ga('send', 'pageview');
Sekelumit Peran BRG di Kalsel, Lembaga yang Bakal Dibubarkan Jokowi Jadi Gubernur Butuh Rp100 Miliar, Rosehan: Saya Tak Punya Uang Horeee, Temuan Vaksin Bikin Rupiah Berpeluang Menguat Sidak ke HBI, Petugas Sindir Pengelola Nashville Pub Salip Pekapuran, Teluk Dalam Tertinggi Kasus Covid-19 di Banjarmasin




Home Opini

Minggu, 12 April 2020 - 19:27 WIB

Nestapa Tenaga Medis

Redaksi - Apahabar.com

Ilustrasi-Zulfikar

Ilustrasi-Zulfikar

Oleh Puja Mandela

Orang-orang berkerumun. Di antara mereka, seorang ibu meneteskan air mata. Ia menangis. Ia memohon-mohon kepada sekelompok manusia di hadapannya agar mau mengabulkan permohonannya yang sederhana: menerima pemakaman putri kesayangannya.

Tapi, pria-pria itu tak mengabulkan permintaannya. Mereka malah meminta si ibu untuk pulang membawa serta jenazah putrinya. Padahal, liang lahat sudah terlanjur digali.

Begitulah, kita baru saja dikejutkan dengan peristiwa yang menusuk ulu hati kita semua. Anak si ibu adalah seorang perawat di RS Kariadi Semarang. Dia terinfeksi virus setelah beberapa hari merawat seorang pasien positif Corona sebelum meninggal di rumah sakit itu. Memang pada akhirnya jenazah dimakamkan di pemakaman milik rumah sakit yakni TPU Bergota Semarang. Namun, hal itu dilakukan setelah pemerintah setempat turun tangan.

Sama halnya dengan petugas medis lainnya, perawat malang itu tentu mengalami situasi yang jauh dari kata menyenangkan. Dia harus mampu mengalahkan rasa takut dan menghapus kecemasan yang ia rasakan menjadi semangat perjuangan untuk kemanusiaan.

Belum lagi dalam proses merawat pasien, ia harus mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap: penutup kepala, pelindung mata, masker N95, sarung tangan, baju khusus, dan sepatu boots. Jelas ini bukan perkara mudah. Perlu mentalitas baja, fisik prima, dan barangkali sesuatu bernama keberuntungan. Sayangnya, perawat di Semarang itu termasuk orang yang tidak beruntung di akhir hayatnya.

“Kami berikan jasa kami. Jangan tolak jasad kami.” Begitu isi pesan yang disampaikan 8 perawat melalui sebuah foto yang tersebar di media sosial.

Selama Covid-19 menyerang negeri kita, para perawat memang menerima banyak stigma negatif dari sebagian kelompok masyarakat.

Berdasarkan hasil survei Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia, sebanyak 140 perawat pernah merasa dipermalukan oleh orang lain, karena statusnya sebagai perawat Covid-19 atau bertugas di rumah sakit tempat penanganan virus tersebut.

Jajak pendapat yang dilakukan pada awal April 2020 itu melibatkan 2.050 perawat se-Indonesia. 135 orang di antaranya bahkan pernah mengalami pengusiran dari orang sekitar.

Seorang tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah perdesaan bercerita betapa beratnya menjadi prajurit utama saat berperang melawan Covid-19. Saat mengenakan APD lengkap, otomatis ia harus mampu menahan lapar dan dahaga, termasuk aktivitas alamiah lainnya yang biasa terjadi pada tubuh manusia.

Nyaris setiap hari dia juga harus bertemu dengan warga berstatus orang dalam pengawasan. Sementara APD yang dimiliki, seperti yang banyak kita ketahui, tidak benar-benar mencukupi. Dia tentu menyadari bahwa risiko tertular virus sangat besar.

