewat Germas
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com