Siap-Siap, Ditlantas Polda Kalsel Bakal Uji Coba Tilang Elektronik Usai Banjir Siapkan Hunian Layak, Polda Kalteng Bangun Rusun Bagi Anggota BPPTKG: Volume Kubah Lava Merapi Masih Tergolong Kecil Sedikit Surut, Puluhan Rumah di Martapura Masih Terendam Banjir Tahap 3, Belasan Koli Vaksin Covid-19 Tiba di Kalsel

Menyambut Ramadan di Kala Pandemi

- Apahabar.com Senin, 20 April 2020 - 10:17 WIB

Menyambut Ramadan di Kala Pandemi

Aditya Irfiandi

Oleh: Aditya Irfiandi

HILAL Ramadan sebentar lagi tampak. Umat muslim seluruh dunia akan menyambutnya dengan penuh keagungan. Namun, jika biasanya, terutama di Indonesia, bulan Ramadan disambut semarak dengan pawai atau kirab, kali ini suasananya mungkin agak berbeda.

Seperti yang sudah banyak diketahui, wabah virus Corona menyerang negeri hingga menjadi pandemi. Daerah-daerah yang terkena zona merah melakukan pencegahan serius. Gugus Covid-19 dibentuk. Berbagai lembaga, organisasi, dan masyarakat saling bekerja sama untuk megentaskan wabah ini.

Banyak daerah sudah melarang adanya perkumpulan. Ibadah yang melibatkan banyak orang mulai dibatasi. Hal ini tentu berdampak pada pelaksanaan kegiatan Ramadan yang kegiatannya melibatkan banyak orang seperti buka puasa bersama, salat tarawih berjemaah, tadarus Al-Qur’an dan sahur bersama. Tahun ini, kita mungkin tidak akan menjumpai ramainya pasar Ramadan dan tak akan menemui orang-orang yang jalan-jalan setelah salat subuh.

Kesalehan dan kefaqihan kita sedang diuji. Misalnya, ketika pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia melarang warga untuk meniadakan pasar wadai Ramadan, barangkali kita memang disuruh untuk menikmati masakan istri di rumah. Hal ini tentu bernilai positif. Sebab, uang yang kita miliki tidak akan kita hambur-hamburkan untuk membeli makanan yang tidak perlu atau menggelar buka bersama di restoran mahal yang biasanya justru melupakan kita dengan salat magrib.

Seorang yang saleh dan namanya tercantum dalam Al-Qur’an bernama Lukman, berkata pada anaknya:

“Wahai anakku, ketahuilah bahwa emas dan perak diuji keampuhannya dengan api sedangkan seorang mukmin diuji dengan ditimpakan musibah”.

Kisah Lukman inilah yang seharusnya dipegang seorang mukmin saat menghadapi musibah. Jika itu datangnya dari Allah SWT maka akan ada kebaikan untuknya.

Selain harus mewaspadai wabah ini, kita juga mesti sadar bahwa Allah tidak akan pernah melakukan kezaliman terhadap hambanya yang bertakwa. Untuk itu seorang muslim harus jeli menangkap hikmah di balik musibah ini.

Salah satu fungsi dari ujian adalah untuk membersihkan segala bentuk dosa. Anas bin Malik menuturkan sabda Rasulullah “Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, dia akan segera kan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat akan di tunaikan pada hari kiamat kelak. (HR Tirmidzi).

Bayangkan betapa bahagia jika musibah ini dapat membersihkan semua dosa-dosa kita, sehingga perjumpaan kita dengan Ramadhan kali ini dalam keadaan bersih tanpa noda. Lalu, saat keluar dari bulan Ramadan, kita benar-benar menjadi insan nan fitri.

Dari Anas bin Malik. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya pahala besar karena belasan ujian yang berat. Sungguh Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridha maka ia akan meraih ridha Allah. Barangsiapa yang tidak suka maka Allah pun akan murka. (HR Ibnu Majah)

Momentum saat inilah yang tepat untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada Allah SWT. Wabah ini juga merupakan anugerah untuk kita dan bertaubat kepadaNya.

Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hambanya melebihi kegembiraan seorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang disuatu tanah yang luas.” (HR Bukhari Muslim).

Wabah ini memang sedang benar-benar menguji kita. Walau demikian, semoga hal ini tidak menyurutkan kita dalam menyambut datangnya bulan yang agung dan mulia serta tidak mengurangi aktivitas amal ibadah kita saat Ramadan nanti.

Mungkin inilah cara Allah untuk menjadikan kita lebih fokus dan khusyuk beribadah di bulan Ramadan, menguatkan keiman kita sekaligus menyadarkan sifat penghambaan kita sebagai hamba yang bertakwa.

Mari kita sambut datangnya bulan suci Ramadan. Kita buktikan bahwa ujian ini makin menguatkan tekad kita untuk menjadi hamba yang bertakwa, menjadi hamba yang bersyukur atas segala karunia dan anugrahNya, dan menjadi hamba yang selalu tunduk dengan semua aturan-aturanNya.

Penulis adalah Guru di SMKN 1 Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu.

======================================================================

Isi tulisan sepenuhnya tanggung jawab pengirim.

Editor: Kiki - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Alumni Pesantren VS Ustadz Karbitan
apahabar.com

Opini

Hadapi Covid-19: Langkah Social Distancing dan Lockdown dalam Perspektif Hukum
apahabar.com

Opini

Bubarkan Banser! Hah?
apahabar.com

Opini

Update Covid-19 di Indonesia: Positif 31.186, Sembuh 10.498 Orang
apahabar.com

Opini

Pemimpin dan Lingkungan Hidup
apahabar.com

Opini

Sebuah Kritik untuk Buku Kritik
apahabar.com

Opini

Reses: Menagih Janji yang Tersumpah
apahabar.com

Opini

Sisi Terang Pandemi dalam Optimisme Guru
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com