Perjuangan tenaga medis memang berat. Seorang perawat yang berniat mengingatkan Pak Satpam untuk mengenakan masker saat berobat di sebuah klinik harus menerima tamparan, bahkan ancaman pembunuhan. Lagi-lagi peristiwa tak mengenakkan itu terjadi di Semarang.

Dari sebuah foto yang banyak beredar di dunia maya, seorang ayah yang bekerja sebagai petugas medis menjenguk keluarga kecilnya. Ia tidak masuk ke dalam rumah. Sang ayah hanya berdiri di depan pagar sambil melambaikan tangan ke arah anak dan istrinya. Tentu ia sendiri pun tak menduga jika ternyata itu adalah lambaian tangan terakhirnya.

Ada banyak sekali cerita-cerita penuh nestapa yang menimpa tenaga kesehatan dalam menghadapi Corona. Di Inggris, Abdul Mabud Chowdhury, seorang konsultan urologis yang bekerja di Homerton University Hospital, sempat mengingatkan kepada PM Inggris, Boris Johnson, agar segera melengkapi APD. Sayangnya sebelum permintaannya itu diwujudkan, pria berusia 53 tahun itu wafat.

Di Jakarta yang menjadi tempat kasus positif terbanyak di Indonesia, setidaknya ada 174 tenaga medis yang terinfeksi Corona. Dua di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Sementara berdasarkan data dari International Council of Nurses, 9 sampai 14 persen kasus infeksi menerpa tim medis di Italia dan Spanyol.

Beratnya perjuangan tenaga medis mestinya kita balas dengan penghargaan yang tinggi, perlakuan yang baik, atau minimal kita tidak nyinyir atas perjuangan mereka. Saya yang punya cukup banyak kawan dari tenaga medis kadang heran, dari mana mereka bisa mendapatkan kekuatan semacam itu? Motivasi apa yang membuat mereka terus bertahan di tengah keterbatasan dan ancaman kematian?

Mereka kuat mengenakan APD lengkap seharian. Sementara saya atau Anda belum tentu kuat mengenakan masker dari pagi sampai sore. Bahkan napas saya sudah mulai tidak stabil saat mengenakan masker lebih dari 30 menit. Belum lagi jika dihadapkan dengan situasi dan suasana mencekam yang biasa dihadapi petugas medis. Saat ini, berhadapan dengan orang batuk saja kita merasa was-was. Apalagi berhadap-hadapan dengan orang yang sudah jelas-jelas dinyatakan positif Covid-19.

Saya kira tak ada cara lain untuk saat ini. Para tenaga medis harus diberikan motivasi ekstra. Pemerintah harus berupaya mencukupi kebutuhan APD dan meminimalkan risiko-risiko yang dihadapi para tenaga medis saat merawat pasien Covid-19. Kalau perlu pemerintah memberikan imbauan khusus kepada selebgram, youtuber, atau para pengusaha, agar segera melakukan donasi besar-besaran. Ya, daripada terus-terusan pamer koleksi jam tangan atau mobil berharga miliaran, lebih baik disumbangkan untuk kebutuhan tenaga medis yang saat ini menjadi pahlawan kita.

Sementara kita masih berkutat dengan amukan Covid-19 yang makin tak terkendali, jauh di ujung barat Pulau Jawa, Anak Krakatau tiba-tiba meletus. Entah pertanda apa…

*

Penulis adalah redaktur apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Kunci Sukses Pelaksanaan PSBB
apahabar.com

Opini

Alumni Pesantren VS Ustadz Karbitan
apahabar.com

Opini

‘Membayar Investasi’ Politik
apahabar.com

Opini

Demo Mahasiswa dan Viral Tilawah Fathur
apahabar.com

Opini

Kenormalan Baru, Sebuah Kesenjangan
apahabar.com

Opini

China Harus Disadarkan, Ini Bukan Zaman Kublai Khan
apahabar.com

Opini

Pandeminiafuzz; Penanda Sebuah Peristiwa
apahabar.com

Opini

Ramadan yang Sebentar Lagi Meninggalkan Kita
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com