Penyerang Polsek Daha Simpatisan ISIS, Legislator Kalsel: Agamanya Kurang Breaking News: PDP Kabur di Banjarbaru Akhirnya Ditemukan! Pertama, Kalsel Uji Terapi Pengobatan Pasien Covid-19 Pengganti Vaksin Toko Buah di Teweh Diserbu Pria Bersajam, Dua Perempuan Terluka Polisi Bongkar Makam Korban Pembunuhan Ibu Kandung di Teweh




Home Kalsel

Sabtu, 23 Mei 2020 - 09:22 WIB

Cerita Sukses Anak Penjual Sayur asal Batola; Jadi Miliarder di Usia Muda

Uploader - Apahabar.com

Chief Executive Officer (CEO) CV. Maju Bersama Sejahtera (MBS), Fadlan Khair. Foto-apahabar.com/Muhammad Robby

Chief Executive Officer (CEO) CV. Maju Bersama Sejahtera (MBS), Fadlan Khair. Foto-apahabar.com/Muhammad Robby

apahabar.com, BANJARMASIN – Nasib orang siapa yang tahu? Mengawali pekerjaan sebagai penjual solar keliling, Fadlan Khair, kini menjelma menjadi Chief Executive Officer (CEO) salah satu perusahaan vendor kelapa sawit terbesar di Kalsel, yakni CV. Maju Bersama Sejahtera (MBS).

Pemuda asal Anjir Pasar Lama, Kilometer 14,5, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara.

Semasa kecil, lelaki kelahiran 1 Mei 1988 ini sudah ditinggal sang ayah untuk selama-selamanya. Sehingga ia hanya dibesarkan oleh seorang ibu.

Setamat dari sekolah menengah atas (SMA), ia memilih menjual solar keliling sembari membantu sang ibu berdagang sayur dari pasar ke pasar. Rutinas itu berlangsung kurang lebih 8 tahun lamanya, sejak 2007 sampai dengan 2015 silam.

Ia merasa kurang percaya diri untuk bekerja di kantoran seperti kebanyakan orang pada umumnya. Mengingat, ia hanya memiliki ijazah tamatan SMA. Terlebih, orang yang lulusan perguruan tinggi saja sangat kesusahan mencari pekerjaaan.

“Kalau saya melamar pekerjaan dengan ijazah SMA, paling hanya menjadi buruh di perusahaan tersebut,” ucap Fadlan saat berbincang bersama apahabar.com, Jumat (22/5) sore.

Dari hasil penjualan solar keliling kala itu, ia bisa memperoleh keuntungan berkisar antara Rp200–300 ribu per hari. Bahkan saat permintaan melonjak naik, keuntungan bisa mencapai Rp90 juta per bulan. Omzet itu diperoleh dari kurang lebih 40 pelanggan tetap di daerah Batola.

Sampai ketika, ia mengirim Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar ke salah satu perkebunan kelapa sawit di Batola untuk keperluan excavator. Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. Di sana ia melihat ada peluang bisnis yang harus dimanfaatkan.

Baca juga :  Kompak, Sejoli di Kotabaru Nekat Curi Flip Coper

Seketika terbesit di benaknya untuk bertransformasi dari penjual solar ke sektor perkebunan kelapa sawit. Bukan sebagai petani, namun ia memilih menjadi penghubung antara petani dengan pengepul kelapa sawit.

“Terlebih dahulu saya melakukan pendataan jumlah petani sawit di Batola. Data disimpan untuk database pribadi,” kenangnya.

Pekerjaan itu dilakoninya selama kurang lebih 6 bulan. Dari situ, ia bertemu dengan salah seorang pengepul besar di Marabahan. Dia belajar banyak hal terkait perkebunan kelapa sawit sedikit demi sedikit.

Tak berselang lama, ia memutuskan menjadi pengepul. Bukan bermaksud menjadi pesaing, melainkan untuk kooperatif dan saling mendukung satu sama lain.

Ia memilih untuk meminjam modal awal ke bank sebesar Rp200 juta. Dengan semangat yang menggebu-gebu, ia mampu melipatgandakan uang tersebut menjadi Rp1,8 miliar per bulan.

Pencapaian semakin meroket, ia memutuskan untuk menjadikan CV. MBS yang saat itu masih berbentuk Usaha Dagang (UD) sebagai vendor atau penyuplai kelapa sawit ke beberapa perusahaan besar di Kalsel.

Lagi-lagi, ia kembali meminjam modal ke salah satu bank sebesar Rp2 miliar. Ia rela menggadaikan seluruh aset peninggalan orang tua berupa tanah dan rumah. Tentu itu sudah melalui pertimbangan yang sangat matang. Bahkan perputaran uang sudah mencapai Rp15 miliar per bulan.

Baca juga :  Dukung Sektor Pariwisata, APJI Kalsel Ingin Terlibat

Tak hanya sampai di situ, permintaan para petani untuk menjual ke perusahaan miliknya sangat tinggi. Padahal, saat itu ia hanya mampu mencakup wilayah Kecamatan Barambai dan Wanaraya.

“Seluruh petani sawit di Batola ingin menjual ke tempat saya. Sementara modal saya tak mencukupi. Saya membutuhkan Rp30 miliar untuk mampu membeli sawit tersebut. Namun karena petani sudah percaya, sehingga mereka mau dibayar per bulan setelah pabrik membayar ke saya. Padahal, kala itu terdapat 30 vendor yang sama di Kalsel,” bebernya.

Hingga saat ini, ia bisa memperoleh omzet sebesar Rp60–100 miliar per bulan. Ia terus berinovasi di tengah kemajuan teknologi yang kian cepat. Bahkan pihaknya telah menyediakan aplikasi khusus untuk para petani yang bisa di-download di Play Store. Di mana sistem pembayaran pun dilakukan via rekening.

Tak tanggung-tanggung perusahaan vendor asli lokal ini menjadi vendor utama di Julong Grup dan United Malaka, suplayer CPO terbesar di dunia.

“CV. MBS juga melakukan jual beli produk turunan, seperti cangkang sawit untuk mesin boiler, miko limbah sawit yang biasa digunakan untuk bahan kosmetik dan sabun,” tambahnya.

Menurutnya, ada beberapa kunci sukses dalam menjalankan usaha. Di antaranya harus pandai membaca peluang, memiliki perhitungan yang matang, tekun dan ulet, berbakti kepada kedua orang tua, serta tetap berdoa kepada Allah SWT.

“Karena semua ini merupakan pemberian dari-Nya,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Muhammad Bulkini

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Puncak HPN 2020; Hasnur Group Berharap Pers Lebih Profesional
apahabar.com

Kalsel

Dinkes Banjar Segera Akreditasikan Dua Puskesmas
apahabar.com

Kalsel

Lalu Lintas Banjarmasin Sesudah dan Sebelum Anjuran #DirumahAja
apahabar.com

Kalsel

Penyalahgunaan Narkoba di Banjarbaru Meningkat, Berikut Datanya
apahabar.com

Kalsel

Siap-Siap, Pemprov Kalsel Bakal Salurkan Dana Desa Tahap Terakhir
apahabar.com

Kalsel

Dinsos Kalsel dan Tagana Berikan Bantuan Kepada Korban Banjir Tanah Bumbu
apahabar.com

Kalsel

Siang Ini Hujan Lokal Sirami 5 Wilayah di Kalsel
APAHABAR.COM

Kalsel

Kekeringan, Penanaman Padi di Sari Gadung Tertunda