Tagihan Listrik di Kalsel-Teng Membengkak? PLN Ungkap Penyebabnya Jumatan Perdana di Banjar, 4 Masjid Dijaga Ketat TNI-Polri PSBB Berakhir, Duta Mall Segera Buka Bioskop dan Amazon? Jadi Contoh, Jemaah Masjid Miftahul Ihsan Malah Tak Disiplin Keseringan di Lapangan, Dua ASN di Banjarmasin Positif Covid-19




Home Opini

Rabu, 29 April 2020 - 17:01 WIB

PSBB Bukan Sekadar Bantuan Sosial

rifad - Apahabar.com

Ilustrasi-Zulfikar/apahabar.com

Ilustrasi-Zulfikar/apahabar.com

Oleh Muhammad Rizali

PSBB di Kota Banjarmasin hingga hari ini dianggap belum efektif, karena banyak pihak menilai praktik di lapangan belum sesuai dengan amanah peraturan dalam penerapannya.

Tercatat, di Banjarmasin hingga Rabu, 28 April 2020, sudah ada 45 kasus konfirmasi positif. 7 di antaranya sembuh, 6 meninggal dan 32 pasien lainnya saat ini masih berstatus sebagai PDP dan di rawat di rumah sakit.

Polemik tentang PSBB terus mencuat di Banjarmasin. Obrolan di media massa dan media online terus merebak pada tataran lapisan masyarakat hingga kalangan terbawah, karena salah satu kebijakan PSBB yang pernah diasumsikan oleh Walikota Banjarmasin adalah memberikan bantuan sebesar Rp 1,5 miliar per hari kepada masyarakat terdampak Covid-19.

Tapi, terlepas dari sorotan polemik tentang pembagian sembako yang beberapa hari belakang menjadi perbincangan hangat, yang mana salah satunya juga penulis melalui HMI Cabang Banjarmasin sempat memberikan usulan dan menagih janji Pemkot terkait Rp 1,5 miliar per hari yang dijanjikan untuk diberikan kepada masyarakat. Tetapi, setelah diskusi singkat dengan Kepala Dinas Sosial Banjarmasin dan Walikota Banjarmasin, kita sedikit tercerahkan dengan perbandingan data dan kurang efesiennya struktur lapisan masyarakat di level terbawah hingga RT/RW.

Terlepas dari itu, diisi kepala penulis jauh dari sekadar kebijakan pembagian sembako dan bantuan sosial, terkadang kita lupa akan tujuan akhir (output) daripada PSBB itu sendiri. Dengan framing media yang begitu tendensius, seolah-olah PSBB hanya sekadar dan selesai pada pembagian sembako dan dan bantuan sosial uang tunai.

Tidak sesederhana itu. Setidaknya PSBB yang merupakan singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar atau bisa ditafsirkan pembatasan kegiatan tertentu dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19.

Baca juga :  Bantuan PSBB Banjarmasin, Wakil Rakyat Diminta Ikuti Awasi

Hal itu sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 Permenkes No 9 Tahun 2020 yang berbunyi: “Pembatasan Sosial Berskala Besar adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (COVID-I9).”

Tujuan utama dari PSBB ini setidaknya adalah untuk mencegah penyerbaran Covid-19, dengan cara membatasi aktivitas orang-orang dalam satu kegiatan yang menimbulkan suatu kerumunan atau yang melibatkan orang banyak.

Pembatasan tersebut meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial budaya, pembatasan moda transportasi, dan pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait aspek pertahanan dan keamanan.

Pada pembatasan kegiatan keagamaan, dilaksanakan dalam bentuk kegiatan keagamaan yang dilakukan di rumah dengan terbatas dan tetap menjaga jarak setiap orang. Di luar itu, kegiatan keagamaan dilakukan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan, dan fatwa atau pandangan lembaga keagamaan resmi yang diakui oleh pemerintah.
Untuk pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum dilaksanakan dalam bentuk pembatasan jumlah orang dan pengaturan jarak orang.

Kemudian pada pembatasan kegiatan sosial dan budaya dilaksanakan dalam bentuk pelarangan kerumunan orang dalam kegiatan sosial dan budaya serta berpedoman pada pandangan lembaga adat resmi yang diakui pemerintah dan peraturan perundang-undangan.

Pembatasan moda transportasi dikecualikan untuk moda transpotasi penumpang baik umum atau pribadi dengan memperhatikan jumlah penumpang dan menjaga jarak antar penumpang. Sedangkan moda transpotasi barang dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk.

Pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait aspek pertahanan dan keamanan dikecualikan untuk kegiatan aspek pertahanan dan keamanan dalam rangka menegakkan kedaulatan negara, dan mempertahankan keutuhan wilayah, dengan tetap memperhatikan pembatasan kerumunan orang serta berpedoman kepada protokol dan peraturan perundang-undangan.

Baca juga :  Iuran BPJS Naik, Rakyat Tercengang

Diskursusnya, PSBB adalah suatu bentuk kebijakan untuk menatagnanisasi pergerakan manusia dan mencegah kerumunan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, tapi yang kasat terlihat di Kota Banjarmasin, seolah PSBB diartikan hanya sebatas pemberian semako, bantuan sosial langsung, pembatasan jam malam atau teknis kebijakan lainnya, padahal jauh dari itu, output dari PSBB masih banyak yang belum kita pahami.

Contohnya, pembagian sembako ke masyarakat yang terjadi di Kota Banjarmasin yang didistribusikan melalui RT setempat. Yang terjadi dilapangan saat pembagian sembako terbentuknya kerumunan massa. Padahal diberikannya bantuan oleh pemerintah agar bisa sedikit menahan masyarakat untuk tetap di rumah, jadi dinilai penerapan PSBB seperti rumah yang bocor, yang diperbaiki bukan gentengnya malah penghuni rumah sibuk mempel lantai akibat kebocoran.

Setiap kebijakan tentu harus ada evaluasi. Subtansi dari PSBB setidaknya bisa meminimalisir mobilisasi massa untuk tidak berkerumun, berkumpul di suatu tempat yang menimbulkan interaksi manusia sangat massif, karena sifat dari Covid-19 adalah penyebarannya melalui manusia.

Jadi kebijakan pembagian dan bantuan adalah sangat tepat, tapi bantuan diperuntukkan setidaknya agar kita sebagai masyarakat yang tadinya bekerja untuk menghidupi keseharian dengan adanya bantuan bisa menahan diri tidak keluar minimal beberapa saat.

Jika pemberian sembako hanya sekadar penyerahan tanpa pengedukasian oleh pemerintah kepada masyarakat akan subtansi tujuan PSBB, ya sama saja seperti istilah genteng bocor tadi.

*
Penulis adalah Sekum HMI Cabang Banjarmasin

Editor: Puja Mandela

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Komisi III Labrak Etika Publik
Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada

Opini

Mengangguk Opini Publik Balangan, Jelang Pilkada
apahabar.com

Opini

Jenderal, Ini Demonstran, Bukan Perusuh
apahabar.com

Opini

Rahasia Guru Zuhdi Ketika Sakit
apahabar.com

Opini

Kebijakan Deliberatif Dalam Upaya Penanganan Permasalahan BLT Covid-19
Kaltim Butuh Pemulihan, Bukan Ibu Kota!

Opini

Ibu Kota, Lautan Asap, dan Cakar Pertambangan
apahabar.com

Opini

Reses: Menagih Janji yang Tersumpah
apahabar.com

Opini

Menyoal Pelayanan RSUD