Tambah 103 Kasus, Semua Kelurahan di Banjarmasin Kini Zona Merah! Kalsel Jadi Atensi Presiden, Cuncung Minta GTPP Proaktif Eks Pacar Bidan Pembunuh Anak di Barito Utara Diperiksa Banjarmasin Buka Rumah Ibadah, Kemenag: Wajib Kantongi Suket Kalsel Diatensi Presiden, Warga Banjarbaru Sabar Dulu




Home Opini

Selasa, 21 April 2020 - 10:14 WIB

Kunci Sukses Pelaksanaan PSBB

Uploader - Apahabar.com

Dr.dr.Syamsul Arifin

Dr.dr.Syamsul Arifin

Oleh: Dr.dr.Syamsul Arifin

KEPATUHAN dan kesadaran masyarakat merupakan kunci utama agar pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 efektif. Agar kesadaran masyarakat pada kota Banjarmasin tinggi terhadap pelaksanaan PSBB, maka perlu suatu strategi efektif yang harus diterapkan.

Strategi yang dapat dijadikan sebagai upaya memperbaiki perilaku kesadaran masyarakat tersebut adalah dengan  mengelaborasi  4 (empat) teori perilaku kepatuhan  yaitu  menurut WHO (1984), Janz & Becker (1984), Taylor (1991) dan Marcus (2009).

Melalui pendekatan beberapa teori ini, maka faktor yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Kota, swasta dan masyarakat profesional untuk mendorong kesadaran masyarakat adalah upaya meminimalkan barrier, informasi lengkap (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefitsm), cues to action, pemberdayaan, tokoh panutan, dan paksaan (penegakkan aturan dengan tegas).

1. Meminimalkan barrier (hambatan)

Pelaksanaan PSBB mengharuskan masyarakat untuk semaksimal mungkin agar stay at home minimal 14 hari. Agar masyarakat dapat melaksanakannya dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan perilaku masyarakat yang tidak mengikuti aturan ini. Hal-hal tersebut adalah:

a. Kejenuhan di rumah

Kejenuhan dan kebosan merupakan suatu hal yang lumrah, apalagi dalam waktu lama tinggal di rumah. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah modifikasi pembelajaran yang menarik terutama untuk siswa SD-SMA (karena populasi ini merupakan populasi besar dalam masyarakat) , terhubung secara digital dengan teman dan saudara tanpa berlebihan, olah raga, menjalakan aktivitas  sesuai hobby, menayangkan acara telivisi lokal dan siaran radio yang variatif dan menarik.

b. Pemenuhan kebutuhan pokok

Terkadang ada anggapan di masyarakat lebih baik keluar rumah untuk kerja, karena jika tidak kerja besok makan apa, jika tidak makan juga akhirnya meninggal. Beberapa hal yang bisa diterapkan adalah menggiatkan enterpreneursip rumah tangga melalui home industri, home drink and food, shopping online. Disamping pemberian bantuan sosial yang tepat sasaran.

c. Kesulitan mendapatkan kebutuhan sehari-hari dan logistik kesehatan

Agar kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi dengan mudah tanpa mengharuskan masyarakat keluar rumah, maka harus didorong penyediaan jasa layanan secara online untuk keperluan antar jemput barang. Disamping itu harus selalu diperhatikan semua kebutuhan kesehatan, seperti masker, hand sanitizer dan sabun cuci tangan dapat terpenuhi dengan mudah dan murah.

d. Kesulitan akses informasi kesehatan pada instansi Pemerintah

Jika masyarakat sulit mendapatkan akses  informasi layanan dn konsultasi kesehatan, menyebabkan masyarakat akan keluar rumah untuk memperolehnya. Untuk itu penyediaan “ Call center”  yang tanggap dan ramah untuk mengarahkan masyarakat sangat diperlukan.

Baca juga :  Kabur dari RS, Pasien Positif Covid-19 di Pasar Lama Didatangi Petugas

2. Informasi lengkap tentang Covid 19

Informasi lengkap tentang Covid 19, sangat diperlukan agar masyarakat dapat mempertimbangkan setiap perilakunya dengan sebaik-baiknya. Jika selama ini informasi sebagian besar hanya menekankan satu aspek saja terhadap penyakit ini, seolah-olah masyarakat tak peduli terhadap kondisi pandemi ini. Untuk itu penyampaian informasi tentang Covid 19 harus memuat:

1. Perceived susceptibility

Aspek ini memuat tentang faktor yang menjadi kerentanan seseorang untuk menderita penyakit Covid 19, antara lain orang lanjut usia (60 tahun ke atas), orang dengan riwayat kondisi tertentu (diabetes, infeksi pernapasan akut, asma, penyakit jantung, hipertensi, kanker, perokok, penderita HIV atau AIDS, orang yang melakukan transplantasi organ atau sumsum tulang, serta orang yang mengkonsumsi obat kortikosteroid dosis tinggi), tenaga medis di rumah sakit dan anak-anak.

2. Perceived severity

Aspek ini memuat tentang faktor yang menyebabkan penyakit Covid 19 merupakan penyakit yang serius.Beberapa hal yang harus disampaikan adalah penularan virus yang mudah terutama melalui droplet di udara, virus dengan penularan yang cepat dan komplikasi berat  yang ditimbulkan (pneumonia, gagal napas akut, acute respiratory distress syndrome (ARDS), kerusakan hati akut, kerusakan jantung, infeksi sekunder, gagal ginjal akut, syok septik, disseminated intravascular coagulation (DIC), rhabdomyolisis.

