Benarkah Depresi? Ibu Terduga Pembunuh Anak Kandung di Batu Benawa HST di Mata Warga Suami Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Dikenal Penanambaan KPK OTT Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna Dampak Libur Panjang, Banjarbaru Kembali Zona Merah! Dikejar Polisi, ASN Buang Sabu dari Jendela Mobil di Banjarmasin

Tanpa Turis, Tengok Nasib Bali

- Apahabar.com Sabtu, 21 Maret 2020 - 05:52 WIB

Tanpa Turis, Tengok Nasib Bali

Seorang pedagang tertidur di sebuah tempat duduk di Pantai Kuta, Bali, Jumat, 6 Maret 2020. Sepinya kunjungan wisatawan ke Bali berdampak pada tingkat hunian hotel yang turun hingga 30-35 persen akibat wabah virus corona COVID-19. Foto-Johannes P. Christo

apahabar.com, JAKARTA – Pandemi Corona menyiksa dunia. Pariwisata harus tutup pintu untuk keselamatan bersama. Virus Corona membuat dunia pariwisata sekarat. Bali menjadi salah satu daftarnya. Provinsi yang hidup dari pariwisata ini mundur cukup jauh sejak pandemi Corona.

Indonesia sendiri mulai melakukan beberapa langkah untuk mencegah penularan virus Corona. Pemerintah rencananya akan menangguhkan visa on arrival selama satu bulan mulai Jumat 20 Maret 2020.

Kebijakan ini selayaknya dua mata koin yang tak terpisahkan. Satu sisi mencegah Corona, sisi lain mematikan pariwisata karena orang tidak bisa datang ke Indonesia, termasuk ke Bali.

Hal ini sudah terlihat di Roma, Singapura, Barcelona dan tempat-tempat lain di dunia yang menjadi magnet wisata. Bali pun harus was-was. Karena tiga perempat perekonomian Bali didapat dari pariwisata.

“Dari penelitian kami, kami tahu sekitar 80 persen PDB Bali didasarkan pada pariwisata,” ujar Presiden Lembaga Indonesia Ross Taylor, pengamat kebijakan luar negeri di Universitas Monash Melbourne.

Menurut Taylor, selama 15 tahun terakhir generasi muda pindah ke daerah wisata untuk mencari pekerjaan. Sementara orangtua mereka menjual sawah kepada pengembang.

“Selama ini ada transisi besar-besaran dimana semua orang beralih ke dunia pariwisata. Tanpa pariwisata, akan timbul bencana. Di beberapa negara barat, rumah tangga punya penghasilan cadangan. Sementara di Bali, hampir semua orang mendapatkan penghasilan beberapa ratus dolar sebulan, mereka hidup dari hari ke hari, dari bulan ke bulan. Jika mereka kehilangan pekerjaan, mereka tidak punya apa-apa lagi,” ujarnya.

Para pekerja hotel pun telah diliburkan tanpa ada upah. Ini menjadi tolak ukur yang jelas dalam denyut wisata Bali. “Tanpa turis, Bali akan mati,” ujar Hasrat Aceh, salah satu pekerja hotel di Bali yang sudah dirumahkan gara-gara wabah Corona.

Namun Hasrat tak mau putus asa, Hasrat kini beralih menjadi pengemudi ojek online Grab. “Orang-orang di Bali itu tidak mengeluh, jika kami punya masalah kami pasti ada jalan keluar,” ujarnya.

Rasanya tak adil jika hanya mendapat potongan pendapat tanpa data. detikcom merangkum dari media Aljazeera, beberapa data soal wisata Bali di tengah pandemi Corona. Di awal-awal isu virus Corona, Bali masih mencoba untuk bertahan. Hal ini dibuktikan dengan masih meningkatnya kunjungan turis sebanyak 3 persen di bulan Januari 2020. Ini peningkatan dibandingkan bulan Januari di tahun lalu.

Dari data Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, penurunan turis mulai terlihat di bulan Februari. Penurunan hingga 20 persen terlihat saat larangan turis China diberlakukan. Saat dunia mulai menutup diri, Indonesia masih berkelakar soal ketahanan pada virus Corona. Merasa jauh dari ancaman wisatawan dunia tak berhenti untuk datang ke Indonesia.

Ada 400.000 turis yang datang dari Australia, Rusia, Korea Selatan, India, Jepang, dan lebih dari 100 negara lain menuju Bali. Bahkan dari 12 hari pertama pada bulan Maret, masih ada 114.000 turis yang menginjakkan kaki di Bali. Awalnya turis merasa aman di Bali. Namun keadaan berubah begitu seorang warga negara Inggris meninggal saat diisolasi di rumah sakit Bali.

Bali pun mulai ditinggalkan. Geliat wisata mulai redup. Pemerintah dengan tegas mengimbau masyarakat untuk tinggal di dalam rumah.

“Banyak orang akan kehilangan pekerjaan karena tak ada turis. Dampak yang paling besar akan terlihat pada yang miskin,” ujar Ariyo Irhamna, seorang ekonom di Institut Pengembangan Ekonomi di Jakarta. (dtk)

 

Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Paman Birin: Ustaz Arifin Ilham Putra Terbaik Banua
apahabar.com

Nasional

Jokowi Minta Pembayaran Pelayanan Kesehatan Terkait Covid-19 Dipercepat
apahabar.com

Nasional

Imbas Covid-19, Beragam Alasan Masyarakat Bidik Program Kartu Prakerja
apahabar.com

Nasional

Badko HMI Kalselteng Kecam Paham Radikal Berupaya Gagalkan Pelantikan Presiden
apahabar.com

Nasional

PDI Perjuangan Tempatkan Saksi di TPS Seluruh Indonesia
apahabar.com

Nasional

Korban Tsunami Bertambah 20 Meninggal dan 165 Luka-Luka

Nasional

Ridwan Saidi Bilang Jutaan Orang Sambut Habib Rizieq Tiba-tiba Petir Menggelegar, Ucapan ‘Babe’ Terbukti!
apahabar.com

Nasional

Didukung Kaum LGBT di Bandung, BPN Prabowo Sandi Beri Tanggapan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com