Debat Ke-2 Pilbup Tanbu: “Wakil Komitmen” HM Rusli Bikin Bingung Alpiya, Mila Karmila Speechless PN Martapura Putuskan Camat Aluh-Aluh Melanggar Netralitas ASN Kembali, Duta Zona Selatan Batola Memenangi Atak Diang Kawal Pilkada Serentak, Polda Kalsel Komitmen Tegakkan Netralitas Tapin Berpotensi Tinggi di Sektor Energi Terbarukan, Pertanian, dan Parawisata

Herd Immunity, New Normal, dan Hidup Berdampingan dengan Virus

- Apahabar.com Selasa, 26 Mei 2020 - 16:09 WIB

Herd Immunity, New Normal, dan Hidup Berdampingan dengan Virus

Ilustrasi: Zulfikar/apahabar.com

Oleh Dewi Alfianti

Sudah memberanikan diri membaca berita di sejumlah media bahwa kemungkinan besar virus C-19 akan ada selamanya di bumi ini, bahwa mungkin dibutuhkan waktu 5 tahun untuk bisa membuat virus itu berada dalam kontrol kita, dan bahwa vaksinnya mungkin takkan pernah bisa dibuat?

Jadi bagaimana ceritanya?

Ah ya, virus itu akan terus ada, sama seperti cacar, flu, dan lainnya. Kita tak bisa mengharapkan ia akan tetiba lenyap tak berbekas. Dan di dunia ini ada beberapa jenis virus yang vaksinnya gagal dibuat.

Jonathan Van-Tam, Kepala Deputi medis Inggris mengatakan bahwa mereka tidak dapat memastikan vaksin C-19 bisa didapatkan. Pernyataan pilu namun jelas masuk akal. Virus HIV misalnya, penyebab AIDS, hingga sekarang belum dapat dibuat vaksinnya. Sementara vaksin untuk demam berdarah baru resmi muncul tahun kemarin.

Penyebabnya beberapa, mutasi genetik virus yang tidak stabil, atau boleh jadi responsnya untuk membangun antibodi sulit diprediksi (The Guardian, 22 Mei 2020). Jadi ketika ada yang bilang kalau kita harus hidup berdampingan dengan C-19, semenggelikan apapun pernyataan itu, kita mulai harus memikirkannya.

Sebulan atau dua silam, saya pernah membuat status mengenai masyarakat golongan dilematis antara sakit karena tertular C-19 atau sakit karena lapar tak bisa makan. Saat itu saya mengajak sesiapa pun yang membaca status untuk memikirkan cara lain selain lockdown (saat itu belum ada isu PSBB. Yang adalah lockdown versi KW sekian) dan mengisolasi diri di rumah.

Seseorang lantas merespons dengan tegas bahwa kita harus tetap di rumah apapun yang terjadi. Berada di rumah saja, atau lebih bagus lagi totally lockdown telah menjadi satu-satunya cara memutus mata rantai penularan virus dalam kondisi tanpa vaksin ini.

Masalah orang-orang tetap di rumah sambil kelaparan, itu adalah tanggungjawab pemerintah atau lembaga filantropi yang mau mengambil amanah itu. Jika orang-orang di rumah itu masih lapar, barangkali karena di-PHK, tak bisa berwirausaha karena dilarang, dan lain sebagainya, maka tinggal menyalahkan pemerintah yang tidak becus. It’s so that simple. Saat itu saya cenderung mengiyakan karena di masa-masa awal ide itu terdengar sangat masuk akal dan beberapa negara seperti New Zealand, China, atau Irlandia tampak sukses melakukan lockdown dan mengkarantina warganya di rumah-rumah.

