Penyerang Polsek Daha Simpatisan ISIS, Legislator Kalsel: Agamanya Kurang Breaking News: PDP Kabur di Banjarbaru Akhirnya Ditemukan! Pertama, Kalsel Uji Terapi Pengobatan Pasien Covid-19 Pengganti Vaksin Toko Buah di Teweh Diserbu Pria Bersajam, Dua Perempuan Terluka Polisi Bongkar Makam Korban Pembunuhan Ibu Kandung di Teweh




Home Opini

Rabu, 15 April 2020 - 19:47 WIB

Kabar dari Tuhan

rifad - Apahabar.com

Ilustrasi-Zulfikar

Ilustrasi-Zulfikar

Oleh Puja Mandela

Ada begitu banyak kecemasan. Ada berbagai macam kekhawatiran. Dan ada beragam ketakutan yang sering kali kita temui dalam kehidupan. Tapi, puncak dari semuanya ialah ketika seseorang terancam tidak bisa makan.

Seorang teman yang berprofesi sebagai musisi bercerita bahwa dia sudah tidak bekerja selama satu bulan terakhir. Selama ini, ia mengandalkan pekerjaan sebagai pemain keyboard tunggal untuk menopang urusan dapur yang sejauh ini asapnya tak bisa dibilang tebal.

Dalam satu bulan, biasanya ia bisa menerima beberapa tawaran mengisi acara hiburan di hotel atau dari satu cafe ke cafe lainnya. Sesekali ia menerima honor yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok di rumah kontrakannya.

Ia membuka les musik. Sekadar untuk berbagi pengalaman sembari menambah uang jajan anaknya yang masih sekolah. Penghasilan yang ia dapatkan dari profesinya juga lumayan bisa membuatnya sedikit bernapas lega. Iya, hanya sedikit.

Namun, sejak Corona menginvasi dunia, semua berubah. Acara-acara yang mengumpulkan orang banyak dibatasi. Cafe-cafe tutup, atau minimal para pengunjung tidak diizinkan untuk kumpul-kumpul, menikmati kopi, sembari membicarakan tentang sekelompok manusia yang tak pernah bosan melakukan pertengkaran.

Itu jelas berimbas kepadanya. Dalam sebulan belakangan, ia tak punya pemasukan. Sementara uang tabungannya tentu tidak bisa disejajarkan dengan milik Raffi Ahmad, Atta Halilintar, atau Pak Hotman yang kaya raya itu.

Baca juga :  Mawar dari Sukamta untuk Tenaga Medis di Tala

Keresahan yang sama juga dialami seorang pengelola cafe di bagian terluar sebuah kota yang setelah saya pertimbangkan, tidak akan saya sebutkan di sini. Sudah hampir satu bulan cafenya tutup. Kalau pun terpaksa dibuka, hanya untuk kalangan tertentu saja.

Jauh menyeberang pulau ke arah selatan, seorang ibu yang sedang berdagang didatangi aparat kepolisian. Pak Polisi dengan caranya yang sopan meminta si ibu untuk mematuhi aturan pemerintah untuk melakukan ‘social distancing’. Si ibu diminta untuk tidak berdagang sementara waktu.

“Tapi bagaimana kami bisa makan?” kata si ibu menjawab permintaan Pak Polisi. “Anak kami masih kecil-kecil. Apakah engkau tidak merasa kasihan kepada kami? Kami mengerti situasi yang sedang dihadapi. Tapi mau bagaimana lagi?”

Pak Polisi tertegun. Dengan tetap menjaga perasaan si ibu, Pak Polisi berjanji akan menyampaikan segala keluh kesah ibu berjilbab biru yang sedang membuka lapaknya di pinggir jalan kepada pemerintah.

Situasi yang dialami pemain keyboard, pengelola cafe, dan si ibu itu barangkali juga dialami banyak orang lainnya di belahan bumi yang berbeda. Mereka terjepit dalam situasi sulit. Ingin melangkah maju, tetapi jalanan penuh dengan pecahan beling. Ingin melangkah mundur, namun jurang yang curam sudah menghadang.

Baca juga :  Pesantren Darussalam Martapura dan Pertaruhan Anak Santri

Hari ini, kecemasan-kecemasan itu ada di mana-mana. Ada di gang-gang sempit perkotaan, di bawah jembatan, di tepian sungai darurat, di angkutan-angkutan umum, di kos-kosan, di rumah-rumah kreditan, di rumah gedong berharga miliaran, di kantor-kantor media massa, di dalam pesawat jet pribadi, bahkan di dalam istana negara.

Kecemasan itu barangkali juga ada di dalam hati seorang tukang parkir di depan sebuah toko ritel modern yang tak jauh dari sebuah pertigaan. Kulitnya keriput. Rambut dan jenggotnya berwarna putih. Napasnya agak tersengal. Tapi, ia selalu tersenyum kepada siapa saja yang berpapasan dengannya. Ia begitu ramah kepada dunia, meskipun dunia tampak terlalu kejam untuk dirinya.

Atau barangkali Tuhan sudah mengabarkan kepadanya bahwa ia tak perlu takut kepada dunia. Ia tak perlu takut merasa lapar, sebab ia tahu Tuhan bisa saja menurunkan makanan-makanan dari langit kepada siapa saja yang dikehendakiNya.

*

Penulis adalah redaktur apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Pers Kita di Simpang Pandemi Covid-19
apahabar.com

Opini

Memurnikan Sakit Berbekal Tauhid
apahabar.com

Opini

Mencari Rumah Sastra

Opini

Vivick Tjangkung  Luncurkan Buku “Melawan Teror Narkoba 8 Penjuru”
Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada

Opini

Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada

Opini

Membaca Manaqib, Melestarikan Tradisi Urang Banjar
apahabar.com

Opini

Perppu (Offside) Melawan Covid
apahabar.com

Opini

Menanti Kinerja Wajah Baru Wakil Kalsel di Senayan