Resmi, Palangka Raya Belum Mau Berlakukan New Normal Susul Tanbu, Giliran 3 Pasien Tapin Sembuh dari Covid-19 Cerita Tukang Cukur Banjarmasin Keluhkan Protokol Covid-19 Pemuda Mandastana Genapi 4 Pasien Sembuh Covid-19 di Batola Kebakaran Jalan Manggis, Los Bedakan Diduga Sengaja Dibakar




Home Ceramah

Rabu, 8 April 2020 - 07:30 WIB

Kewajiban Orang yang Menunda Qadha Puasa Hingga Ramadhan

Triaji Nazulmi - Apahabar.com

Ilustrasi. Foto-Istimewa

Ilustrasi. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Tidak sedikit umat Islam yang masih memiliki utang puasa. Khususnya, para Muslimah yang mengalami menstruasi pada Ramadhan tahun lalu. Ada kalanya membayar qadha puasa tertunda karena satu dan lain hal.

Muslimah yang menunda qadha karena suatu keadaan dan kondisi, tetapi ternyata  belum mampu membayar utang puasanya hingga Ramadhan berikutnya memiliki kewajiban tambahan. Dia wajib  membayar fidyah.

Syekh Musthafa al-Bugha dalam Al-Fiqh Al-Manhaji menyebutkan, “Siapa yang luput puasa karena safar atau sakit, wajib baginya qadha sebelum masuk Ramadhan berikut. Jika ia tidak mengqadha karena malas-malasan (tidak ada uzur) hingga masuk Ramadhan berikutnya, ia berdosa.

Selain qadha puasa yang belum ditunaikan, ia juga harus menunaikan fidyah dengan memberi makan pada orang miskin setiap hari yang ia tinggalkan atau tidak berpuasa sebanyak satu mud. “Makanannya berupa makanan yang biasa dimakan di negerinya, lalu disedekahkan kepada fakir miskin.”

Baca juga :  Ramadan Bulan Mendidik Nafsu, Begini Penjelasan Guru Zuhdi

Dalam Majmu’ Fatawa Ibn Baz No 15, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, mantan ketua Lajnah Ad Da’imah atau Komisi Fatwa Arab Saudi, menyebut bagi seseorang yang meninggalkan qadha hingga Ramadhan, padahal tidak memiliki uzur, ia tetap mengqadha puasa sebanyak yang ia tinggalkan dan memberi makan pada orang miskin dengan jumlah hari sebanyak puasa yang ditinggalkan.

“Dia wajib bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dia wajib memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan disertai dengan qadha puasanya. Ukuran makanan untuk orang miskin adalah setengah sha’ Nabawi dari makanan pokok negeri tersebut (kurma, gandum, beras, atau semacamnya) dan ukurannya adalah sekitar 1,5 kg sebagai ukuran pendekatan. Dan, tidak ada kafarat (tebus an) selain itu. Hal inilah yang difatwakan oleh beberapa sahabat, seperti Ibnu Abbas.

Baca juga :  Baca Surah Yasin Malam Nisfu Sya’ban, Mana Dasar Hukumnya?

“Namun, apabila dia menunda qadhanya karena ada uzur, seperti sakit atau bersafar, atau pada wanita karena hamil atau menyusui dan sulit untuk berpuasa, maka tidak ada kewajiban bagi mereka selain mengqadha puasanya,” ujarnya.

Urutan dalam mengqadha puasa pun tidak harus pada pekan yang sama atau berturut- turut. Umat Islam boleh membagi-baginya selama tidak masuk ke bulan Ramadhan berikutnya. (rep)

Editor: Syarif

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ceramah

Kajian Ramadan Bersama Guru Zuhdi; Adanya Alam Bukti Adanya Tuhan
apahabar.com

Ceramah

Rasulullah Mengutamakan Kelembutan Hati di Atas Kemarahannya
apahabar.com

Ceramah

Guru Fadhlan; Semua Nikmat Adalah Berkat Rasulullah
apahabar.com

Ceramah

Menyoal Salat Ied Massal, Ustaz Khairullah: Jangan Mengundang Mudharat
apahabar.com

Ceramah

Bolehkah Berpuasa Tanpa Menjalankan Salat? Begini Tanggapan MUI Kalsel
apahabar.com

Ceramah

Jangan Khawatirkan Majelis Taklim
apahabar.com

Ceramah

Guru Hasanuddin Betulkan Kesalahpahaman Masyarakat di Haul Syekh Samman
apahabar.com

Ceramah

Maksiat, Layaknya Menebar Duri di Jalan Sendiri