Hanya saja, hari ini ide tentang lockdown (atau dalam skala yang lebih santuy, PSBB), isolasi mandiri, atau menghindari bersosialisasi, meski masih terus dilakukan, meninggalkan keraguan-keraguan baru. Sampai kapan harus dilakukan? JIka toh vaksin tak jelas dan virus akan tetap ada, sampai kapan metode ini bisa dijalankan terus menerus? Efektivitas lockdown juga belakangan dipertanyakan. Rasio kematian tertinggi dan terendah berada di negara-negara yang menerapkan lockdown dengan cukup ketat: China, Italia, Spanyol, New Zealand. Semua berlangsung secara random, dengan atau tanpa lockdown. Swedia yang sejak awal sampai sekarang tidak melakukan kebijakan lockdown misalnya tingkat kematian per sejuta orang adalah 319, berada di atas Norwegia yang hanya 40 atau Denmark 91. Meski demikian posisi Swedia masih di bawah negara lain yang menerapkan lockdown, yaitu Inggris 465, dan Spanyol 569.

Sementara itu, tekanan ekonomi semakin menyesakkan dada pemerintah negara manapun. Jika lockdown diberlakukan terus menerus, niscaya negara akan colaps jatuh misqueen tiada terkira. JIka sebagian besar industri dan wilayah-wilayah produksi berhenti beroperasi, jutaan pekerja dirumahkan, sementara tingkat konsumsi menurun secara drastis gegara orang-orang berhenti beraktivitas, maka negara bertanggungjawab menanggung kebutuhan pangan tiap kepala. Okelah, dalam rentang yang tak terlalu lama itu bisa dilakukan. Namun jika terus menerus tanpa tahu kapan akan berakhir? Bahkan negara paling kaya pun tiada akan sanggup. Apalagi negara dengan hutang dalam jumlah mengerikan.

Itu sebabnya, pasca kurva korban terinfeksi dan meninggal mulai terlihat melandai, sejumlah negara di Eropa mulai melonggarkan lockdown-nya: Italia, Spanyol, Yunani, Perancis, bahkan Inggris yang kurvanya belum tampak datar, berencana membuka sekolah pada 1 Juni. Menyusul negara-negara berpenduduk terbanyak di dunia dengan kurva yang sebenarnya masih menuju puncak seperti India, Brasil, Rusia, dan tentu saja, Indonesia.

Akhirnya, tak ada satu wilayah pun di muka bumi ini yang betah berlama-lama dalam kondisi statis tanpa gerakan perekonomian yang berarti, berdiam di rumah-rumah. Bahkan New Zealand sebagai salah satu contoh negara paling sukses menghalau C-19 di negaranya mulai ancar-ancar meninggalkan zona lockdown. Siap berbisnis kembali. Sementara itu, di sebalik pelonggaran lockdown telah mengintai serbuan virus gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Lalu apa yang bisa dilakukan setelah ini? Berita orang-orang tertular tak pernah berhenti setiap harinya, namun lockdown juga tak bisa dilakukan selamanya. Belum sampai enam bulan, semua wilayah sudah gelisah ingin melepaskan diri dari kungkungan pola hidup terisolasi. Sangat dilematis.

Sebagai sebuah dialektika, muncullah kemudian wacana ‘herd immunity’ dan ‘new normal’. Sebenarnya ‘herd immunity’ atau kekebalan komunitas bahkan menjadi ide awal original milik pemerintah Inggris (baca Boris Johnson), sebelum Inggris sendiri meninggalkannya dan beralih pada lockdown terutama setelah Johnson sendiri tertular C-19. wacana ini sangat populer untuk ditanggapi dengan negatif. Kekebalan komunitas tanpa vaksin adalah bunuh diri masal. Wacana itu tak lagi mengemuka (barangkali karena terasa kurang cerdas) sampai muncul isu bahwa negara kita akan melakukannya.

Wacana kekebalan komunitas memang terasa tidak masuk akal ketika harapan kita demikian besar untuk punahnya C-19 diiringi penemuan vaksin dan produksinya secara masal. Lalu bagaimana jika sebaliknya? Vaksin tak ada, virus takkan punah, lockdown tak juga menjadi jaminan terhentinya penularan. Maka herd immunity tanpa vaksin tetiba perlu untuk dipikirkan dengan lebih mendalam.

Barangkali, satu-satunya cara mengefektifkan kekebalan komunitas tanpa memakan terlalu banyak korban hingga waktu di mana dunia sudah bisa resisten terhadap virus ini adalah dengan memformulasikan ‘new normal’ alias kenormalan baru dengan protokol yang ketat.

