Tuduhan Tak Terbukti, IRT Banjarmasin Bebas Usai 60 Hari Ditahan Geger! Buaya Liar Masuk Kolam Musala SKJ Kotabaru [FOTO] Jumat Kelabu di Turunan Maut Rapak Balikpapan Eks TKP Penusukan Bakal Rumjab Wali Kota Banjarmasin Tebing Longsor di Panaan Tabalong, 1 Rumah Rusak Parah

Nabi Palsu di HST Dituntut 3 Tahun Penjara, PH Siap Ajukan Pledoi

- Apahabar.com     Jumat, 17 April 2020 - 09:53 WITA

Nabi Palsu di HST Dituntut 3 Tahun Penjara, PH Siap Ajukan Pledoi

Sidang kedua sebelum pandemi Covid 19 terdeteksi di Indonesia, terdakwa Nasruddin bersalaman dengan keluarga dan para muridnya sebelum memasuki Ruang Sidang Kartika di PN Barabai Kelas II, Kamis, 5 Maret lalu.Foto-apahabar.com/Lazuardi.

apahabar.com, BARABAI – Nabi palsu di Hulu Sungai Tengah (HST), Nasruddin dituntut 3 tahun penjara. Sang panasehat hukum (PH) terdakwa siap melakukan pembelaan atau pledoi, Kamis (23/4) depan.

Pada sidang keenam kasus penistaan atau penodaan agama yang didakwakan kepada Nasruddin (60) pengaku nabi, JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) HST membacakan tuntutannya, Kamis (16/4) kemarin.

Sidang pembacaan tuntutan dilakukan dengan video konferensi di Kantor Kejari HST.

Saluran itu yang terhubung dengan majelis hakim dan Penasehat Hukum (PH) di Pengadilan Negeri (PN) Barabai serta terdakwa yang berada di Rutan Barabai, Kamis (16/4).

Dalam kasus penodaan agama itu, JPU meminta agar majelis hakim PN Barabai yang diketuai Eka Ratna Widiastuti serta dua hakim anggotanya, Ariansyah dan Novita Witri supaya memeriksa dan mengadil terdakwa.

Tuntutan JPU kepada Majelis, agar terdakwa dijatuhi hukuman 3 tahun penjara.

“Dari tuntutan ini, pada intinya JPU menyimpulkan, dari hasil persidangan awal sampai hari ini bahwa terdakwa melanggar ketentuan Pasal 156 huruf a,” kata Kajari HST, Trimo di kantornya.

Tuntutan itu, kata Trimo berdasarkan hasil kesimpulan alat bukti yang pernah diajaukan.

Mulai dari keterangan para saksi seperti anggota MUI, masyarakat hingga ahli agama, hukum pidana dan kejiwaan.

Dari kesimpulan itu, lanjut Trimo, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan dan melakukan perbuatan yang bersifat penodaan terhadap Islam.

“Dari simpulan alat bukti itu disampimg alat bukti surat, jaksa dapat membuktikan bahwa terdakwa sah dan meyakinkan telah melanggar ketentuan Pasal 156 a KUHP,” tegas Trimo.

JPU Prihanida Dwi Saputra menambahkan, hal-hal yang memberatkan terdakwa yakni, perbuatan terdakwa merusak aqidah dan ajaran Islam serta melukai perasaan serta meresahkan masyarakat HST yang agamis.

“Terdakwa juga tidak menyesali perbuatannya,” ujar jaksa yang kerab disapa Mas Han ini.

Dihubungi apahabar.com usai sidang pembacaan tutntutan itu, PH terdakwa, Akhmad Gazali Nor mengatakan menghormati PU dan putusannya.

“Pada dasarnya kami menghormati pendapat dengan tuntutannya yg menyatakan terdakwa terbukti melakukan tindak pidana Pasal 156a KUHP,” kata Gazali.

Karena sidang kali ini merupakan tuntutan bukan putusan, PH tetap akan melakukan pembelaan atau pleidoi.

Pleidoi yang dimaksud PH yakni, tentang hal yang memberatkan terdakwa yang tidak menyesali perbuatannya.

