Geger Pria di Kelumpang Kotabaru Tewas Diduga Disengat Ratusan Lebah Membeludak, Warga Barabai Terobos Kantor Disprindagkop Demi BLT UU Cipta Kerja, Ketum Hipmi Yakin Indonesia Lolos dari Midlle Income Trap Live Streaming Man City vs Porto, Link Siaran Langsung Liga Champions di SCTV-Vidio.com Malam Ini Jembatan Terpanjang Kedua Indonesia di Kaltim Sudah 90 Persen Beres

Perairan Indonesia Simpan Potensi Tsunami Non Tektonik Cukup Besar

- Apahabar.com Selasa, 28 April 2020 - 06:45 WIB

Perairan Indonesia Simpan Potensi Tsunami Non Tektonik Cukup Besar

Tsunami yang sempat menghantam wilayah Indonesia 2018 silam. Foto-iNews

apahabar.com, JAKARTA – Wilayah perairan Indonesia dinilai menyimpan potensi bahaya tsunami non tektonik yang cukup besar.

Itu jika dilihat dari beberapa kejadian tsunami akibat longsoran terkini maupun tsunami masa lalu yang belum terungkap penyebabnya.

“Ini merupakan pertanda bahwa wilayah perairan kita menyimpan potensi bahaya tsunami non tektonik yang cukup besar,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono, Senin (27/4).

Dia menyayangkan, kajian mengenai potensi longsoran dasar laut yang dikaitkan dengan risiko tsunami di Indonesia masih sangat jarang.
Sementara saat ini, kebanyakan kajian risiko tsunami berdasarkan akibat gempa tektonik.

Dia menjelaskan di Indonesia ada beberapa kasus tsunami masa lalu yang hingga kini belum terungkap penyebabnya, diduga tsunami ini berasosiasi dengan longsoran dasar laut, seperti tsunami Teluk Ambon 28 November 1708, tsunami Manggarai 14 April 1855, tsunami Bacan 10 Juni 1891.

Termasuk kejadian tsunami Saparua 20 Juni 1891, tsunami Pulau Sumber Gelap 16 Maret 1917, dan tsunami Halmahera Utara 2 April 1969.

Dari semua peristiwa tersebut, tsunami tidak didahului oleh aktivitas gempa tektonik.

Beberapa peristiwa tsunami mematikan di Indonesia, di antaranya diduga diamplifikasi oleh dampak ikutan berupa longsoran dasar laut.

Contohnya seperti tsunami Ambon 17 Februari 1674 dengan korban jiwa 2.243 orang meninggal, tsunami Seram 30 September 1899 sebanyak 4.000 orang meninggal dan tsunami Flores 12 Desember 1992 yang menyebabkan 2.500 orang meninggal.

Peristiwa tsunami terbaru yang terjadi di Tanah Air akibat longsoran yaitu tsunami Selat Sunda akibat longsoran Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 dan tsunami Teluk Palu akibat longsoran saat gempa Palu 28 September 2018.

Kedua bencana tsunami akibat longsoran ini menelan korban jiwa dan kerugian harta benda sangat besar.

“Selain tsunami Selat Sunda dan Teluk Palu, kita juga pernah mengalami tsunami dahsyat akibat longsoran, seperti tsunami Krakatau 1883 sebanyak 36.000 orang meninggal dan tsunami Waiteba, NTT 1979 menyebabkan 539 meninggal dan 364 hilang,” sebut Daryono.

Sebelumnya artikel ilmiah berjudul Indonesian Throughflow as a preconditioning mechanism for submarine landslides in the Makassar Strait yang ditulis oleh Brackenridge dkk, yang dipublikasikan oleh Geological Society of London di jurnal Lyell Collection pada awal April 2020, viral di Indonesia.

Hal ini disebabkan karena sekelompok ilmuwan mengungkap potensi risiko tsunami akibat longsoran dasar laut dekat wilayah yang dipilih pemerintah Indonesia sebagai calon ibu kota baru.

“Kami tentu mengapresiasi penelitian ini, karena selain memperkaya khasanah pengetahuan kita terkait bahaya sedimentasi dan longsoran di dasar laut juga memberi petunjuk kepada kita adanya potensi bahaya tsunami akibat longsoran di dasar laut Selat Makassar,” ungkap Daryono.

Hasil kajian tersebut dapat membantu dalam mengestimasi tingkat bahaya tsunami yang mungkin terjadi, sehingga pemerintah dapat menyiapkan strategi mitigasi.

Selain Selat Makassar, beberapa wilayah perairan Indonesia diduga memiliki kawasan rawan longsor dasar laut yang dapat membangkitkan tsunami.

Sehingga sebenarnya membutuhkan banyak kajian potensi longsoran dasar laut, khususnya di Samudra Hindia, Selat Sunda, Laut Flores, Laut Banda, Laut Maluku, dan Laut Utara Papua.

“Semua ini merupakan tantangan bagi para ahli kebumian kita untuk mengkajinya. Penelitian potensi longsoran bawah laut sangat penting, karena ini dapat menjadi kunci pembuka untuk menjawab misteri tsunami non tektonik masa lalu sekaligus untuk menata mitigasi tsunami akibat longsoran dasar laut di Indonesia ke depan,” tandas Daryono.(Ant)

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Serikat Penyelenggara Haji dan Umrah Surati Jokowi
apahabar.com

Nasional

MUI: Pilih Capres-Cawapres yang Cerdas
apahabar.com

Nasional

Ibunda Ustaz Somad Tutup Usia, Jenazahnya Dibawa ke Medan
apahabar.com

Nasional

Djoko Tjandra Jalani Pemeriksaan Terkait Surat Jalan Palsu
apahabar.com

Nasional

Kemendagri Mengkaji Moratorium Daerah Otonomi Baru Secara Mendalam
apahabar.com

Nasional

Jokowi Akan Perluas Wilayah Penerapan New Normal
apahabar.com

Nasional

MURI Catat 2 Rekor JMSI
apahabar.com

Nasional

Ajudan Bupati Demak Itu Rencananya Nikah Bulan Depan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com