Pak Wali… Pengungsi Banjir di Banjarmasin Mulai Sakit-sakitan, Poskes Over Diduga Sakit Hati, Pria Gantung Diri di Batulicin Sering Cekcok dengan Istri Malam Ini, Mata Najwa Kupas Biang Kerok Banjir Kalsel Banjir dan Ancaman Tim Paman Birin, “Sudah Jatuh Warga Tertimpa Tangga” PMI Balikpapan Tak Terima Bantuan Pakaian Bekas untuk Korban Banjir Kalsel

Terdampak Covid-19, Industri Penerbangan Diusulkan Butuh Stimulus

- Apahabar.com Selasa, 14 April 2020 - 07:00 WIB

Terdampak Covid-19, Industri Penerbangan Diusulkan Butuh Stimulus

Ilustrasi. Foto-Net

apahabar.com, JAKARTA – Industri penerbangan merasakan kerasnya hantaman Covid-19. Pengamat penerbangan Gatot Raharjo pun menyarankan pemerintah  mengeluarkan stimulus agar transportasi penerbangan tetap bergairah.

“Agar penerbangan tetap bergairah, seyogyanya perlu dipertimbangkan dengan serius dan segera kebijakan-kebijakan lain, terutama terkait dengan pemberian stimulus. Tidak saja bagi maskapai, juga stakeholder lain seperti misalnya bengkel perawatan dan perbaikan pesawat, ground handling dan lainnya,” kata Gatot.

Ia menyarankan stimulus tidak harus berupa pemberian dana segar, namun bisa dengan cara lain hanya untuk melancarkan cash flow perusahaan. Misalnya bisa berupa penundaan pembayaran bahan bakar (avtur), menurunkan atau meniadakan bea masuk suku cadang, landing fee, jasa navigasi dan tarif jasa bandara lainnya.

Selain itu, untuk membantu penumpang, bisa juga dipertimbangkan untuk menghapuskan atau menaikkan presentase tarif batas bawah dari tarif batas atas, misalnya dari 35 persen menjadi 50 persen dari batas atas sehingga Toko Bebas Bea (TBB) lebih murah, dan menunda pelaksanaan free baggage allowance, bagi maskapai yang menerapkannya.

Sedangkan untuk menggairahkan bisnis kargo udara dan kesinambungan supply chain kebutuhan bahan pokok masyarakat, perlu dipertimbangkan untuk dibuat pengecualian dalam kondisi force majeur, terkait  ketentuan teknis operasional operasi pesawat udara komersial.

Caranya, sebagian seat kosong pesawat komersial dijadikan compartment cargo tambahan. Ketentuan ini dapat dilaporkan ke Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau ICAO sebagai pengecualian sementara selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Libatkan Banyak BUMN

Gatot mengatakan, ha-hal itu dapat dilaksanakan karena sebagian besar perusahaan yang terlibat adalah badan usaha milik negara (BUMN) seperti Pertamina, AP I dan II, Airnav, Garuda, Citilink, GMF dan lainnya.

Bahkan dalam masa sulit seperti sekarang ini, diperlukan kerjasama yang kompak terutama di lapangan antara negara (BUMN) dan pihak swasta. Dengan demikian bidang penerbangan nasional bisa tetap bertahan selama pandemi Covid 19 dan bisa meneruskan kelangsungan usahanya setelah pandemi selesai.

“Ingatlah bahwa transportasi udara sangat diperlukan di masyarakat dan negara Indonesia yang wilayahnya berbentuk kepulauan ini. Kelangsungan usaha penerbangan yang sehat juga akan memperlancar supply chain dan mempengaruhi seberapa cepat pemulihan perekonomian Indonesia pasca pandemi Covid 19,” tutupnya. (Lip6)

Editor: Syarif

Editor: aji - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Ekbis

Kembali Angkut Penumpang, Gojek: Kedepankan Prosedur Kesehatan dan Kebersihan

Ekbis

Arebi Nilai Vaksin Covid-19 Berpeluang Naikan Harga Properti
apahabar.com

Ekbis

Pasca-Lebaran, Gejolak Harga Gas 3 Kg di Banjarmasin Masih Terjadi
apahabar.com

Ekbis

Sabet 6 Penghargaan dari Opensignal, Telkomsel: Pelayanan Jadi Kunci
apahabar.com

Ekbis

Fitch Pertahankan Rating RI, IHSG Diprediksi Kian Menguat
apahabar.com

Ekbis

Tiket AirAsia Hilang di Agen Online, Intervensi Kompetitor?
Nataru

Ekbis

Kalsel Usulkan Penambahan Kuota 1 Juta Elpiji 3 Kilogram pada 2021
apahabar.com

Ekbis

Lewat Usahaku, Telkomsel Dorong Pelaku UMKM untuk “Go Digital”
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com