Cerita Sukses Trader Forex Banjarmasin, Modal Rp 15 Juta Berangkatkan Umrah Keluarga 3 Jam Hujan Deras, Ratusan Rumah Warga Desa Miawa Tapin Kebanjiran Kisah Pilu Istri Korban Disambar Buaya di Kotabaru, Harus Rawat 4 Anak, 1 di Antaranya Berusia 6 Bulan Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah Produksi Migas Kalimantan-Sulawesi Lampaui Target, Kok Bisa?

Menengok Sejarah Astambul, Mencari ‘Kota’ yang Hilang

- Apahabar.com Kamis, 16 April 2020 - 10:10 WIB

Menengok Sejarah Astambul, Mencari ‘Kota’ yang Hilang

Ilustrasi. Foto-Net

Oleh: Muhammad Bulkini

Sudah sejak lama wilayah ini bernama Astambul. Siapa yang menamainya? Wallahu’alam. Nama tersebut tidak ada dalam kosa kata Banjar. Dengan demikian, penamaan itu berkemungkinan terinspirasi dengan nama tempat lain di luar wilayah ini. Nama yang lebih mendekati adalah Istambul, Ibu kota turki sebelum 1923 M. Hanya ada perbedaan fathah dan kasroh pada alif pertama di antara nama keduanya.

Sebuah cerita beredar di masyarakat, dulu ada kunjungan warga Turki ke wilayah ini. Ketika ditanya asal, dia menyebutkan Istambul. Nama itu diduga menjadi penamaan wilayah Astambul di kemudian hari.

Beberapa sumber mengakui, seorang warga Turki tersebut kemudian dimakamkan di desa Kaliukan, warga kemudian menjulukinya dengan Datuk Tampilu.
Desa Kaliukan adalah salah satu desa yang paling dekat dengan sungai besar (yang kemudian mati). Seperti diketahui, sungai adalah jalur utama transportasi saat itu. Sehingga, “kota” yang dicari ini diduga sudah dikenal di manca negara, mengingat datangnya seorang warga Turki yang dipercaya sebagai ulama di wilayah ini.

Menurut Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya Kalimantan (LKS2B), Mansyur, pada peta Belanda yang dimuat Jaan Andriaan Hooze pada 1859-1863 M, nama Astambul sudah ada dengan ejaan Astamboel. Wilayah ini, kata pakar sejarah Banjar tersebut, merupakan basis perjuangan di masa Perang Banjar (1859-1863 M) di bawah komando Tumenggung Gamar.

Dosen Sejarah ULM itu mengaku sedikit sekali mendapatkan informasi terkait Astambul. Namun dia berjanji akan kembali menghubungi jika mendapatkan informasi terbaru tentang wilayah ini.

Di mana tepatnya kota itu?

Masyarakat sekitar mempercayai bahwa dulu ada sebuah pemerintahan di wilayah Astambul, tepatnya di wilayah desa Pasar Jati, Tambak Danau (Tatah), Sungai Alat, dan Kaliukan. Warga sekitar menyebut pemerintahan di sana sebagai sebuah kerajaan. Kerajaan yang kemudian hilang.

Hilangnya kerajaan dan kota itu menurut warga dikarenakan suatu peristiwa yang membuat raja murka. Suatu ketika, putri raja yang mandi di sungai hilang. Raja pun memerintahkan seluruh rakyat untuk mencarinya. Setelah tidak ditemukan, raja mengupayakan pencarian lebih ekstrem, dengan menutup aliran sungai (bahasa Banjar: Tabat). Sayangnya, sang putri tetap tidak ditemukan. Raja murka dan mengusir semua rakyatnya.

Dari pengusiran itu, terbangunlah beberapa desa, di antaranya Pasar Jati, Tambak Danau (Tatah), Kaliukan, Sungai (sei) Alat, Pematang Hambawang, dan sekitarnya. Khusus untuk nama Sungai Alat, dimungkinkan terinspirasi dari ditutupnya sungai itu. Sebab nama alat juga bisa diartikan serupa dengan nama Tabat.

Hingga kini, sungai itu dibiarkan mati. Bukti sejarah yang ditemukan adalah adanya Tabat dengan kayu ulin yang sudah berumur tua serta sungai yang sebagiannya dijadikan sawah oleh warga.

Selain itu, terdapat pula pecahan perabotan penduduk di masa itu. Tak jarang, petani menemukan barang berharga dari peninggalan masa lalu.
Kapan kemungkinan peristiwa itu terjadi?

Menurut perkiraan penulis peristiwa itu terjadi sebelum masa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Mengingat, Datuk Kelampayan –Ulama itu dikenal- kemudian membuat sungai baru di wilayah Astambul, yang kemudian di sisinya tumbuh sebuah desa bernama Sungai Tuan.

Alasan kedua, ketika Datuk Kelampayan pergi ke wilayah Hulu Sungai (dari Martapura) beliau memilih melalui jalur darat. Jalur tersebut kemudian diberi nama Tatah (nama lama dari desa Tambak Danau). Kata Tatah menurut warga di sana memiliki padanan kata Antasan, yakni jalur cepat.

Seandainya sungai itu masih berfungsi, tentu Datuk Kelampayan lebih memilih sungai besar untuk menjadi jalur yang ditempuhnya.
Kendati demikian, alasan itu tidak begitu kuat mengingat di sekitar Tabat ada sebuah jalan yang dinamakan jalan regent. Regent sendiri adalah nama pejabat sederajat bupati di pemerintahan Belanda.

Jika pemerintahan yang ada di sana adalah pemerintahan Belanda, maka sudah tentu masanya setelah zaman Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Karena ulama besar itu dilahirkan pada 1710 M. Sedangkan Pemerintah Belanda baru menghapuskan Kesultanan Banjar pada tahun 1860 dan menggantinya dengan pemerintahan regent yang berkedudukan masing-masing di Martapura (Pangeran Jaya Pemenang) dan di Amuntai (Raden Adipati Danu Raja). Jabatan regent di daerah ini akhirnya dihapuskan pada tahun 1884 (wikipedia).

Lantas bagaimana membuktikannya?

Untuk mengetahui kapan kerajaan itu berdiri, setidaknya ada satu opsi yang lebih mendekati akurat, yakni meminta tim arkeologi melakukan penelitian umur kayu ulin yang berada di Tabat tersebut.

Dengan begitu, selangkah lagi kita menemukan “kota” yang hilang, kota yang mungkin tak dirindukan.

*)

Penulis adalah Redaktur di apahabar.com

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

B30 Terkesan Dipaksakan, dan Tak Sepenuhnya Sesuai NDPE
apahabar.com

Opini

Guru dan Nilai-Nilai
apahabar.com

Opini

Penyalahgunaan Narkoba di Tengah Wabah
apahabar.com

Opini

Update Covid-19 di Indonesia: Positif 31.186, Sembuh 10.498 Orang
apahabar.com

Opini

Reses: Menagih Janji yang Tersumpah
apahabar.com

Opini

‘Membayar Investasi’ Politik
apahabar.com

Opini

John Tralala, Saya, dan Anu Ai…
apahabar.com

Opini

Kebijakan Deliberatif Dalam Upaya Penanganan Permasalahan BLT Covid-19
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com