Istri Polisi Korban Penyerangan Mapolsek Daha: NKRI Harga Mati! PDP-Tracking GTPP Tambah Daftar Warga Kalsel Terjangkit Covid-19 Operasi Anti-Teror di Kalsel, Jumlah Pelaku Kemungkinan Bertambah 5 Terduga Teroris Ditangkap, MUI: Kalsel Bukan Zona Aman PSBB Berakhir, THM-Bioskop di Banjarmasin Terancam Mati Suri




Home Opini

Kamis, 16 April 2020 - 08:50 WIB

Dampak Virus Corona Bagi Guru, Siswa, dan Orang Tua

Triaji Nazulmi - Apahabar.com

Sri Supadmi

Sri Supadmi

Oleh Sri Supadmi

Virus Corona atau sering disebut Covid-19 sedang mewabah di negeri kita. Virus ini begitu cepat menyebar dan dampaknya begitu hebat. Di mana-mana orang membicarakannya. Ada yang ketakutan dan panik, ada yang menanggapi biasa-biasa saja, tetapi ada juga yang menyepelekannya.

Dalam hitungan detik banyak korban yang berjatuhan, bahkan sampai meninggal dunia. Begitu dahsyatnya virus ini menyerang tubuh manusia. Diketahui dari gejala-gejalanya seperti, flu, batuk, tenggorokan sakit, pusing kepala, juga demam tinggi dan kondisi tubuh lemas. Ada juga yang tidak menunjukkan gejala-gejala tersebut, namun begitu dites di laboratorium ternyata positif dinyatakan kena virus Corona.

Pemerintah sendiri sudah melakukan berbagai upaya dalam menangani kasus ini, seperti merujuk rumah sakit-rumah sakit tertentu di segala penjuru kota untuk siap siaga dalam mengantisipasi pasien yang terkena virus Corona. Aparat pemerintah dan instansi terkait juga telah memberikan upaya pencegahan secara serempak yaitu melalui imbauan, sosialisasi juga edaran agar masyarakat kita secara bersama-sama menjaga kesehatan juga pola hidup sehat yang harus diterapkan pada diri masing-masing, yaitu mulai gerakan cuci tangan, membersihkan lingkungan, minum teratur, menjaga kondisi tubuh, makan yang bergizi, menghindari kerumunan juga bersentuhan tangan, apalagi saling berjabat tangan atau berciuman atau lewat bersin seseorang, itu yang membuat virus cepat menyebar.

Bahkan tempat-tempat keramaian, seperti bandara, terminal, stasiun, mall, pasar atau swalayan tak luput dari perhatian pemerintah, yaitu segera diupayakan dibersihkan dengan distinfektan, penyemprotan dan lain-lain. Juga tempat wisata di berbagai tempat, misalnya di pantai, taman hiburan, bioskop, juga mulai ditutup untuk mencegah wabah virus tersebut. Karena virus Corona menyebar melalui benda-benda di sekitar kita juga melalui hubungan kontak, sehingga pemerintah mengimbau agar segala kegiatan yang melibatkan orang banyak untuk sementara ditunda sampai keadaan pulih. Yaitu diusahakan dalam jangka 14 hari. Hal ini dikarenakan virus tersebut penyebaran dalam kurun waktu 14 hari.

Selain itu juga pemerintah langsung tanggap darurat, seluruh siswa dari TK/ Paud, SD, SMP, SMA/SMK hingga perguruan tinggi untuk sementara kegitan belajar mengajarnya melalui daring atau melalui jalur online, karena dikawatirkan akan terkena dampak virus Corona ini. Selama 14 hari yaitu mulai tanggal diumumkannya oleh Pemerintah (16 Maret hingga 31 maret 2020) dan kembali masuk ke sekolah atau kampus tanggal 1 April 2020 seluruh kegitan belajar mengajar di sekolah diliburkan dan diganti tugas secara daring atau online. Kemudian karena semakin meningkat jumlah orang yang terindikasi kena Covid-19 sehingga masa libur diperpanjang hingga tanggal 18 April 2020, dan masuk kembali tanggal 20 April 2020.

Bagi seluruh siswa dari TK hingga perguruan tinggi tentunya mereka meyambut gembira karena merasa libur lama. Selain liburan semester yang sering mereka tunggu-tunggu. Padahal sebenarnya mereka bukan libur total, tetapi belajar di rumah masing- masing dengan diawasi oleh kedua orang tua mereka. Pemerintah mengimbau agar semua guru memberikan tugas secara daring kepada seluruh siswanya. Bahkan bagi yang belum bisa memakai sistem daring segera diajari oleh kepala sekolahnya atau rekan kerja yang mampu IT untuk segera melaksanakan pembelajaran dengan sistem daring tersebut. Dan mewajibkan semua orang tua untuk memantau anak-anak mereka untuk belajar di rumah dan tidak membiarkan anak-anaknya bebas keluyuran atau justru membawa anak-anaknya untuk menikmati liburan dengan berjalan-jalan ke tempat- tempat keramaian seperti berwisata ataupun ke mall untuk berbelanja.

Baca juga :  Covid-19 Jadi Pandemi, Sekjen PBB Minta Kelompok Rentan Diperhatikan

Dalam hal ini pihak sekolah sudah memberikan imbauan yang berupa sosialisasi maupun surat edaran dari Dinas Pendidikan bahwa kedua orang tua siswa tidak diperkenankan melakukan kegiatan di luar rumah, dan tetap memantau perkembangan anak dalam hal belajar di rumah.

