Kecewa, Pengembang Pelaihari City Mall Ngadu ke Menkopolhukam Jalan Berlubang Km 88 Tapin Renggut Nyawa Pemuda HST Ortu Oke, Belajar Tatap Muka di SMP Banjarmasin Dimulai November Menhub Datang, Pengembangan Runaway Bandara Teweh Dibahas Kronologi Lengkap Petaka Lubang Maut di Tapin yang Tewaskan Pemuda HST

Ada Kecemasan PSBB Banjar-Bakula Adopsi Banjarmasin

- Apahabar.com Rabu, 13 Mei 2020 - 20:19 WIB

Ada Kecemasan PSBB Banjar-Bakula Adopsi Banjarmasin

Memasuki hari kelima pembatasan sosial berskala besar (PSBB), petugas posko perbatasan makin aktif memeriksa lalu lalang pengendara. Terutama mereka yang hendak masuk ke Banjarmasin tanpa kepentingan yang jelas, atau tanpa menggunakan masker. Foto-apahabar.com/Riyad Dafhi R

apahabar.com, BANJARMASIN – Ada Kecemasan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) wilayah Banjarbaru, Banjar, dan Barito Kuala (Banjar-Bakula) mengadopsi sistem di Banjarmasin.

“Perlu model pendekatan yang tidak menimbulkan kecemasan berlebih di tengah masyarakat,” ujar Pengamat Politik dan Kebijakan Publik FISIP ULM, Taufik Arbain dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/5).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menyetujui penerapan PSBB di empat kabupaten atau kota tersebut.

Kebijakan pemerintah pusat itu dianggap sangat tepat dalam menangani wabah virus Corona (Covid-19) di Indonesia.

Lantas, apa standar Kemenkes RI dalam memberikan izin PSBB di empat kabupaten atau kota tersebut?

Taufik menilai keempat daerah itu telah memenuhi standar jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

PSSB harus diimplementasikan dengan melihat tiga aspek, sebagaimana termaktub dalam PP No.21/2000 dan Permenkes No.9/2000.

“Saya melihat ada tiga aspek yakni kewilayahan, demografi dan waktu berlangsungnya kebijakan,” ujarnya.

Dari karakteristik wilayah, Banjar dan Batola memiliki karakteristik pedesaan. Sehingga sangat memungkinkan terlaksana social dan pshycal distancing.

Di samping itu perekonomian di sana akan tetap berjalan karena dominan masyarakat berprofesi sebagai petani dan mencari ikan.

Selain itu pergerakan manusia di dua kabupaten tersebut dinilai relatif rendah.

Misalnya Batola, tingginya intensitas pergerakan orang hanya berada di kawasan Handil Bakti.

Sedangkan Banjar berada di kawasan koridor Kilometer (Km) 7 Kecamatan Kertak Hanyar, Km 14 Kecamatan Gambut, dan Martapura.

“Sehingga penanganan tetap menerapkan PSBB, bukan karantina wilayah,” bebernya.

Menurutnya, di sinilah diperlukan model pendekatan yang tak menimbulkan kecemasan berlebih di tengah masyarakat.

Di mana Banjarmasin dinilai memilih pendekatan keamanan dan ‘karantina wilayah’ malu-malu.

Padahal filosofis akhir dari PSBB yakni menjaga ekonomi rakyat agar tetap bertahan dan herd imunity dengan imbauan social and physical distancing.

“Sebab pemerintah pusat tampaknya lebih melihat aspek itu yang berbahaya secara sosial dan politik sehingga mengapa ada policy choice PSBB,” ungkap alumnus Program Doktor Manajemen dan Kebijakan Publik UGM ini.

Secara karakteristik demografi di perkotaan lebih dominan penduduk produktif sebagai nilai ekonomi.

Dalam kisaran 60 – 70 persen penduduk bekerja di sektor informal seperti pedagang kaki lima (PKL), buruh harian, dan swasta lainnya.