“Ini salah satunya, mungkin JPU lupa bahwa terdakwa mengalami gangguan jiwa berat atau gangguan waham menetap yang salah satu indikatornya teguh dengan pendiriannya,” kata Gazali.

Untuk diketahui, agenda persidangan berikutnya yakni, pembelaan terdakwa. Agenda ini akan digelar Kamis depan (23/4).

Sebelumnya, terkait gangguan jiwa berat yang dialami terdakwa, saksi ahli dari Rumah Sakit Hasan Basry Kandangan, Dokter Sofyan Saragih telah memberikan keterangannya di persidangan, Kamis (9/4) lalu.

Dalam keterangan Saragih, terdakwa mengalami gangguan jiwa berat. Namun bukan gangguan jiwa seperti yang dibayangkan.

Dalam kasus Nasruddin, Saragih menegaskan, terdakwa mengalami suatu kondisi yakni, waham menetap. Terdakwa mengalami gejala itu sudah cukup lama.

Waham itu dikenal sebagai ‘persistent delusional disorder’ yang merupakan gangguan mental yang jarang ditemukan dengan waham sebagai satu-satunya gejala utamanya.

“Secara memori dia (terdakwa) bagus, normal, mampu berfikir jernih. Kecuali dalam hal keyakinan. Di luar itu, dia normal,” kata Sofyan saat diperiksa keterangannya pada sidang kelima di PN Barabai Kelas II waktu itu.

Waham menetap itu, terang Saragih, merupakan suatu keyakinan yang tidak wajar, tidak realitis, tidak bisa dikoreksi/digoyahkan, sangat diyakini dan tidak menganut pada pemahaman budaya ataupun spiritual lingkungan setempat.

“Jadi bagaimanapun upaya orang disekitar mengatakan sesuatu itu tidak benar, dia (terdakwa) tidak goyah. Dia tetap pada keyakinannya,” terang Sofyan yang telah mengobservasi kejiawaan terdakwa sejak 9 Desember 2019-4 Januari 2020 lalu.

Waham menetap ini pun, kata Saragih, konsisten permanen.

“Jadi walaupun diobati, itu hanya mengurangi tidak menghilangkan. Namun juga tidak menutup kemungkinan disembuhkan. Tergantung kepatuhan orangnya,” terang ahli kejiwaan yang dihadirkan jaksa ini.

Saat di persidangan yang agendanya menghadirkan saksi ahli, saksi meringankan dan eksepsi saat itu, Saragih mengusulkan agar terdakwa diisolasi di ruang terpisah dari tahanan lain.

Sebab, waham yang diderita terdakwa, terlebih tentang faham atau kepercayaannya yang diyakininya, bisa menginduksi (menularkan) ke orang lain.

“Kalau memang keputusan hakim nantinya dipenjara, sebaiknya diisolasi di ruang khusus,” tutup Saragih.

Reporter: HN Lazuardi
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Dua Fraksi DPRD Atensi Besaran Sisa Anggaran 2019 Pemprov Kalsel
apahabar.com

Kalsel

ABK Trans Power Lenyap di Sungai Barito, Relawan Temukan Alat Selam
Menteri Basuki

Kalsel

Menteri Basuki: Target Konstruksi Tahap II SPAM Banjarbakula Rampung 2021
apahabar.com

Kalsel

Sosialisasi Perbup Tanah Laut, Polsek Panyipatan Datangi Pantai Batakan
Kakek

Kalsel

Viral Kakek Berlumuran Darah di Landasan Ulin, Korban Tabrak Lari atau Penganiayaan?
apahabar.com

Kalsel

Emosi, Petani Kandangan Tebas Dua Pemuda hingga Sekarat
apahabar.com

Kalsel

Pansus DPRD Tapin Nilai Upaya Pencegahan Covid-19 Masih Kurang
apahabar.com

Kalsel

DAK Kementerian PUPR Dinilai Seret, Pembangunan Jembatan di Banjarmasin Tak Penuhi Target?
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com