Cium Bau Gosong, Honda Jazz Terbakar di Banjarmasin Baru Bebas, Napi di Banjarmasin Tusuk Kekasih Eks Istri Ada Ancaman Baru, Banjarmasin Coret 2 Kluster Penyebar Covid-19 Pasien Covid-19 Kabur, RSDI Banjarbaru Gembok Pintu Lagi, Kluster Gowa Tambah Pasien Covid-19 Kotabaru




Home Opini

Sabtu, 18 April 2020 - 20:01 WIB

Islamofobia dan Kumandang Azan dari Radio BBC London

rifad - Apahabar.com

Ilustrasi-Zulfikar

Ilustrasi-Zulfikar

Oleh Puja Mandela

Bukan nomor-nomor klasik The Beatles, The Who, atau The Rolling Stones. Bukan pula lagu-lagu hits dari Queen, Elton John, Oasis atau musisi-musisi Inggris lainnya. Tapi, suara-suara yang mulai sering terdengar dari siaran radio lokal BBC London belakangan ini adalah suara azan. Ya, suara azan yang menjadi tanda panggilan salat untuk umat Islam.

Berdiri pada 18 Oktober 1922, Radio British Broadcasting Company merupakan penggerak kultur pop yang banyak membantu mempopulerkan deretan musisi legendaris yang di antaranya sudah disebutkan di bagian pembuka tulisan ini.

Selama hampir satu abad berdiri, BBC London memang banyak memengaruhi budaya populer masyarakat Britania Raya, bahkan dunia. Pendirinya, John Reith, memiliki visi untuk mengembangkan stasiun radio yang berkonten informatif, edukatif, dan menghibur. Beberapa acara di bawah kendali BBC yang sangat populer, di antaranya Pop Idol, Who Wants to Be a Millionaire?, Britain’s Got Talent, The X Factor, Hell’s Kitchen, atau The Office.

Namun, saat ini hal tak biasa dilakukan BBC London. Mereka menyiarkan suara azan pertama kali dalam sejarah. Lantunan azan disiarkan secara rutin ditambah dengan ceramah agama yang akan dipimpin oleh para imam.

Pihak BBC mengatakan disiarkannya suara azan dan ceramah agama Islam yang dikemas dalam program ‘Islamic Reflections’ merupakan langkah untuk merespons tutupnya masjid-masjid akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak warga muslim harus ‘stay home.’ Di samping itu, juga sekaligus untuk menyambut datangnya Ramadan yang tinggal hitungan hari. Ini tentu menjadi kabar gembira untuk warga muslim Inggris, bahkan tentu saja bagi umat Islam di seluruh dunia.

Selama ini, negara-negara di Eropa memang tak pernah benar-benar melarang azan. Hanya saja suara azan dibatasi untuk lingkungan masjid dan tidak boleh diperdengarkan melalui speaker. Namun, selama pandemi ini masih berlangsung, otoritas negara-negara seperti Belanda, Italia, dan Jerman mulai membuka batasan-batasan itu.

Baca juga :  Tes Wawasan Kebangsaan, Aktor Baru dalam Seleksi Para Calon Abdi Negara

Respons ramah negara-negara Eropa terhadap warga muslim saat ini mungkin akan sulit kita temui pada hari-hari biasa tanpa adanya campur tangan Covid-19 di dalamnya.

Tiba-tiba pikiran saya melayang ke masa lampau. 32 tahun silam, dunia digemparkan dengan sebuah novel ‘The Satanic Verses’ atau ‘Ayat-ayat Setan’ yang dituding umat muslim seluruh dunia sebagai penghinaan kepada Nabi Muhammad. Novel itu diboikot di banyak negara. Penulisnya, Salman Rushdie, pria berkewarganegaraan Inggris kelahiran India, menjadi ‘buronan’ negara-negara Islam.

Pemimpin Iran, Ayatollah Khomeini, menjatuhkan fatwa mati kepada Rushdie. Ia juga menjanjikan uang puluhan miliar bagi orang yang berhasil menangkap penulis novel Ayat-ayat Setan. Mufti Saudi, Bin Baz, mengeluarkan fatwa ‘In Absentia’ untuk Rushdie. Kecaman keras datang dari seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, berita-berita soal Rushdie menjadi headline majalah dan koran-koran saat itu.