Fakta ini menunjukkan ketergantungan hidup masyarakat perkotaan pada pekerjaan jelas berbeda dengan kalangan ASN dan pekerja formal lainnya, berdasar gaji bulanan dengan pola work from home (WFH).

“Maka dari itu, pemerintah kota harus mampu membuat inovasi kebijakan penanganan Covid-19, tanpa harus ada pembatasan dan menutup usaha-usaha kecil masyarakat,” tegasnya.

Pemerintah kota didorong harus mengatur timing atau waktu buka-tutup dan protokol pencegahan Covid-19.

Pastinya dengan cara menempatkan petugas yang lebih besar di kawasan pasar-pasar.

Pemerintah jangan bekerja sendiri dengan instrument institusi, namun lebih menggunakan dana refocusing APBD untuk Covid-19.

Dan, bisa mengerahkan relawan dari kalangan Damkar, LSM, Ormas dan pemuda pada titik yang ditentukan.

“Sehingga pembatasan sosial dan ekonomi berjalan selama 14 hari,” tegas Ketua Umum Koalisi Kependudukan Kalsel ini.

Terlebih, saat ini merupakan musim ‘pengharapan’ menjelang lebaran bagi penduduk perkotaan, khususnya para pedagang.

Menurutnya, kondisi ini yang dimaksud kebijakan harus memerhatikan aspek waktu kapan kebijakan diimplementasikan.

“Jadi tidak sekadar memilih pada model rational comprehensive, tetapi pada model Mixed-Scanning. Tidak sekadar pertimbangan rational kesehatan, efisien, tetapi juga pertimbangan rational economic politis,” jelasnya.

Di tengah kondisi ekonomi yang kian lesu, pemerintah tidak sekadar menghadirkan kebijakan (policy), tetapi juga kebijaksanaan (wisdom) dan kebajikan (virutues).

Pilihan kebijakan yang beranjak dari analisis komprehensif, baik ekonomi, sosial budaya, dan timing sangat diperlukan agar rakyat patuh sehingga terbangun trust kepada pemerintah.

Justru, kearifan kebijakan ini akan mengurangi kecemasan publik yang berlebih dan tidak berimplikasi pada menurunnya imun rakyat serta tambah tinggi tingkat morbiditas penduduk.

“Untuk itu dibutuhkan kesabaran petugas di lapangan dalam menghadapi kondisi stres yang dihadapi publik selama wabah ini,” cetusnya.

Menurutnya, apa yang dihadapi pemerintah daerah dalam kondisi dilematis regulasi.

Satu sisi pemerintah pusat menekankan PSBB, namun tidak disertai pedoman teknis, kecuali inovasi daerah, sehingga melahirkan multitafsir dalam penanganan.

Di sisi lain, berubah-ubahnya fatwa WHO [organisasi kesehatan dunia] soal kesehatan, apalagi akan ada rencana diperbolehkannya penduduk usia 45 tahun keluar bekerja.

“Untuk itu, kesadaran publik terus kita bangun dengan menghadirkan kepercayaan dan kapabilitas pemerintah dalam membuat kebijakan yang tepat,” tandasnya.

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Fariz Fadhillah

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Setelah Bantu Komputer, Kompol Wahyu Hidayat Kembali Buat Terobosan Baru
apahabar.com

Kalsel

Update Covid-19 di Kalsel: ODP Meningkat Ribuan Orang, Tabalong dan Banjarbaru Mendominasi
apahabar.com

Kalsel

Polisi Belum Pecahkan Misteri Temuan Mayat Orok di Sungai Martapura
apahabar.com

Kalsel

Shogun SP Vs Avanza di Mataraman, Satu Orang Tewas
apahabar.com

Kalsel

Kecelakaan Maut di U-Turn Guntung Manggis Banjarbaru, Pengendara Supra Tewas Seketika

Kalsel

Banjir Pagi Ini Bikin Warga Tapin Kembali Elus Dada!
apahabar.com

Kalsel

JKN Bebaskan Masyarakat dari Kemiskinan, Begini Alasannya
apahabar.com

Kalsel

Tari La’ang Asal Balangan Raih Harapan 2 di Harganas
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com