Resmi, Hakim Vonis Pemilik Gudang Sabu di Banjarmasin Penjara Seumur Hidup! Remaja Korban Tabrakan di Tabalong Akhirnya Diamputasi, Keluarga Pilih Ikhlas Periksa 16 Mahasiswa, Polisi Terbitkan SPDP untuk Korwil BEM Kalsel Dapat Lampu Hijau, SMA di Kalsel Belum Berani Buka Sekolah Netizen Gagal Paham Soal Bingkisan SHM-MAR, Bawaslu: Sarung Boleh

Masuk Surga Karena Sepotong Roti

- Apahabar.com Rabu, 6 Mei 2020 - 11:25 WIB

Masuk Surga Karena Sepotong Roti

Ilustrasi, sepotong roti. Foto-net

apahabar.com, BANJARMASIN – Sepotong roti terlihat sangat remeh bagi orang yang berpunya, namun tidak bagi orang yang sangat memerlukan. Hanya dengan sepotong roti, seseorang dikabarkan diperbolehkan masuk surga. Bagaimana ceritanya?

Diceritakan oleh sahabat Rasulullah SAW bernama Abu Musa Al Asy’ari, dia mengenal seorang laki-laki yang sangat tekun beribadah. Selama tujuh puluh tahun laki-laki itu selalu beribadah di jalan Allah. Tak pernah pula ia meninggalkan tempat ibadah. Hari-harinya dihabiskan untuk mengabdi kepada Allah di tempat ibadah itu karena ia memang tinggal dan menjaganya.

Hingga suatu hari datanglah godaan pada laki-laki tersebut. Ia digoda seorang wanita. Ia masuk dalam jebakan dosa dari wanita tersebut. Selama tujuh hari ia bergelimang dalam dosa melakukan perzinahan. Ia tak punya hubungan apa-apa dengan wanita penggoda tersebut, tetapi melakukan hubungan suami-istri dengan wanita itu.

Tak lama kemudian ia pun tersadar akan dosa-dosanya. Ia pergi meninggalkan sang wanita, dan kembali bertobat. Namun, untuk kembali pada rumah ibadah yang selama ini dijaganya, ia tak sanggup. Ia merasa tak pantas lagi berada di tempat tersebut.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengembara. Ke mana pun kakinya melangkah, shalat, sujud, zikir, dan ibadah lainnya tak pernah ditinggalkannya. Dalam pengembaraannya tersebut, akhirnya sampailah ia ke sebuah pondok reyot yang di dalamnya telah tinggal dua belas fakir miskin. Ia bermaksud bermalam di sana karena badannya telah letih karena melakukan perjalanan yang sangat jauh. Ia pun jatuh tertidur bersama penghuni lainnya di tempat tersebut.

Rupanya, di dekat pondok tinggal seorang dermawan yang setiap malamnya selalu membagi makanan bagi fakir miskin di lingkungan sekitarnya. Biasanya ia membagi-bagikan roti. Ia pun selalu adil membagikan satu potong roti untuk masing-masing orang yang tinggal di pondok tersebut.

Malam itu, laki-laki pengembara yang sedang bertobat tersebut juga mendapatakan jatah pembagian roti dari sang dermawan karena dianggap penghuni tetap pondok tersebut.

Namun, ternyata salah seorang dari fakir miskin penghuni pondok tidak mendapat pembagian jatah roti. “Mengapa saya tidak mendapatkan roti,” ujar sang penghuni pondok pada sang dermawan.

Pertanyaan tersebut dijawab oleh sang dermawan. “Kamu lihat sendiri, roti yang aku bagikan telah habis, padahal aku telah membaginya secara adil, masing-masing satu potong roti untuk setiap orang yang tinggal di sini, seperti hari-hari sebelumnya aku membawa dua belas potong roti,” ujarnya.

Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki yang sedang bertobat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Padahal, perjalanan jauh sebenarnya telah menguras energinya.

Apalagi, ia menjalaninya dengan perut kosong. Di tangannya telah ada satu makanan yang bisa mengisi perutnya. Namun, karena ia merasa itu bukan haknya, ia rela kembali merasakan lapar dan memberikan sepotong roti tersebut pada yang berhak.

Keesokan harinya, laki-laki pengembara yang sedang bertobat itu meninggal dunia. Di hadapan Allah, ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertobat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadah yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam.

Akan tetapi, timbangan kebaikannya ditambahkan dengan perbuatan baiknya menjelang ajalnya, yaitu memberikan sepotong roti pada fakir miskin yang sangat memerlukannya. Ternyata amal tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu.

Kepada anaknya Abu Musa berkata, “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu!”

Amal sedekah bisa menyelamatkan umat manusia dari api neraka. Apalagi, yang bersedekah tersebut merupakan orang yang juga sebenarnya sangat membutuhkan harta tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, “Satu dirham bisa mengalahkan 100 ribu dirham.”

Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa demikian?” “Ada orang yang memiliki dua dirham, kemudian dia sedekahkan satu dirham. Sementara itu ada orang yang memiliki banyak harta, kemudian dia mengambil seratus ribu dirham untuk sedekah.” (HR an-Nasai).

Abu Hurairah Radiyallahu Anhu berkata, “Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimana yang paling utama?” Rasulullah pun bersabda, “Kesungguhan seorang muqil, dan mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu.” Muqil adalah orang yang sedikit hartanya, tetapi dia bersedekah sesuai dengan kemampuannya.

Sumber: Republika
Editor: Muhammad Bulkini

Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

Ini Bukti Cinta Allah kepada Hamba-Nya

Hikmah

Ini Bukti Cinta Allah kepada Hamba-Nya
apahabar.com

Religi

Rasulullah SAW Surati Penguasa Dunia untuk Masuk Islam
apahabar.com

Habar

Ustaz Evie Effendi Kembali Berulah, Warganet Minta MUI Jabar Bertindak
apahabar.com

Hikmah

Ramadan Bulan Bersedekah
apahabar.com

Habar

Salat Jumat Ditiadakan, Masjid di Martapura Ini Masih Menggelar ‘Diam-diam’
apahabar.com

Habar

Update Persiapan Haul Guru Sekumpul ke 15; Desa-desa di Kabupaten Banjar Mulai Berhias
apahabar.com

Hikmah

4 Tipe Orang Tua Menurut Kisah Alquran, Anda Termasuk Mana?
Jelang Haul Guru Sekumpul ke 15, Satlantas Banjar Rutin Gelar Razia

Habar

Jelang Haul Guru Sekumpul ke 15, Satlantas Banjar Rutin Gelar Razia
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com