Apa itu kenormalan baru? Saya pribadi memaknainya sebagai kebiasaan-kebiasaan yang sama sekali baru yang tak pernah kita lakukan sebelumnya. Kita lakukan secara komunal agar bisa menjalani hidup secara normal dan jauh dari virus.

Mengenakan masker kemanapun kita pergi (dalam kurun waktu lebih lama, ketamvanan, kecantikan, perawatan wajah menjadi sesuatu yang kurang relevan kecuali ada teknologi permaskeran yang bisa mengakomodir itu), bersosialisasi dengan jarak tertentu (desain-desain kafe, mall, sekolah, masjid, bahkan pasar dan tempat publik lainnya akan menyesuaikan), tidak bersalaman khususnya pada orang-orang yang kita ragukan status aman virusnya (apalagi perempuan dan lelaki bukan muhrim, hehe, sekalian lah kampanye), kebiasaan mencuci tangan di manapun berapa (sehingga tiap tempat publik menyediakan tempat mencuci tangan permanen di bagian depan), menyemprot desinfektan secara berkala di berbagai tempat (ini bagian yang cukup menyebalkan), atau lebih banyak bekerja dari rumah (kalau ini saya kurang suka).

Dengan kenormalan baru, kita bisa lagi kembali ke masjid, sekolah, kantor. Masalahnya apakah negara kita siap? Kita bahkan belum mencapai puncak pendemi alias kita bahkan belum berdarah-darah melakukan PSBB, belum ke taraf ekstrem ala isolasi mandiri warga China yang 3 bulan sama sekali tak pernah mengendus jalanan depan kompleks rumah kecuali sangat terpaksa. Mereka melakukan itu karena pemerintah mereka menyuruh mereka dan mereka tidak mau seluruh China menjadi seperti Wuhan. Kita masih PSBB ala penulis amatir, sangat bergantung pada mood. Kalau mood sedang baik, warga dan pemerintah akan sama-sama disiplin. Warga disiplin di rumah, mematuhi protokol selama berada di luar rumah, dan para petugas akan disiplin mengecek kepatuhan warga. Tapi kalau sedang tidak mood, ya begitulah.

Dengan demikian, kita masih belum siap untuk kenormalan baru jenis apapun. Kita mesti memaksimalkan perjuangan kita mewujudkan PSBB impian yang penuh kedisiplinan itu. Warga kita harus terdidik secara kultural menganggap penting segala protokol pencegahan virus. Itu berarti termasuk tidak merasa jagoan ketika tidak memakai masker (o yeah, saya melihat sendiri wajah-wajah penuh kebanggaan tanpa masker itu). Termasuk juga menahan diri untuk tidak berjubelan menawar harga ayam di pasar depan kompleks, dan tidak mencoba mencium tangan ortu sementara tangannya belum dicuci bersih pakai sabun.

PSBB menjadi arena pelatihan kedisiplinan, sebulan dua, hingga puncak pendemik tiba dan kurva kita mulai melandai. Hingga saatnya tiba untuk babak baru di mana kita benar-benar harus rela hidup berdampingan dengan keberadaan virus tersebut dengan kondisi yang lebih siap. Dengan latihan ini, kita akan siap dengan kenormalan baru, dengan aturan hidup sosial yang baru, alih-alih kembali ke hidup lama dengan bahaya mengintai tanpa bisa kita kendalikan.

Wallahua’lam.

*
Penulis adalah Dosen Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Tetty Paruntu: Pak Pratikno yang WA Saya Minta Menghadap Presiden
apahabar.com

Opini

PSBB Bukan Sekadar Bantuan Sosial
apahabar.com

Opini

John Tralala, Saya, dan Anu Ai…
apahabar.com

Opini

Pemimpin Sebagai Ujung Tombak Kualitas Kebijakan Publik
apahabar.com

Opini

Perppu (Offside) Melawan Covid
apahabar.com

Opini

Polemik Agenda Kebijakan Haluan Ideologi Pancasila
apahabar.com

Opini

Batu Bara dan Sawit Bukan Lagi Andalan, Siapkan Sektor Pariwisata?
apahabar.com

Opini

Ramadan yang Sebentar Lagi Meninggalkan Kita
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com