Sejak fatwa itu dikeluarkan, ketenangan tak pernah menjumpai Rushdie. Hidupnya penuh dengan ancaman kekerasan, bahkan pembunuhan. Untuk menghindari sorotan publik, dia pun harus memalsukan identitas serta mendapat pengawalan ketat dari pemerintahan Inggris jika berada di luar rumah.

Kemarahan umat Islam kepada Rushdie terus berlangsung selama puluhan tahun. Sialnya, pada 2007 Pemerintah Inggris memberikan gelar kehormatan ‘Sir’ untuk Salman Rushdie. Sebuah penghargaan yang dianggap sebagai penghinaan dari Pemerintah Inggris kepada negara-negara muslim dunia. Meskipun pada akhirnya Rushdie minta maaf dan membuat klarifikasi bahwa sosok Mahound yang menjadi tokoh utama novelnya bukan merujuk pada Nabi Muhammad, kemarahan umat Islam memang tak mudah hilang begitu saja. Fatwa mati dari Pemerintah Iran pun masih berlaku sampai hari ini.

Kasus-kasus islamofobia memang marak terjadi di daratan Eropa. Pada 2019, misalnya, serangan Islamofobia di Prancis sepanjang 2019 naik sampai 54 persen. Ada sekira 100 serangan terhadap umat muslim di Prancis pada 2018. Satu tahun kemudian, jumlah itu naik menjadi 154 kasus.

Baca juga :  Saat Covid-19, Ekspor Limbah Sawit Asal Kaltim Tembus Rp 80 Miliar

Peristiwa lain yang masih terngiang di telinga kita adalah tentang majalah dengan sampul bergambar kartun Nabi Muhammad. Di majalah tersebut, Rasulullah digambar mengenakan serban dengan satu lingkaran berisi tulisan “100 cambukan jika kalian tidak mati karena ketawa.”

Kartun provokatif itu diterbitkan oleh majalah Charlie Hebdo yang akhirnya memantik reaksi keras masyarakat muslim. Hal itu berujung pada peristiwa penembakan di kantor redaksi media tersebut. Charlie Hebdo merupakan media sayap kiri anti-agama yang terkenal dengan kartun-kartun satire yang penuh kontroversi.

Akan tetapi, diputarnya suara azan dan ceramah agama Islam di Radio BBC London dan diperbolehkannya mengumandangkan azan melalui speaker di sejumlah negara-negara Eropa barangkali bisa menjadi pertanda bahwa gelombang islamofobia di Inggris atau bahkan mungkin di Eropa sudah mulai surut.

Itu juga membuktikan bahwa islamofobia tidak perlu dilawan dengan kekerasan dan teror. Kita, umat Islam, sudah cukup belajar bagaimana islamofobia juga terjadi di Mekkah, sesaat setelah Rasulullah diangkat sebagai nabi dan rasul.

Saat itu, penolakan terjadi di mana-mana. Penyiksaan terhadap orang Islam terjadi setiap hari, bahkan sampai pada ancaman pembunuhan. Tapi, apa respons Nabi Muhammad?

Beliau menyikapinya dengan akhlak mulia. Lemparan batu beliau sambut dengan kesabaran. Cacian dan hinaan beliau terima dengan doa-doa kebaikan. Hasilnya? Secara perlahan tokoh-tokoh penting Mekkah satu persatu masuk Islam dan diikuti penduduk Mekkah lainnya.

Hari ini, islamofobia mungkin masih kita jumpai di sejumlah negara lainnya, seperti yang belakangan terjadi di India. Tapi, untuk menghadapinya rasanya kita memang tidak membutuhkan pentungan, senjata api, apalagi aksi bom bunuh diri.

Islamofobia apapun bentuknya harus dilawan dengan cinta dan kasih sayang.

*
Penulis adalah redaktur apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Pesan kepada Kawan

Opini

Vivick Tjangkung  Luncurkan Buku “Melawan Teror Narkoba 8 Penjuru”
apahabar.com

Opini

Peran Besar Para Influencer di Tengah Wabah
apahabar.com

Opini

Jurnalisme Profetik dan Misi Suci Firdaus
apahabar.com

Opini

Corona Bukan Sebab Kematian
apahabar.com

Opini

Jika Belajar Mengajar di Rumah Diperpanjang, Bagaimana Nasib Siswa Berkebutuhan Khusus?
apahabar.com

Opini

Batu Bara dan Sawit Bukan Lagi Andalan, Siapkan Sektor Pariwisata?
apahabar.com

Opini

April yang Sunyi