3. Perceived Benefitsm

Aspek ini memuat tentang faktor yang menguntungkan dari coronavirus, sehingga masyarakat tetap optimis dapat melawan virus ini. Meskipun menyebar dengan cepat, virus corona juga masih punya kelemahan yang bisa dimanfaatkan untuk memutus rantai penularan.

Faktor yang harus diketahui oleh masyarakat tentang virus ini adalah virus mudah hilang dengan pelarut lemak (sabun yang digunakan sehari-hari), penyakit ini bisa dikalahkan dengan antibodi (Infeksi Covid-19 bisa terjadi dalam beberapa tingkat keparahan, mulai dari yang ringan hingga parah.

Pada pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan, infeksi ini bisa sembuh dengan sendirinya selama daya tahan tubuhnya baik). Virus bisa dibunuh dengan disinfektan (virus tersebut dianggap bisa nonaktif dengan bahan disinfektan seperti alkohol dengan kadar 60-70%, hidrogen peroksida 0,5%, atau sodium hipoklorit 0,1% dalam waktu 1 menit), virus melemah di suhu panas (sejauh ini belum ada penelitian yang menyebut bahwa virus penyebab Covid-19 lemah terhadap panas. Namun, coronavirus penyebab penyakit SARS, terbukti bisa melemah pada suhu panas.

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), virus penyebab SARS bisa terbunuh pada suhu 56°C) dan virus tidak bisa bertahan lama di permukaan (sehingga baik WHO maupun Kementerian Kesehatan RI tidak melarang pengiriman paket antar negara karena risiko penularan melalui media pengiriman paket tersebut sangatlah rendah).

Baca juga :  Naik Drastis, Positif Covid-19 di Tanbu Jadi 12 Orang

3. Cues to action

Agar setiap pesan atau informasi dapat selalui diingat oleh masyarakat, maka perlu pengingat yang kuat terhadap pesan-pesan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan pembuatan media-media peyuluhan yang masif baik berupa baleho, poster, spanduk yang disampaikan melalui cetak maupun online. Terlebih jika dapat disampaikan pada setiap koran dan telivisi lokal harus memuat iklan kesehatan, khususnya tentang Covid 19.

4. Pemberdayaan masyarakat

Dengan pemberdayaan atau pelibatan masyarakat secara luas pada perang terhadap corona, maka akan memunculkan kepedulian masyarakat yang tinggi. Pemberdayaan ini dapat dimulai di tingkat RT (Rukun Tetangga) masing-masing dengan “Program RT Tanggap Corona” Melalui program ini dapat dibentuk gugus tugas tingkat RT yang antara lain  berfungsi untuk sosialisasi dan pemantauan pelaksanaan PSBB,  mengkoordinasikan pemenuhan kebutuhan pokok bagi warga yang tidak mampu dari berbagai sumber, memberikan dukungan psikososial terutama bagi pasien dan keluarga yang positif, akses informasi ke fasilitas pelayanan kesehatan.

5. Tokoh Panutan yang ditealadani

Peran tokoh panutan dalam mendorong kesadaran masyarakat terhadap sesuai aturan/ perilaku sangatlah penting. Dengan masih kentalnya  suasana kekerabatan dan keagamaan di yang dimiliki, maka peran tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam mengkampayekan PSBB ini terhadap  masyarakat sangatlah penting. Namun demikian, peran tokoh pemuda juga jangan diabaikan.

6. Paksaan (penegakkan aturan dengan tegas).

Penegakkan aturan  PSBB dengan tegas oleh institusi yang berwenang juga merupakan langkah yang dapat diterapkan. Akan tetapi seyogyanya langkah ini merupakan alternatif terakhir yang diterapkan. Pemberian sanksi fisik pada saat sekarang bukan merupakan pilihan yang tepat, disamping saat pandemi ini kita diharapkan selalu sehat, maka sanksi yang lebih tepat adalah denda. Karena di saat pandemi ini hampir semua orang mengalami penurunan pendapatan, sehingga sanksi ini dipastikan merupakan sanksi yang berat bagi masyarakat yang akibat pandemi ini juga mengalami krisis ekonomi.

Dengan memperhatikan seluruh faktor di atas, semoga pelaksanaan PSBB khususnya di Kota Banjarmasin dapat sukses dan out come yang di hasilkan berupa penurunan signifikan  kasus Coronavirus disease dapat tercapai.

Penulis adalah Pakar Ilmu Kesehatan Masyarakat FK ULM

======================================================================

Isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab pengirim.

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Hadapi Covid-19: Langkah Social Distancing dan Lockdown dalam Perspektif Hukum
apahabar.com

Opini

Puasa Jadi Perisai di Tengah Covid-19
apahabar.com

Opini

Komisi III Labrak Etika Publik
apahabar.com

Opini

Wartawan Kita  
apahabar.com

Opini

Wafatnya Guru Zuhdi, Sayap Aswaja Terasa Timpang
apahabar.com

Opini

‘Membayar Investasi’ Politik
apahabar.com

Opini

Pemimpin Sebagai Ujung Tombak Kualitas Kebijakan Publik
apahabar.com

Opini

Efektivitas Komunikasi di Tengah Pandemi