ga('send', 'pageview');
Cerita Sukses Pemuda Kotabaru di Jepang dan Gaet Wanita Mualaf Ribuan Gram Sabu Gagal Edar, BNN Kalsel Diapresiasi Pusat Banjir di Pelaihari, Warga Diminta Waspada Hujan Susulan Dulu Bugar, ‘Kai Api’ Kini Ringkih di RS Ansari Saleh Lagi, Covid-19 Renggut Nyawa Nakes di Puskesmas Banjarmasin




Home Religi Tokoh

Selasa, 26 Mei 2020 - 13:09 WIB

Habib Ali Masyhur Meninggal Dunia, Medsos Bertabur Pesan Duka

Redaksi - Apahabar.com

 Habib Ali Masyhur bin Hafidz.
sumber: istimewa

Habib Ali Masyhur bin Hafidz. sumber: istimewa

apahabar.com, BANJARMASIN – Ketua Mufti Tarim, Hadramaut, Yaman, Habib Ali Masyhur dikabarkan meninggal dunia pada Selasa 26 Mei 2020 hari ini. Media Sosial (Medsos), baik Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya dijejali pesan duka dari netizen.

Habib Ali Masyhur adalah ulama kenamaan Hadramaut berpangkat Ketua Mufti Tarim. Dia merupakan guru sekaligus kakak dari Habib Umar bin Hafidz. Keduanya sama-sama membangun kembali gairah ilmu di Kota Tarim dengan mendirikan Darul Musthofa. Lembaga pendidikan inilah yang kemudian menaungi banyak penuntut ilmu di dunia, termasuk santri dari Indonesia.

Lahir dan Belajar Habib Ali Masyhur bin Hafidz lahir di Tarim pada 13 Ramadhan 1358 H (5 November 1939 M) dalam keluarga ahli ilmu. Dia dibesarkan dan dididik ayahnya yang seorang ulama, Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz dan kakeknya yang juga ulama, Habib Salim bin Hafidz.

Selain kepada ayah dan kakeknya, Habib Masyhur juga belajar pada Habib Alwi bin Abdullah bin Shihab dan Habib Umar bin Alwi al-Kaff.
Pada usia 7 tahun, habib Masyhur lulus dari sekolah tahfidzul Qur’an Abu Murayyam dan melanjutkan ke Ribath Tarim pada tahun 1365 H (1946 M). Di antara Guru-guru di sana adalah Syekh Mahfudz bin Utsman, Syekh Salim bin Sa’id Bukayyir, Syekh Abdullah Ba Zaghayfan, Syekh Tawfiq bin Faraj Aman, dan Syekh Shalih bin Awad Haddad.

Pada tahun 1375 H, Habib Masyhur diminta ayahnya untuk menemani sang kakek( Habib Salim) di masa uzur. Sekitar dua tahun lamanya dia merawat sembari mengambil pengetahuan dan bimbingan rohani dari kakeknya tersebut.

Pada tahun 1377 H (1957 M.) Habib Masyhur dikirim Sang Ayah ke kota ash-Shihr untuk belajar dari Habib Abdullah bin Abdur Rahman Ibn Syeikh Abu Bakar bin Salim. Di sana Habib masyhur belajar sekitar satu tahun lamanya.

Sepulang dari As Shihr, Habib Masyhur bergabung dengan al-Ma`had al-Fiqhi, di mana beliau belajar dan mengajar sampai tahun 1382 H (1962 M).

Habib Masyhur kemudian melanjutkan berdakwah ke lembah Daw’an, Selatan Hadhramaut. Selama 13 tahun di sana, Habib mendirikan banyak sekolah dan majelis ilmu.

Baca juga :  Jelang Terima Jemaah Haji, Makkah-Madinah Bersolek

Selama periode ini, Habib Masyhur sering mengunjungi Tarim di waktu luang dan melakukan perjalanan ke Hijaz pada tahun 1386 H (1966 M) untuk melakukan ibadah haji dan “mengunjungi” Rasulullah SAW.

Selama di dua kota suci, Habib Masyhur tak lupa mengambil ilmu dari ulama di sana, di antaranya Syekh Muhammad al-Arabi at-Tabbani, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani, Sayyid Muhammad Amin Kuthbi, dan Syekh al Hasan Massyat.
Dakwah dan Jasanya pada Pendidikan

Pada tahun 1387 H (1967 M), rezim sosialis komunis berkuasa di Yaman Selatan dan berusaha untuk membasmi ajaran Islam dari masyarakat Yaman. Para ulama dibunuh dan lembaga/sekolah diniyah keagamaan ditutup secara paksa.

Pada tahun 1392 H (1973 M), rezim komunis menculik dan membunuh Habib Muhammad bin Salim (ayah Habib Masyhur), yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan rezim.

