Cerita Sukses Trader Forex Banjarmasin, Modal Rp 15 Juta Berangkatkan Umrah Keluarga 3 Jam Hujan Deras, Ratusan Rumah Warga Desa Miawa Tapin Kebanjiran Kisah Pilu Istri Korban Disambar Buaya di Kotabaru, Harus Rawat 4 Anak, 1 di Antaranya Berusia 6 Bulan Suami Penanambaan, Ibu Terduga Pembunuh 2 Anak di Benawa HST Pernah Kuliah Produksi Migas Kalimantan-Sulawesi Lampaui Target, Kok Bisa?

Membully Manusia, Mengejek Tuhan

- Apahabar.com Senin, 18 Mei 2020 - 16:13 WIB

Membully Manusia, Mengejek Tuhan

Ilustrasi: Foto-apahabar.com/Zulfikar

Oleh Puja Mandela

Bagaimana perasaan Anda saat melihat peristiwa bullying yang terjadi Kelurahan Bonto-Bonto, Kecamatan Ma’rang, Pangkep, Sulawesi Selatan yang baru saja viral di media sosial?

Kalau Anda belum tahu, sebentar lagi saya akan memberitahukan kepada Anda semua, wahai rakyat Indonesia yang belakangan ini makin terlihat resah dan gelisah.

Di Facebook, beredar beberapa video bullying sejumlah pemuda kepada seorang bocah penjual gorengan. Pada video pertama, terlihat si bocah itu dipukuli, lalu dibanting di pinggir jalan.

Pada video kedua, si bocah berusia 12 tahun tergeletak di rerumputan yang mungkin hanya berjarak kira-kira setengah meter dari badan jalan. Karena tubuhnya yang besar, ia terlihat sangat kesulitan untuk berdiri. Sementara di video ketiga, saat si bocah sedang mengendarai sepeda ontelnya, seorang pemuda iseng mencegatnya di jalan, lalu mendorongnya hingga tersungkur.

Sama seperti video pertama dan kedua, pada video ketiga ini juga memperlihatkan sejumlah pemuda yang menertawakan kejadian itu. Mungkin para pemuda itu menganggap apa yang mereka lakukan itu lucu. Padahal, ya, nggak ada lucu-lucunya sama sekali.

Peristiwa memilukan itu dikecam oleh banyak orang. Untungnya aparat kepolisian cepat tanggap. 8 pemuda yang terlibat langsung diamankan di kantor polisi.

Belakangan diketahui bocah malang itu bernama Rizal. Setiap hari ia berjualan keliling kampung dengan menggunakan sepeda ontel untuk menjajakan pastel, atau orang Sulawesi Selatan menyebutnya jalangkote. Sebagai anak yang baru berusia 12 tahun, Rizal memiliki tanggung jawab besar untuk membantu perekonomian keluarganya, termasuk untuk membelikan susu untuk adiknya yang masih berusia 1 bulan.

Meski sebagian terlihat sepele dan receh, tetapi bullying akan sangat membekas bagi korbannya. Apalagi jika perlakuan tak menyenangkan itu diterima oleh mereka yang masih berusia anak.

Saya misalnya, juga tak bisa menghindar dari bullying. Dulu, saat usia saya masih 4 atau 5 tahun, seorang tetangga yang berusia jauh lebih dewasa sering mengejek kebiasaan saya mengenakan piyama. Dia bilang baju saya jelek. Dia bilang begitu dan tak pernah berhenti. Sampai pada akhirnya saya bersumpah tak akan pernah mengenakan piyama lagi.

Saya sering merasa sedih saat secara tak sengaja mengingat peristiwa yang barangkali hanya candaan iseng dari tetangga kami. Tapi tetap saja kata-katanya saat itu terus membekas sampai detik ini.

Aksi bully-membully itu kemudian sering saya saksikan saat saya duduk di bangku sekolah dasar. Biasanya bullying menimpa anak-anak yang penampilan fisiknya dianggap tidak oke, aneh, dan sejenisnya. Korban bullying juga kerap menimpa mereka yang tak punya banyak teman dan terlihat lemah di mata orang lain.

Tindakan bullying yang mungkin akan terus diingat anak-anak generasi 90-an adalah memanggil teman menggunakan nama orang tuanya, mengejek warna kulit, tekstur wajah, bau badan, seragam sekolah yang lusuh, sampai nilai rapor dan rangking pun tak lepas dari bahan ejekan.

