Jadwal Liga Inggris Sheffield United vs Man City Malam Ini, Live Streaming Mola TV, Guardiola Tanpa Aguero! Video Viral Pria Bawa Jenazah Ibunya Pakai Motor di Atas Bronjong, Sang Perekam pun Ketakutan! Video Detik-detik Mobil Tabrak Gerbang Masjidil Haram Mekkah dengan Kecepatan Tinggi Video Viral Rombongan Klub Harley Keroyok 2 Anggota TNI, Polisi Melerai Dicuekin, Ini Gara-garanya Biang Kebakaran Hebat di Patmaraga Kotabaru Mulai Terungkap

Dokter: Waktu Terbaik Periksa Jantung Saat Usia 20 Tahun

- Apahabar.com Kamis, 7 Mei 2020 - 05:00 WIB

Dokter: Waktu Terbaik Periksa Jantung Saat Usia 20 Tahun

Ilustrasi. Foto-Pixabay

apahabar.com, JAKARTA – Memeriksakan kondisi jantung demi mendeteksi dini adanya masalah di salah satu organ vital itu, semisal henti jantung seperti yang diduga pernah dialami mendiang penyanyi Didi Kempot bisa Anda mulai sejak usia 20 tahunan.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito Anggarino Damay mengatakan jika di usia 20 tak ada masalah di jantung maka Anda disarankan kembali memeriksakan jantung lima tahun kemudian.

“Kalau usia 30 tahunan atau di atas 40 taun sebaiknya setahun sekali. Kalau terdeteksi ada darah tinggi atau kolesterol tinggi bisa cek berkala sesuai kondisinya,” kata dia dalam diskusi via daring, Rabu (06/05).

Menurut Vito, pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain melalui wawancara medis, EKG atau alat rekam listrik jantung, foto X-ray dada atau yang dikenal awam sebagai foto rotgen.

“Pemeriksaan fisik dan wawancara medis oleh dokter bisa menemukan adanya kebocoran klep jantung, sekat jantung, gangguan irama jantung, tanda lemah jantung atau kecurigaan penyakit jantung koroner,” tutur dia.

Nantinya jika diperlukan, ada pemeriksaan lain yang diperlukan sesuai kondisi. Vito mengatakan, pemeriksaan jantung setidaknya bisa bisa membuat Anda lebih sadar kesehatan dan kondisi tubuhnya.

Kemudian, mengenai masalah henti jantung yang diduga dialami penyanyi Didi Kempot sebelum menghembuskan napas terakhirnya beberapa waktu lalu, penyebabnya beragam termasuk serangan jantung.

“Walaupun demikian, memang henti jantung mendadak pada umumnya disebabkan serangan jantung bila tidak ada penyebab lain yang memungkinkan. Contoh orang infeksi berat, kecelakaan, kehabisan darah juga ujungnya henti jantung ketika meninggal tapi bukan disebabkan serangan jantung,” papar dia.

Vito menjelaskan, henti jantung merupakan kondisi saat jantung tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai pompa yang efektif, dan dengan demikian tidak terjadi sirkulasi darah yang cukup untuk memberikan suplai ke otak dan jaringan tubuh.

Penanganan pada mereka yang mengalami henti jantung dokter bisa dengan CPR atau RJP, pada dasarnya pijat jantung luar dan bantuan napas buatan.

Sebelum mengalami masalah jantung, seseorang umumnya mengalami gejala seperti sakit dada, sesak napas, berdebar-debar, pingsan, kaki bengkak dan gejala ini bisa muncul bersamaan.(Ant)

Editor: Aprianoor

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Gaya

Danau Matahari Bulan, Surga Gowes di Taiwan
apahabar.com

Gaya

Nikmati Konser We The Fest 2020 Secara Gratis, Simak Caranya!
apahabar.com

Gaya

Resep Menu Sarapan Keluarga: Roti John Rumahan
apahabar.com

Gaya

Kucing Hanya Diberi Makanan Kering, Bolehkah?
apahabar.com

Gaya

Bosan Makan Daging, Mi Instan Bisa Dibuat Bergizi
apahabar.com

Gaya

Pahit Daun Pepaya Mampu Melawan Demam Berdarah
apahabar.com

Gaya

Saran Psikolog, Terapkan Ini Hindari Covid-19 di Rumah
apahabar.com

Gaya

Menginap di Best Western, Salat Subuh di Masjid Sabilal Muhtadin
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com