Hasil Liga Champions, Tanpa Ronaldo Juventus Ditekuk Barcelona, Messi Cetak Gol, Skor Akhir 2-0 Alasan Sekolah Tatap Muka di Banjarmasin Terancam Batal Beredar Video 62 Menit Operasi Pembakaran Halte Sarinah Saat Demo Anti UU Omnibus Law, Sosok Pelaku Terekam? Video Detik-detik Buaya Raksasa Diangkat dari Sungai Kayubesi Babel, Diyakini Warga Sebagai ‘Siluman’ Kasus Pembunuhan Istri Muda Pembakal di HST Inkrah, Jaksa Eksekusi Terpidana ke Martapura

The Last Dance, Film Baru Michael Jordan Bius Penggemar NBA

- Apahabar.com Selasa, 28 April 2020 - 18:11 WIB

The Last Dance, Film Baru Michael Jordan Bius Penggemar NBA

Legenda NBA Michael Jordan. Foto-Istimewa

apahabar.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 memaksa para penggemar NBA kecewa lantaran tak bisa menyaksiakan laga playoff. Namun, untungnya kekecewaan itu sedikit terobati.

Ya, lewat film dokumenter anyar Michael Jordan semua tampak sirna. Sehingga melupakan apa yang telah terjadi saat ini.

Film itu berjudul The Last Dance. Namun sanggup membius penggemar NBA lewat cerita karier sang legenda NBA tersebut.

Di mana, Jordan sukses membawa Chicago Bulls memenangi enam gelar pada era 1990-an.

Dari total sepuluh episode yang akan dirilis, saat ini para penggemar NBA sudah dapat menyaksikan episode satu sampai empat melalui saluran televisi berbayar atau layanan streaming.

Film dokumenter tersebut menduduki peringkat teratas untuk demografi penonton berusia 18 sampai 34 tahun, yang haus tontonan olahraga sejak dihentikannya sejumlah kompetisi akibat pandemi.

Secara keseluruhan terdapat 1,6 juta orang yang menyaksikan episode-episode awal di AS.

Jumlah penonton sebanyak itu membuat film dokumenter ini sempat menduduki posisi teratas trending topic di Twitter, sekaligus menjadi program asli ESPN yang paling banyak ditonton sejak jaringan televisi tersebut memproduksi acara semacam itu 16 tahun silam.

“The Last Dance” menghadirkan rekaman-rekaman di balik layar saat Bulls menjalankan musim 1997/1998.

Tak hanya itu, sekaligus pula memuat cerita perjalanan karier Jordan sejak remaja sampai menjadi tokoh atlet fenomenal untuk Bulls.

Film ini awalnya akan disiarkan pada Juni saat NBA memasuki putaran final, namun saat berbagai program olahraga harus dihentikan karena pandemi maka ESPN mempercepat jadwal penayangannya.

Kesuksesan film dokumenter Jordan kemungkinan akan memicu proyek-proyek serupa.

Bintang Los Angeles Lakers Kobe Bryant yang meninggal dunia akibat kecelakaan helikopter pada Januari silam, memiliki kru kamera pribadi yang terus menempelnya pada musim terakhirnya bermain di NBA.

ESPN pada pekan lalu memberi bocoran bahwa sejumlah rekaman di balik layar dapat menjadi bagian film dokumenter Bryant.

Bryant, juara NBA sebanyak lima kali, mengemas 60 poin pada pertandingan NBA terakhirnya pada 2016, yang menutup musim terburuk bagi Lakers dengan catatan 17-65.

Dwayne Wade, anggota tim nasional AS pada Olimpiade 2008, mengatakan ia telah menjadi produser eksekutif yang memproduksi dokumenter sejumlah talenta NBA.

Kebencian Berlarut-larut

ESPN telah menyiarkan diskusi-diskusi mengenai film dokumenter itu setelah ditayangkan, di mana pada episode terkini diperlihatkan kebencian berlarut-larut Jordan terhadap Detroit Pistons.

Hal itu kemudian berujung pada wawancara ESPN dengan mantan bintang Detroit Isiah Thomas pada Senin (27/4).

Khususnya membahas saat tim Pistons menolak bersalaman dengan Bulls setelah pertandingan saat Bulls menaklukkan sang juara bertahan pada playoff 1991.

“Saya membenci mereka. Dan kebencian itu terbawa sampai sekarang,” kata Jordan pada episode keempat The Last Dance.

Thomas tidak terpilih masuk timnas AS untuk Olimpiade 1992, tim yang kerap dijuluki sebagai The Dream Team yang juga diperkuat Jordan.

Pada wawancaranya dengan ESPN, Thomas berharap penolakannya untuk bersalaman dengan pemain Bulls bukan merupakan alasan ia gagal masuk timnas.

“Jika saya bukan bagian dari The Dream Team karena emosi sesaat, karena tidak menjabat tangan seseorang, maka saya akan lebih kecewa pada saat ini ketimbang saat saya tidak terpilih,” kata Thomas.

“Saya membayar sangat mahal. Jika saya tidak terpilih masuk Dream Team karena momen itu, itu sangat menyakitkan. Benar-benar melukai perasaan,” tambahnya.(ant)

Editor: Ahmad Zainal Muttaqin

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Sport

Resmi Diperkenalkan, Pelatih Persib Ingin Buktikan Kualitas Tiga Pemain Asing Barunya
apahabar.com

Sport

Perbakin Keluhkan Mahalnya Pajak Impor Peluru
apahabar.com

Sport

Rizky Pora dan Dandi Mulai Berlatih, Ini Kata Jacksen
apahabar.com

Sport

Kisah Kesetiaan Suporter, Terbang dari Laos Demi Dukung Timnas Indonesia
apahabar.com

Sport

Dipecundangi Wolverhampton, Pochettino Kecewa Penampilan Anak Asuhnya
apahabar.com

Sport

Banua Futsal League 2019, GRE FC Catat Lima Kemenangan Beruntun
apahabar.com

Sport

Kata Gavin Usai Dua Kekalahan Barito Tanpa Kehadirannya
apahabar.com

Sport

Pilih Jadi Atlet Dancesport, Fremm Mampu Banggakan Banua
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com