Presiden Jokowi Blusukan ke Banjir Kalsel, Nih Agendanya Esok Blusukan Batal, Denny Minta Evakuasi Korban Banjir Kalsel via Udara Banjir Kalsel, Mayat Mengapung Kembali Ditemukan di Banjar Sstttt, Presiden Jokowi Mau Blusukan ke Banjir Kalsel Yuk Nyumbang, apahabar.com Buka Posko Peduli Banjir Kalsel

Sidang Nabi Palsu di HST, PH Tolak Tuntutan Pidana JPU

- Apahabar.com Kamis, 23 April 2020 - 17:35 WIB

Sidang Nabi Palsu di HST, PH Tolak Tuntutan Pidana JPU

Sidang kedua sebelum pandemi Covid 19 terdeteksi di Indonesia, terdakwa Nasruddin bersalaman dengan keluarga dan para muridnya sebelum memasuki Ruang Sidang Kartika di PN Barabai Kelas II, Kamis, 5 Maret lalu.Foto-apahabar.com/Lazuardi.

apahabar.com, BARABAI – Kuasa Hukum atau Penasehat Hukum (PH) terdakwa Nasruddin si nabi palsu di Hulu Sungai Tengah (HST), melayangkan keberatan atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Penolakan itu disampaikan Akhmad Gazali Nor, PH Nasrudin, melalui pleidoinya di depan majelis yang dipimpin Hakim Ketua, Eka Ratna Widiastuti di Pengadilan Negeri (PN) Barabai, Kamis (23/4).

“Kami keberatan dan meminta hakim untuk menolak surat tuntutan (JPU) itu,” kata Gazali ditemui apahabar.com usai sidang ketujuh itu.

Gazali menilai, terdakwa Nasruddin tak bisa dijatuhi pidana, seperti tuntutan jaksa, yakni hukuman 3 tahun penjara karena melakukan tindak pidana atau melanggar Pasal 156 huruf a.

Ditegaskan Gazali, berdasarkan keterangan Ahli Kejiwaan dari RS H Hasan Basry Kandangan, Sofyan Saragih menyebutkan, terdakwa mengalami ganggun jiwa berat kategori Waham.

Atas dasar itu, lanjut Gazali, perbuatan terdakwa tidak bisa dimintakan pertanggungjawabannya secara pidana. Hal itu mengacu pada Pasal 44 KUHP.

“Artinya yang bersangkutan (terdakwa) tidak bisa dipidana. Terdakwa ini harus direhab di rumah sakit jiwa. Entah di Sambang Lihum atau lainnyan,” terang Gazali.

Sementara itu, JPU Prihanida Dwi Saputra akan memberikan tanggapan atau replik atas pembelaan PH terdakwa pada sidang beriktutnya.

Rencananya, sidang akan digelar Selasa 28 April nanti dengan agenda replik.

“Sesuai Pasal 182 Ayat 1 KUHAP, kami akan memberikan Jawaban. Akan kami siapkan materinya,” tutup jaksa yang biasa dipanggil Mas Han ini, dihubungi apahabar.com.

Terkait gangguan jiwa berat yang dialami terdakwa, saksi ahli dari Rumah Sakit Hasan Basry Kandangan, Dokter Sofyan Saragih telah memberikan keterangannya di persidangan, Kamis (9/4) lalu.

Dalam keterangan Saragih, terdakwa mengalami gangguan jiwa berat. Namun bukan gangguan jiwa seperti yang dibayangkan.

Saragih menegaskan, terdakwa mengalami suatu kondisi yakni, waham menetap. Terdakwa mengalami gejala itu sudah cukup lama.

Waham itu dikenal sebagai ‘persistent delusional disorder’ yang merupakan gangguan mental yang jarang ditemukan dengan waham sebagai satu-satunya gejala utamanya.

“Secara memori dia (terdakwa) bagus, normal, mampu berfikir jernih. Kecuali dalam hal keyakinan. Di luar itu, dia normal,” kata Sofyan saat diperiksa keterangannya pada sidang kelima di PN Barabai Kelas II waktu itu.

Waham menetap itu, terang Saragih, merupakan suatu keyakinan yang tidak wajar, tidak realitis, tidak bisa dikoreksi/digoyahkan, sangat diyakini dan tidak menganut pada pemahaman budaya ataupun spiritual lingkungan setempat.

“Jadi bagaimanapun upaya orang disekitar mengatakan sesuatu itu tidak benar, dia (terdakwa) tidak goyah. Dia tetap pada keyakinannya,” terang Sofyan yang telah mengobservasi kejiawaan terdakwa sejak 9 Desember 2019-4 Januari 2020 lalu.

Waham menetap ini pun, kata Saragih, konsisten permanen.

“Jadi walaupun diobati, itu hanya mengurangi tidak menghilangkan. Namun juga tidak menutup kemungkinan disembuhkan. Tergantung kepatuhan orangnya,” terang ahli kejiwaan yang dihadirkan jaksa ini.

Saat di persidangan yang agendanya menghadirkan saksi ahli, saksi meringankan dan eksepsi saat itu, Saragih mengusulkan agar terdakwa diisolasi di ruang terpisah dari tahanan lain.

Sebab, waham yang diderita terdakwa, terlebih tentang faham atau kepercayaannya yang diyakininya, bisa menginduksi (menularkan) ke orang lain.

“Kalau memang keputusan hakim nantinya dipenjara, sebaiknya diisolasi di ruang khusus,” tutup Saragih.

Reporter: HN Lazuardi
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Amrullah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Di Menit Terakhir, Ketua AMPI Mantap Maju Musda Hipmi Kalsel
apahabar.com

Kalsel

Pelajar Ikut Demo Bakal Kena Sanksi

Kalsel

Mengejutkan! Kotabaru Tambah 13 Orang Positif Covid-19
apahabar.com

Kalsel

Banjir di Sekumpul, Seorang Nenek Dilarikan ke Rumah Sakit
apahabar.com

Kalsel

Marak Saat Pandemi, Perlukah Pesepada Diatur Lewat Perda?
apahabar.com

Kalsel

Polisi Tangkap Pemuda Pemilik Sajam di Hantakan
apahabar.com

Kalsel

Membanggakan, Ketua OSIS SMKN 3 Banjarmasin Terbaik di AKSI SMK
apahabar.com

Kalsel

BPJS Barabai Kumpulkan PIC PRB se Banua Anam
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com