ga('send', 'pageview');
Cerita Sukses Pemuda Kotabaru di Jepang dan Gaet Wanita Mualaf Ribuan Gram Sabu Gagal Edar, BNN Kalsel Diapresiasi Pusat Banjir di Pelaihari, Warga Diminta Waspada Hujan Susulan Dulu Bugar, ‘Kai Api’ Kini Ringkih di RS Ansari Saleh Lagi, Covid-19 Renggut Nyawa Nakes di Puskesmas Banjarmasin




Home Nasional

Kamis, 28 Mei 2020 - 21:42 WIB

Benarkah Gelombang Kedua Covid-19 Bisa Lebih Parah? Simak Penjelasan WHO

Redaksi - Apahabar.com

Ilustrasi virus Corona. Foto: Getty Images

Ilustrasi virus Corona. Foto: Getty Images

apahabar.com, JENEWA – Ahli penyakit menular memastikan virus corona akan melonjak ketika musim panas berakhir. Namun, mereka tidak mengetahui seberapa parah kebangkitan itu terjadi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menawarkan satu hipotesis mengkhawatirkan untuk beberapa bulan ke depan dari virus corona. Saat ini, masyarakat di berbagai negara masih berjuang melalui gelombang pertama pandemi.

Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, dr Mike Ryan, mengatakan kasus-kasus positif corona masih meningkat. Menurut dia, infeksi virus corona bisa saja melonjak tiba-tiba.

“Kita mungkin menghadapi puncak kedua dengan cara ini,” ujarnya seperti dilansir di laman CNN, Rabu (27/05).

Puncak kedua tidak akan terungkap dengan rapi atau bertahap seperti gelombang pertama. Puncak baru berarti ada lonjakan terjadi mendadak yang dapat membebani sistem perawatan kesehatan. Bukan tidak mungkin, akan lebih banyak kematian. Puncak kedua bisa lebih buruk dibandingkan yang pertama.

Baca juga :  Esok Tahun Ajaran Baru, Siswa Kuatir Belajar dari Rumah

Dalam skenario puncak kedua, kasus-kasus positif virus corona akan meningkat tajam dan cepat hingga mencapai puncak baru. Pada gelombang kedua, infeksi dapat terungkap lebih lambat dan berdampak pada berbagai wilayah dunia pada waktu berbeda.

“Ketika rumah sakit dan petugas perawatan kesehatan kewalahan, ada kemungkinan lebih tinggi untuk angka kematian,” ujar Direktur Departemen Kedokteran Darurat di Universitas Johns Hopkins, dr Gabe Kelen.

Dia mengatakan, satu-satunya alasan untuk meredam puncak kedua ini adalah mencegah kematian yang memang dapat dicegah. “Sehingga sistem perawatan kesehatan dapat menangani semua orang yang membutuhkan dan memberi mereka peluang terbaik,” Kelen.

Baca juga :  Muhammadiyah Tetapkan Iduladha pada 31 Juli

Hal lain yang membuat virus corona diprediksi melonjak yaitu musim flu sepanjang musim gugur dan musim dingin. Kelen menyebut, virus pernapasan yang beredar pada saat yang sama membuka kemungkinan terinfeksi salah satunya semakin besar.

Di AS, ada 410 ribu hingga 740 ribu pasien rawat inap flu selama musim flu 2019 sampai 2020, yang berlangsung dari Oktober hingga April. Data tersebut berasal dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

“Dari sudut pandang perawatan kesehatan, musim flu biasanya merupakan masa yang sangat sulit karena ada begitu banyak orang sakit,” kata Kelen.

“Musim flu dalam menghadapi Covid-19, itu akan menjadi tantangan nyata,” ujarnya lagi.(Rep/Cnn)

Editor: Aprianoor

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Polisi Gelar Trauma Healing untuk Anak-Anak Pengungsi di Wouma
apahabar.com

Nasional

Resmi! Indonesia Jadi Tuan Rumah MotoGP 2021
apahabar.com

Nasional

Gita Wirjawan: Reportase Berkualitas Media Siber Dibutuhkan di Era Pandemi
apahabar.com

Nasional

Pasien Covid-19 Sembuh di Jakarta Barat Terus Bertambah
apahabar.com

Nasional

Alami Masalah Mesin, Boeing 737 Max Lakukan Pendaratan Darurat
apahabar.com

Nasional

Tingkatkan Ekspor dan Investasi, Presiden Dorong Hilirisasi Industri
apahabar.com

Nasional

Ini Kemampuan Pasukan Perang Hutan yang Disiapkan Kejar Ali Kalora
apahabar.com

Nasional

Kabut Asap, Garuda Batalkan 15 Penerbangan Domestik
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com