Pada tahun 1395 H (1975 M), Habib Masyhur pulang dari Daw’an dan kembali menetap di Tarim dan merupakan salah satu dari beberapa ulama yang dengan gigih tetap berjuang di kota Tarim, meskipun fakta bahwa penindasan rezim ini paling sadis dan parah. Habib Masyhur dengan beraninya menggantikan kedudukan ayahnya, baik untuk urusan pribadi maupun urusan publik, seperti berceramah dan mengisi majelis ilmu.

Pihak berwenang saat itu telah menghentikan banyak kegiatan keagamaan yang telah berjalan selama ratusan tahun di Tarim, namun Habib Masyhur secara bertahap membukanya kembali.

Sejak kembali ke Tarim, Habib Masyhur telah menjadi Imam Masjid Jami’. Dia memainkan peran besar dalam melestarikan naskah penting yang telah diambil oleh kaum sosialis komunis dari sekolah-sekolah agama dan rumah ulama.

Habib Masyhur mengatur kembali naskah-naskah itu dan menempatkan mereka di perpustakaan Masjid Jami’, setelah masjid direnovasi.

Habib Masyhur juga memimpin tim penyusunan pembuatan pohon silsilah keluarga keturunan Baginda Nabi SAW di Hadhramaut. Pohon Nasab ini pertama kali disusun oleh Habib Abdur Rahman bin Muhammad Al Masyhur.

Baca juga :  Teladan dari Sudagar Kaya yang Bangkrut, Athiyah bin Khalaf

Setelah rezim sosialis komunis jatuh pada tahun 1410 H (1990 M) dan Yaman Utara serta Yaman Selatan bersatu kembali, dia ikut berperan mengambil bagian dalam pembukaan kembali Ribath Tarim dan juga mengajar di sana.

Habib Masyhur kemudian bekerja sama dengan saudaranya, Habib Umar bin Hafidz dalam membangun Dar al Musthafa, yang dibuka pada tahun 1414 H (1994 M). Habib Masyhur menjadi direktur dan guru mahasiswa tingkat lanjut di sana.

Habib Masyhur juga mengajar di Universitas Ahqaf Syari’ah Tinggi, selama empat tahun.

Sejak tahun 1421 H (2000 M) Habib Masyhur telah menjadi Ketua Dewan Fatwa Tarim (Mufti Tarim). Dia juga memegang atau mengajar sejumlah mata pelajaran secara tetap di Masjid Jami’ Tarim dan Dar al-Faqih al-Muqaddam, dan banyak siswa yang datang untuk belajar di rumahnya.

Habib Masyhur memimpin beberapa majelis zikir mingguan dan memimpin kunjungan ziarah secara berkelompok ke pemakaman Zanbal pada hari Jumat. Beliau memiliki perhatian khusus untuk pendidikan perempuan dan memegang pelajaran mingguan khusus untuk mereka.

Habib Masyhur juga mengirimkan kelompok guru dan da’i ke desa-desa dan kota-kota terpencil untuk mengajar umat dan mengingatkan mereka tentang tugas mereka dalam Islam.

Ulama Rendah Hati Meskipun pengetahuannya sangat luas, Habib Ali Masyhur sangat rendah hati dan sangat dicintai oleh murid-muridnya dan orang-orang Tarim. Dalam kuliah umum, ia lebih suka berbicara dalam dialek Tarim. Ini adalah cara pendahulunya, yang tidak tertarik pada retorika dan bahasa yang tinggi, melainkan bahasa yang mudah dipahami oleh semua masyarakat awam.

Meskipun usianya sudah lanjut, rutinitas dan semangatnya tetap seperti seorang pemuda. Selain menghormati komitmennya di bidang mengajar, Habib Masyhur selalu terlihat menghadiri pesta pernikahan dan memimpin salat jenazah dan doa pemakaman.
Kini ulama itu telah pergi dalam usia kurang lebih 81 tahun (dalam hitungan masehi).

sumber: ngopibarengid
Editor: Muhammad Bulkini

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Pelajaran Berharga Dari Sang Wali Allah Habib Basirih
Khadam Kubah Habib Luar Batang Heran, Ada Sosok Misterius Sedekahkan Uang Rp50 Juta untuk Taksi di Momen Haul Sekumpul

Habar

Pengurus Kubah Habib Luar Batang Heran, Ada Sosok Misterius Sedekahkan Rp50 Juta di Momen Haul Sekumpul
apahabar.com

Religi

Jemaah Banua Bersholawat Mulai Berdatangan
apahabar.com

Habar

Saudi Terbitkan Panduan Jemaah Haji di Tengah Pandemi
apahabar.com

Religi

Doa Terhindar dari Penyakit Menular, Seperti Virus Corona
apahabar.com

Tokoh

Tuan Guru H Husin Qaderi Al Banjari (2), Mengkhatamkan Al Quran Setiap Malam
apahabar.com

Religi

Haul Abah Guru Sekumpul Tiga Bulan lagi, Bantuan Sudah Berdatangan
apahabar.com

Habar

Peringatan Maulid DPRD Banjar; Ustadz Khairullah Zain Beberkan Keteladanan Rasul untuk Wakil Rakyat
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com