Negosiasi Rampung: Bagus Lega, Hasnur Rela, Nitizen Bahagia, Bagaimana FC Utrecht? Jelang Masa Tenang, Bawaslu Kalsel Minta Paslon Copot APK Longsor Tergerus Banjir, Oprit Jembatan di Tabalong Diperbaiki Benny Wenda Deklarasi Papua Merdeka, Pemerintah RI Jangan Diam! 2 Saudaranya ‘Dipocong’ Hidup-Hidup, Saksi Kunci Pembunuhan Bocah di Benawa HST Trauma

Banyak Pasien Ajukan Diri untuk Uji Obat Covid-19

- Apahabar.com Selasa, 7 April 2020 - 14:04 WIB

Banyak Pasien Ajukan Diri untuk Uji Obat Covid-19

Ilustrasi Petugas medis menangani pasien virus corona. Foto: Net

apahabar.com, WASHINGTON – Obat untuk menyembuhkan pasien virus corona jenis baru atau Covid-19, belum juga ditemukan. Banyak obat-obatan yang telah ada diuji coba kepada pasien untuk melihat efek yang diberikan. Kini, banyak pasien virus corona yang mengajukan diri untuk mencoba obat-obatan tersebut.

Salah satunya Dr. Jag Singh yang menjadi pasien di tempat kerjanya sendiri di Massachusetts General. Ketika dia melihat hasil rontgen paru-paru yang menunjukkan radang, segala pekerjaan pun harus dihentikan dan dia mendapatkan perawatan intensif.

Tapi, sebagai tenaga medis, Singh tidak mau tinggal diam ketika rekan-rekannya berjuang menangani pasien virus corona. Dia memutuskan menerima tawaran rekan tenaga medisnya untuk menguji remdesivir, obat percobaan yang menjadi alternatif pengobatan penyakit akibat virus corona.

“Bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk mengatakan ‘tidak,’” kata Singh, seorang spesialis jantung.

Selain Sighn, pasien-pasien virus corona di seluruh dunia bergegas untuk bergabung dengan penelitian remdesivir yang dibuka di rumah sakit dalam beberapa minggu terakhir. Minat begitu besar, hingga Institut Kesehatan Nasional AS (NIH) memperluas penelitian, yang hampir mencapai target 440 pasien.

Studi NIH adalah tes yang paling ketat. Tes itu akan membandingkan remdesivir dengan infus plasebo, baik pasien maupun dokter tidak tahu siapa yang mendapatkan apa sampai akhir penelitian. Selain AS, penelitian terbuka di Jepang, Korea, dan Singapura.

Hingga saat ini belum ada obat yang disetujui untuk memerangi penyakit akibat virus yang telah membunuh 74.000 orang di seluruh dunia. Krisis telah memicu perlombaan menemukan vaksin untuk mencegah penyakit Covid-19, bersama dengan obat-obatan dan terapi agar penyakit ini tidak terlalu mematikan.

Remdesivir menjadi salah satu obat yang cara pemberiannya melalui infus. Itu dirancang untuk mengganggu enzim yang mereproduksi materi genetik virus. Dalam tes hewan terhadap SARS dan MERS yang juga akibat virusckorona, obat ini membantu mencegah infeksi dan mengurangi keparahan gejala ketika diberikan cukup awal dalam perjalanan penyakit.

Pembuat obat, Gilead Sciences yang berbasis di Kalifornia, dengan cepat meningkatkan studi sendiri. Perusahaan telah memberikan remdesivir kepada lebih dari 1.700 pasien berdasarkan kasus per kasus. Lebih banyak orang pada akhirnya akan terbantu jika perusahaan melakukan penelitian yang diperlukan untuk membuktikan keamanan dan efektivitas obat tersebut.

“Banyak orang telah menjangkau Gilead untuk mengadvokasi akses ke remdesivir atas nama teman dan orang yang dicintai. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya berada dalam situasi itu. Kami mengambil pendekatan etis dan bertanggung jawab,” kata kepala eksekutif Gilead, Dan O’Day.

O’Day mengatakan, perusahaan memiliki 1,5 juta dosis, yang bisa berarti lebih dari 140.000 program perawatan, tergantung pada berapa lama perawatan perlu berlangsung. Perusahaan itu menyediakan obat secara gratis untuk saat ini dan telah menetapkan tujuan membuat 500.000 kursus pengobatan pada Oktober dan lebih dari satu juta pada akhir tahun.

Gilead juga memasok remdesivir untuk dua penelitian di China yang diharapkan memberi hasil pada akhir bulan. Langkah itu meluncurkan dua studi untuk pasien rawat inap di AS, Asia, Eropa, dan di tempat lain.

“Ada begitu banyak kecemasan tentang penyakit itu sehingga pasien cukup tertarik” kata pemimpin studi di Virginia Commonwealth University di Richmond, Dr. Arun Sanyal, menyatakan tidak ada pasien yang menolak.

Sedangkan Pusat Rumah Sakit Universitas Cleveland telah mendaftarkan sekitar setengah lusin pasien. “Kami melihat semakin banyak orang yang lebih muda, seperti 30, benar-benar sakit,” kata Dr. Grace McComsey.(Rep/Ap)

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Burung Beo di India Kecanduan Opium, Petani Merugi
apahabar.com

Nasional

Antisipasi Teror Bom Jelang Natal, Polisi Pasang Metal Detector di Gereja
apahabar,com

Nasional

Ketua GP Al Washliyah Sorot Video Mesum Mahasiswi Banjarmasin
apahabar.com

Nasional

Pelaku Penyerangan Wiranto Dikenal Jago IT
Wabah Covid-19 Global Lampaui China

Nasional

Wabah Covid-19 Global Lampaui China
apahabar.com

Nasional

Rapat dengan Komisi VIII DPR RI, Menteri PPPA Refocusing Kegiatan dan Anggaran Tangani Covid-19
apahabar.com

Nasional

Wapres: Kinerja Pemerintah Tidak Cukup Dinilai 100 Hari
apahabar.com

Nasional

Venesia Darurat Banjir, Nah!
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com