Hasil Liga Italia, Taklukkan Crotone 2-1, Fiorentina Kembali ke Jalur Kemenangan Hasil Liga Inggris, Watkins Antar Aston Villa Tenggelamkan Newcastle 2-0 Breaking News! Warga Tangkap Buaya Pemangsa di Pantai Kotabaru Siap-Siap, Ditlantas Polda Kalsel Bakal Uji Coba Tilang Elektronik Usai Banjir Siapkan Hunian Layak, Polda Kalteng Bangun Rusun Bagi Anggota

Sudah 3 Warga HST Reaktif Covid-19, Simak Kronologisnya

- Apahabar.com Minggu, 12 April 2020 - 15:21 WIB

Sudah 3 Warga HST Reaktif Covid-19, Simak Kronologisnya

Dokter Asnal saat mengecek kesiapan ruang isolasi di RSUD H Damanhuri Barabai belum lama tadi. Foto apahabar.com-Lazuardi

apahabar.com, BARABAI – Tim gugus tugas Covid-19 menambah 2 daftar warga di Hulu Sungai Tengah (HST) yang positif virus Corona.

Hingga Minggu (12/4), yang dinyatakan reaktif Covid-19 berdasarkan hasil Rapid Test atau RDT berjumlah 3 orang.

Namun begitu, ketiganya tak disebut memiliki gejala alias Orang Tanpa Gejala (OTG), seperti batuk, demam, atau pilek.

Juru Bicara Gugus Tugas Penananganan Covid-19, dr Asnal mengatakan, sebelumnya pada 10 April, tim melakukan Rapid Test terhadap OTG dan ODP yang datang dari daerah transmisi lokal penularan Corona.

Hasilnya, 1 di antara mereka dinyatakan reaktif atau positif Covid 19.

Pemeriksaan selanjutnya, kata Asnal, pada 11 April kemarin, ada dua lagi yang reaktif.

“Dua orang yang reaktif itu merupakan keluarga dari orang yang pertama diperiksa pada 10 April itu,” kata Direktur RSUD H Damanhuri ini kepada apahabar.com melalui pesan Whastsapp, Minggu (12/4).

Satgas darurat Covid 19 HST akan mengambil langkang untuk mengarantina ketiganya ke RS H Damnhuri.

Namun hingga saat ini ketiganya belum juga di karantina.

“Kita masih menunggu dari Dinkes yang antar ke rumah sakit,” kata Asnal.

Pengambilan langkah karantina di rumah sakit, lanjut Asnal karena bersiko menularkan virus ke orang lain.

“Covid-19 penularannya sangat cepat. Karena sudah banyak yang tertular, tapi berkeliaran di mana-mana. Dia tidak tahu kalau sudah tertular. Karena itu tadi, tidak ada gejala demam atau batuk, alias sehat,” ungkap Asnal.

Selama masa karantina di rumah sakit, Asnal menekankan biaya akan ditanggung pemerintah.

Dikonfiramsi melalui pesan Whatsapp, Sekretaris Dinkes HST, Sakdillah mengatakan masih berkoordinasi dengan berbagai pihak. Mulai dari Dinkes sendiri, camat dan kepala desa setempat.

Sakdillah juga mengungkapkan, pihaknya akan melakukan penjemputan hari ini kepada mereka yang dinyatakan reaktif hasil rapid test.

“Insyaallah hari ini akan kita jemput dan dibawa ke RSHD Barabai untuk dikarantina,” tutup Sakdillah.

Pada 23 Maret lalu, RSUD H Damanhuri Barabai telah menyiapkan 7 kamar dengan 11 bed (kasur) di ruang isolasi.

Ruang Isolasi itu dibagi dua, airborne dan immuno.

“Ruang yang dipakai ini Ruang Mutiara atau Darul Aman untuk penanganannya,” kata Asnal didampingi Kabid Sarpas, Rudy Yushan Nafarin waktu itu.

Sebenarnya, kata Asnal, ruang isolasi itu sebelumnya bukan dikhususkan untuk Covid-19.

Namun bagi pasien yang berpenyakit menular.

“Jadi dengan keadaan ini maka kita benahi ruangannya. Jaga-jaga untuk PDP” kata Asnal.

“Kalau untuk PDP kita masih bisa rawat, kalau Suspect kita akan kirim ke Kandangan, Banjarbaru atau Banjarmasin. Kalau mereka tak menerima kita turun tangan sendiri,” tambah Asnal.

Perlu diketahui, seperti yang diberitakan apahabar.com sebelumnya, OTG adalah seseorang yang tidak bergejala, tapi berisiko telah tertular virus corona dari pasien Covid-19.

OTG juga memiliki kontak dengan kasus positif Covid-19. Maksudnya yakni, kontak fisik atau berada dalam satu ruangan ataupun telah berdekatan dengan PDP maupun pasien positif Covid-19.

“OTG ini kelihatan masih sehat dan tidak ada gejala. Namun OTG sangat berbahaya karena ada kemungkinan sudah terjangkit karena riwayat perjalanan tadi. Tapi daya tahan tubuhnya kuat menangkal virus ini. Bahayanya dia bisa menularkan virus itu terhadap orang lain. Terlebih pada orang tua yang rentan,” kata Asnal melalui pesan Whatsapp kepada apahabar.com, Sabtu (11/4) sore.

Terkait hasil rapid test, dokter Desi yang membidangi urusan kesehatan di Gugus Tugas Covid-19 HST menjelaskan, rapid test yang dilakukan sebagai screening awal saja.

Persisnya, untuk mengarahkan ke proses selanjutnya dalam menegaskan diagnosa pasti.

“Kasus konfirmasi atau positif, definisinya adalah kasus Covid-19 yang terkonfirmasi dengan pemeriksaan PCR, bukan rapid test. Sehingga walaupun pemeriksaan rapid test pertama non-reaktif belum bisa dipastikan pasien itu negatif,” kata Desi.

Untuk itu, lanjut dia, harus dilakukan pemeriksaan rapid tes kedua. Tepatnya pada hari ke 7-10 setelah tes kilat pertama dilakukan.

Untuk itu, lanjut dia, harus dilakukan pemeriksaan rapid tes kedua. Tepatnya pada hari ke 7-10 setelah tes kilat pertama dilakukan.

“Jika rapid test pertama reaktif atau yang dianggap orang awam positif, kita harus melakukan Swab untuk PCR untuk diagnosa pasti. Dalam bahasa rapid test, yang ada hanya reaktif dan non reaktif bukan positif ataupun negatif. Karena Rapid Test ini men-trace ada imunoglobulin yang terbentuk apa tidak,” jelas Desi.

Reporter: HN Lazuardi
Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Editor: Amrullah - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Kecelakaan Tunggal, Mobil Meluncur Masuk Trotoar

Kalsel

Lari Bantu Padamkan Api, Acul Lupa Kaki Baru Dioperasi
apahabar.com

Kalsel

Mobil Mewah Ini Antar Kiai Ma’ruf ke “Banua Bertabligh” Malam Nanti
Pembunuhan

Kalsel

Biang Pembunuhan di Pasar Lama, Korban Nekat Menantang Para Pelaku
apahabar.com

Kalsel

Persada Anduhum FC Borong Juara di Manuntung Cup VI 2019
apahabar.com

Kalsel

Fortuner Terperosok Depan Mahligai Pancasila
apahabar.com

Kalsel

16 Napi Ikuti UAS di Rumah Tahanan
apahabar.com

Kalsel

Paman Birin Pukul Gong, Debat Bahasa Indonesia 2019 Resmi Dibuka
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com