Orang yang bisa selamat dari perundungan hanya mereka yang punya keberanian ekstra. Kalau misalnya Iway membully Rendi, maka Rendi harus berani menantang duel Iway. Kalau tidak, Rendi akan dijadikan badut dan terus menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya sampai waktu yang tidak ditentukan.

Ya, itu hanya ilustrasi, sebagai gambaran bahwa bullying juga marak terjadi di sebuah era yang belum dijajah oleh pasukan bernama Android. Saya pun tidak bermaksud mengajak korban bullying untuk, misalnya, memukul rahang si pelaku, lalu membantingnya ke selokan. Sebab, kita sudah berada pada era yang berbeda. Melakukan baku hantam hari ini hanya akan berujung di kantor polisi.

Tapi sekali lagi, korban harus memiliki keberanian untuk melawan. Kalau dulu perlawanan dilakukan dengan cara yang radikal, saat ini harus dengan cara yang lebih elegan. Mereka harus berani melaporkannya kepada orang tua atau guru untuk kemudian diteruskan ke dinas terkait atau ke Komisi Perlindungan Anak yang juga terus konsen mengawal kasus-kasus bullying di Indonesia.

Selama 2019, tercatat ada 153 kasus bullying kepada anak yang terjadi di negara kita. Itu termasuk perundungan berupa kekerasan fisik dan psikis. Jika melihat kasus yang pernah terjadi, kita akan melihat sesuatu yang agak mengerikan.

Seorang pelajar SMP di Jawa Timur harus menerima kenyataan paling pahit dalam hidupnya. Ia di-bully oleh teman-temannya hingga jari tangan bagian tengahnya harus diamputasi. Ada pula pelajar SMA di Pekanbaru yang mengalami patah pada tulang hidung. Juga gara-gara bully. Itu baru sebagian kecilnya.

Anak-anak korban perundungan tak boleh kalah. Mereka harus berani melawan rasa takut terhadap diri sendiri, rasa takut kepada orang-orang di sekitarnya, takut bicara, bertindak, dan berpikir. Dia tidak boleh takut mengutarakan pendapat bahwa tindakan yang dilakukan oleh orang yang melakukan perundungan adalah salah kuadrat.

Untuk mencapainya memang bukan perkara mudah. Anak-anak harus dilatih semenjak dini untuk mengatasi rasa takut itu. Setiap orang tua juga mesti mengetahui bahwa yang dibutuhkan anak adalah dukungan dan motivasi agar si anak bisa lebih percaya diri. Para pendidik dan orang-orang terdekatnya harus mengambil peran untuk terus menanamkan optimisme pada anak. Jangan sampai si anak merasa inferior. Dukungan dari lingkungan sekitar juga penting. Intinya, budaya membully, mengejek, mengolok-olok harus dihilangkan dari masyarakat kita.

Tak hanya Rizal atau anak-anak lainnya, bullying bisa menimpa siapa saja tanpa mengenal latar belakang, pangkat, jabatan, dan usia. Jangankan saya, Anda, selebritis, musisi, pengusaha, Pak Bupati, Gubernur, anggota DPR, Presiden, penceramah, ulama, nabi, bahkan Tuhan pun bisa kena bully.

***
Tempo hari, sambil menenggak minuman keras, seorang anak punk menyebut agama sebagai konspirasi. Bukan sesuatu yang aneh memang. Sebab si anak punk adalah penganut agnostik, sebuah pandangan yang meyakini bahwa Tuhan tidak dapat diketahui dan tidak akan dapat diketahui.

Pandangannya itu jelas-jelas bernada bullying kepada sang pencipta alam semesta. Tapi saya tahu Tuhan tidak akan marah. Apalagi sampai depresi. Karena sejak ribuan tahun lalu, Tuhan sudah terbiasa menerima ejekan-ejekan semacam itu…

***
Penulis adalah redaktur apahabar.com

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Menuju Sendratasik Berkarya IX: Adipati Karna dan Sumpah Setianya
apahabar.com

Opini

Peran Besar Para Influencer di Tengah Wabah
apahabar.com

Opini

John Tralala, Saya, dan Anu Ai…
Dilema Wabah Covid-19 dan Pembebasan Narapidana di Kalsel

Opini

Dilema Wabah Covid-19 dan Pembebasan Narapidana di Kalsel
apahabar.com

Opini

‘Membayar Investasi’ Politik
apahabar.com

Opini

Menuding Yahudi, Meludahi Wajah Sendiri
apahabar.com

Opini

Hadapi Covid-19: Langkah Social Distancing dan Lockdown dalam Perspektif Hukum
Monumen Baru Perlawanan Ilham Bintang

Opini

Monumen Baru Perlawanan Ilham Bintang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com