Misteri 2 Bocah Dibunuh Ibu Depresi di Benawa HST, Saksi Kunci Buka Suara! Oknum Simpatisan Terjerat Sabu di Kotabaru, FPI Bantah Anggotanya Cabuli Murid, Oknum Guru Olahraga di SD Banjarbaru Langsung Dipecat! Ketuanya Buron, Joko Pitoyo Ambil Alih Nasdem Tanah Laut Laporan Denny Rontok di Bawaslu Pusat, Tim BirinMu Endus Motif Lain

Ketika Bajingan Lebih Mulia daripada Orang Saleh

- Apahabar.com Selasa, 26 Mei 2020 - 21:38 WIB

Ketika Bajingan Lebih Mulia daripada Orang Saleh

Ilustrasi perjalanan. Foto-Net

apahabar.com, JAKARTA – Di suatu wilayah, terdapatlah dua orang yang secara ukuran hukum agama sangat bertolak belakang satu sama lain, yakni antara orang saleh dan bajingan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memaknai kata “saleh” sebagai orang yang taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah.

Makna kedua adalah orang suci dan beriman. Sementara bajingan menunjuk pada sosok penjahat, pencopet atau orang yang kurang ajar.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, dalam suatu pengajian yang diselenggarakan Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Rayon Bondowoso menceritakan kisah orang saleh dengan seorang bajingan ini untuk dijadikan ibrah agar seseorang dalam menjalankan perintah agama harus selalu menjaga hati dan tidak sombong terhadap orang lain. Ini adalah cerita hikmah yang bisa dijadikan pedoman dalam menjalankan ibadah seraya menjaga “gerak” hati.

Cucu dari Pahlawan Nasional KHR As’ad Syamsul Arifin ini menceritakan bahwa orang yang saleh itu tinggal di pegunungan yang hidupnya lebih banyak diisi dengan ibadah. Pegunungan itu agaknya memberi gambaran bahwa orang saleh itu jauh dari gangguan kondisi sosial masyarakat sehingga hidupnya lebih banyak diisi dengan ibadah kepada Allah.

Sementara si bajingan hidup di sebuah perkampungan dekat pasar. Karena di daerah pasar, tentu saja ramai dan hidup banyak orang dengan berbagai latar belakang. Si bajingan itu adalah preman pasar yang pekerjaannya memalak para pedagang.

Secara syariat, tentu saja bajingan ini jauh dari predikat sebagai hamba yang baik. Ia justru menjadi “sampah” di masyarakat. Kisah pemutarbalikan “status” kemuliaan di hadapan Allah ini bermula ketika suatu hari si orang saleh turun dari pegunungan dan pergi ke pasar guna membeli kebutuhan hidupnya. Entah beras, lauk pauk atau sayur mayur.

Di perjalanan si orang saleh dan si bajingan ini berjumpa, namun dalam jarak yang agak jauh. Dua orang yang sudah saling tahu perilaku masing-masing itu tidak bertegur sapa. Sebaliknya, mereka justru tampak saling membuang muka.

Secara fisik, perilaku keduanya sama. Sama-sama membuang muka. Namun motif atau niat yang ada di hati mereka justru berbeda.

Si orang saleh yang sudah merasa bersih dan banyak berbuat kebajikan di hadapan Allah itu membuang muka karena memandang hina si bajingan. Sementara si bajingan merasa malu untuk menatap orang saleh karena merasa dirinya kotor. “Saya terlalu kotor, saya tidak pantas melihat wajah orang saleh itu,” begitu bisik hati si bajingan.

Menurut Kiai Azaim, seketika itu Allah membalikkan status keduanya. Si bajingan menjadi orang mulia yang kemudian menjadi orang bertaubat dan si orang saleh menjadi orang hina karena kesombongannya memandang orang lain.

Karena itu, ulama muda yang juga dikenal sebagai penyair ini mengingatkan agar umat selalu membaca doa, “Yaa muqollibal quluub”. Artinya, “Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati”.

“Tapi jangan berhenti di yaa muqollibal quluub itu. Teruskan dengan “tsabbit qolbi ‘alaa diinika,” katanya.

Arti dari doa tsabbit qolbi ‘alaa diinika itu kurang lebih,”Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”.

Sementara itu, dalam cerita-cerita sufi, untuk menjaga “gerak” hati itu umat diingatkan agar selalu berprasangka baik ketika menyaksikan keburukan yang dilakukan oleh orang lain.

Misalnya, ketika melihat seorang pelacur atau bahkan maling, hati harus selalu berprasangka baik, bukan sebaliknya yang justru menjebak pada keadaan sombong. Kaum sufi mengingatkan untuk berpikir bahwa kita harus menghormati si maling atau pelacur.

“Jangan-jangan mereka nanti justru di akhir hidupnya menjadi orang yang sangat saleh kemudian meninggal dalam kondisi husnul khotimah (baik akhirnya),” begitu pesan dari kaum sufi itu.

Selain itu, kisah yang disampaikan oleh Kiai Azaim di atas juga mengingatkan bahwa kewajiban sebagai umat Islam hanya menjalankan perintah dari menjauhi larangan Allah. Sementara penilaiannya, sudah merupakan hak prerogatif Allah.

Dalam suatu kisah, Nabi Muhammad mengingatkan sahabatnya bahwa tidak seorang pun masuk surga karena amalnya, melainkan karena kasih sayang Allah. Sahabat bertanya, “Engkau pun tidak, ya Rasul?” Beliau menjawab, “Saya pun tidak, kecuali berkat rahmat Allah kepadaku.”

Hadits yang dikutip dari https://islam.nu.or.id ini memberi pesan bahwa urusan baik atau buruk itu hanya Allah yang berhak menilai. Bahkan, lebih tinggi lagi, untuk urusan surga dan neraka juga urusannya Allah.

Di akhir Bulan Suci Ramadhan dan pandemi Covid-19 yang belum berakhir ini, kita dihadapkan pada dua realitas pilihan masyarakat untuk beribadah. Ada yang memilih teguh dengan prinsipnya untuk tetap beribadah (tarawih dan Shalat Idul Fitri) di masjid, sementara yang lainnya memilih melaksanakan imbauan pemerintah untuk beribadah di rumah bersama keluarga.

Di media sosial, dua pilihan itu seringkali diperdebatkan. Bagi yang tetap beribadah di masjid dinilai tidak mematuhi anjuran pemerintah, bagi yang beribadah di rumah dinilai lebih takut pada penyakit daripada takut kepada Allah. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, asal tetap memperhatikan keselamatan bersama dan protokol kesehatan.

Kita tidak perlu membanggakan pilihan ibadah, bahkan termasuk kuantitasnya, atas ibadah orang lain. Pada akhirnya hanya Allah yang tahu kualitas ibadah.(Ant)

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Hikmah

Belas Kasih Sayidina Ali KW Saat Perang
apahabar.com

Hikmah

Ketika Seekor Anjing Mengadu kepada Rasulullah SAW
apahabar.com

Hikmah

Menilik Kampung Mualaf Di Desa Loksado  
apahabar.com

Hikmah

Tobat Seorang Pemuda, Allah Mengubah Araknya Jadi Cuka
apahabar.com

Hikmah

Doa Iri Hati yang Diperbolehkan, kepada Siapa Saja?
apahabar.com

Hikmah

Puasa Menyehatkan Tubuh, Mencerdaskan Otak
apahabar.com

Hikmah

Mengapa Pemakaman Disertai dengan Azan, Begini Alasannya
apahabar.com

Hikmah

3 dari 10 Syarat Muslimah Jadi Tetangga Rasulullah Kelak
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com