Namun yang terjadi masih banyak di antara segelintir orang tua ataupun masyarakat yang menganggap enteng hal tersebut. Sehingga mereka menganggap imbauan tersebut hanya sekedar surat edaran biasa saja. Mereka justru membawa anak-anaknya untuk berjalan-jalan ke tempat wisata, ada yang ke luar Propinsi bahkan nekat ke luar negeri, akhirnya banyak di antara mereka yang terkena dampak virus ini. Orang yang diklat ataupun seminar pun banyak yang positif terkena virus ini. Sehingga imbauan segera meyusul untuk para pegawai ataupun karyawan juga di harapkan untuk bekerja di rumah, yaitu semua pekerjaan dilakukan melalui online.

Virus Corona sangat berdampak bagi dunia pendidikan, sebagian anak-anak yang merasakan dirinya libur selama 14 hari, ada yang merasa senang karena ia merasa bebas tidak hadir ke sekolah. Tetapi seiring berjalannya waktu, setelah melakukan pembelajaran melalui daring, mereka merasa bosan. Ada yang rindu untuk hadir ke sekolah, bertemu dengan kawan-kawannya juga dengan gurunya. Ada juga yang merasa nyaman belajar di sekolah, karena ternyata dalam mengajari anak, gurunya lebih lembut, dan kedua orang tuanya lebih galak dan keras daripada gurunya di sekolah. Ada juga yang merasa rugi libur selama 14 hari, karena mereka tidak mendapatkan uang saku atau uang untuk belanja di sekolah, yang mana sering mereka pakai untuk membeli paket internet bukan untuk jajan. Dengan sekolah libur otomatis mereka tidak mendapatkan uang saku atau uang jajan tersebut.

Bagi orang tua ternyata dampak dari siswa diliburkan selama 14 hari untuk kegiatan belajar di rumah merasakan kualahan dalam membimbing belajar bagi anak-anaknya. Biasanya para orang tua pasrah bulat-bulat masalah pendidikan bagi anaknya kepada guru-gurunya di sekolah, kini giliran mereka untuk mendidik anak mereka masing-masing di rumah mereka merasakan tak sanggup harus melajari semua bidang studi yang belum tentu mereka bisa menguasai semua. Mereka merasa dipusingkan dan tak sanggup, apalagi yang memiliki anak lebih dari satu, misalnya ada anaknya yang masih SD, SMP maupun SMA. Semua harus mereka bimbing dalam belajar, mereka sebagian besar tak sanggup. Apalagi bagi yang memiliki anak yang agak hiperaktif dan memiliki karater yang kurang baik. Orang tua menyadari bahwa ternyata mendidik dan membimbing anak tidak mudah, diperlukan bekal kesabaran, ketekunan juga ilmu yang mumpuni.

Baca juga :  Guru Potensial di Era Milenial

Dengan adanya musibah ini seharusnya semua saling menyadari. Ternyata mendidik anak itu tidak mudah, sehingga diharapkan dengan kejadian ini para orang tua tidak serta merta menyalahkan guru-guru yang sudah banyak berjasa dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya sampai menjadi anak yang berhasil dalam hidupnya. Ucapan terima kasih dari orang tua bukan hanya diwujudkan melalui kata-kata tetapi juga melalui kerjasama yang baik untuk membantu mendidik anak bangsa baik dari segi akademiknya, maupun dari pribadi atau akhlaknya. Karena tugas mendidik anak bangsa adalah tugas bersama antara orang tua, guru juga masyarakat sekitarnya.

Dampak bagi guru dengan adanya Covid-19 ini yang tidak menguasai IT terpaksa harus belajar IT untuk memberikan tugas secara daring atau online terhadap siswanya, agar mempermudah dalam pembelajaran jarak jauh dan mudah mengontrol siswa, misal melalui google clasroom dan sejenisnya. Selain tetap harus bekerja walaupun di rumah, juga berperan ganda sebagai guru bagi anak-anaknya di rumah, dan membimbing siswanya dari rumah melalui Daring sehingga tugas utamanya tetap terlaksana dengan baik.

Selain itu juga dengan adanya musibah ini diharapkan seluruh lapisan masyarakat saling bekerja sama dalam menjaga kesehatan juga kebersihan lingkungan, terutama dalam menjalankan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu juga menambah keimanan dengan cara selalu mendekatkan diri kepada Tuhan YME, mentati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Selalu waspada dan tanggap terhadap bencana, bukan menghindar atau takut, bukan pula acuh cuek dan pasrah kepada nasib. Tetapi harus berusaha untuk terus waspada, dan menghindari sekecil mungkin kerumunan atau kegiatan yang menyangkut orang banyak serta menjaga anak dan keluarga masing-masing agar terhindar dari wabah Corona. Dengan demikian kita semua ikut bekerja sama dengan tim medis yang merupakan garda terdepan dalam memerangi wabah yang sangat membahayakan ini. Kasihan mereka yang siap siaga untuk merawat dan menjaga semua masyarakat sementara kita membiarkan untuk tidak mentaati peraturan yang ada.

*

Penulis adalah Kepala SMPN 2 Kusan Hulu, Kab. Tanah Bumbu, Kalsel.

Share :

Baca Juga

Opini

Benarkah Zonasi Merupakan Jalan Pintas Kualitas Pendidikan?
apahabar.com

Opini

Efektivitas Komunikasi di Tengah Pandemi
apahabar.com

Opini

Menyiapkan Calon Wartawan Profetik di “Journalist Boarding School”
apahabar.com

Opini

Menyoal Pelayanan RSUD
apahabar.com

Opini

Tetty Paruntu: Pak Pratikno yang WA Saya Minta Menghadap Presiden
apahabar.com

Opini

Menuding Yahudi, Meludahi Wajah Sendiri
apahabar.com

Opini

Karmila dalam Bayang-Bayang Politik Patronase Sang Ayah
Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada

Opini

Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada