Digeledah KPK, Rumah Bupati HSU Abdul Wahid Jadi Tontonan Warga BREAKING! KPK Geledah Rumah Bupati HSU, Spanduk Panjang Membentang Rumahnya Digeledah KPK, Bupati HSU Abdul Wahid Menghilang Jumlah Kesembuhan Covid-19 di Tanbu Capai 5.593 Pasien KPK Obok-Obok Rumah Bupati HSU, Kapolres Angkat Suara

Mungkinkah Kalsel New Normal? Pengamat: Masyarakat Harus New Behavior Positive

- Apahabar.com     Selasa, 26 Mei 2020 - 21:43 WITA

Mungkinkah Kalsel New Normal? Pengamat: Masyarakat Harus New Behavior Positive

New Normal. Foto-turnto10.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Pemerintah Indonesia menggaungkan new normal di tengah pandemi Covid-19. Langkah ini diambil untuk mendukung keberlangsungan usaha di sektor jasa dan perdagangan (area publik) pada masa wabah virus ini.

Bahkan pemerintah pusat telah menerbitkan Surat Keputusan Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha Pada Situasi Pandemi.

Kemudian SK itu ditindaklanjuti dengan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 tentang Protokol Pencegahan Penularan Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha.

SE ditujukan langsung kepada seluruh kepala daerah di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan.

Lantas, apa saja modal masyarakat Kalimantan Selatan dalam menghadapi new normal?

Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik FISIP ULM, Arif Rahman Hakim mengatakan new behavior (perilaku baru) merupakan modal awal masyarakat Kalimantan Selatan menghadapi new normal.

Mengingat pandemi Covid-19 ini telah memaksa semua pihak melahirkan perilaku baru (new behavior). Mulai dari individu, masyarakat, hingga pemerintahan.

Ia berdalih semua kekacauan di muka bumi berawal dari perilaku individu yang negatif.

Ketika orang lain terpengaruh dengan perilaku negatif tersebut, maka masalah akan bertambah besar. Sebaliknya, jika orang lain tidak terpengaruh, maka masalah itu menjadi kecil.

“Artinya, yang perlu kita ciptakan adalah new behavior positive. Sama halnya saat kita diwajibkan berpuasa dan menjalankan ibadah lain selama ramadan. Makna setelah sebulan melalui fase itu adalah kita diharapkan melahirkan perilaku baru yang positif (meraih kemenangan). Tentu hasil berbeda-beda tergantung aktifitas ibadah mereka selama ramadan,” ucap Arif Rahman Hakim kepada apahabar.com, Selasa (26/5).

Begitu pula dengan fase pandemi Covid-19 ini. Ia berharap mampu keluar dari fase ini dengan modal perilaku baru yang positif.

Menurutnya, ada lima modal etika yang membuat seseorang berperilaku positif.

Pertama adalah naturalisme. Dalam artian seseorang harus berpendirian bahwa fitrah manusia itu suci. Hakikat manusia berpedoman akal (naluri yang lurus).

“Karena itu, menurut Filsuf Yunani, Zeno, orang yang berperilaku menggunakan akal selalu melahirkan energi positif,” jelas Arif.

Adapun modal kedua yakni hedonisme atau manusia yang selalu menginginkan kenikmatan (hedone). Hedone dimaksud adalah kenikmatan yang tidak mengakibatkan penderitaan. Misalnya hedone terhadap sesuatu yang melahirkan kebaikan. Contohnya hedone menggunakan masker.

“Kita merasa nikmat karena dengan menggunakan masker terhindar dari hal negatif dan memberi dampak positif terhadap diri sendiri serta orang lain,” tegas Kepala Accelaration Room KNPI Kalsel ini.

Ketiga adalah utilitarianisme, berdasarkan pendapat yang dikemukakan John Stuart Mill. Menurutnya, kebaikan tertinggi adalah memberi manfaat (utility). Seseorang akan menjadi manusia yang sia-sia jika tidak memberi manfaat terhadap orang lain.

“Berprinsip seperti ini akan membuat kita selalu memilih perbuatan yang tidak merugikan orang lain. Contohnya, kita akan selalu berperilaku bersih. Karena bersih akan memberi manfaat dan kotor akan merugikan orang lain,” cetusnya.

Modal keempat, tambah Arif, yakni idealisme. Dalam konsep Immanuel Kant, idealisme diartikan sebagai pandangan manusia bahwa berbuat baik bukan karena diperintah, melainkan kewajiban.

Individu seperti ini berkeyakinan bahwa diri yang dilahirkan suci harus selalu disiram dengan perbuatan baik.

“Ibarat tanaman, ketika disiram dengan racun, maka akan mati. Begitu pula manusia, jika disiram dengan perbuatan jahat, maka makna hidup sebenarnya telah mati,” urainya.

Terakhir adalah theologis. Individu ini akan berpegang pada ajaran Tuhan dalam berbuat. Individu ini berkeyakinan bahwa kekacauan, kesedihan, kerusakan dan energi negatif lainnya muncul karena tidak mematuhi ajaran Tuhan.

“Karena itu, individu seperti ini selalu berpegang pada ajaran Tuhan agar dirinya berkontribusi untuk melahirkan energi positif,” katanya.

“Jika individu-individu seperti itu tercipta, maka masyarakat Kalsel akan melahirkan new behavior positive dan puncaknya adalah perilaku baru yang positif di pemerintahan,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

Cuaca Panas, Waspada Potensi Karhutla Hari Ini

Kalsel

Update Covid-19 Kotabaru: Bertambah Lagi 6 Positif dan 2 Sembuh
apahabar.com

Kalsel

Update Hari Ini: 102 Warga Kalsel Berhasil Bebas dari Covid-19
Birin Denny

Kalsel

Tok! MK Kabulkan Sebagian Gugatan Sengketa Pilgub Kalsel Denny Indrayana
apahabar.com

Kalsel

Pasca Disetujui PSBB, Berikut Pantauan Arus Lalu Lintas dan Pasar di Banjarmasin
apahabar.com

Kalsel

Resmi Polisikan Adhariani, Denny Indrayana: Hentikan Fitnah Keji
apahabar.com

Kalsel

Karyawan Salon Tewas Tabrak Pagar Musala
apahabar.com

Kalsel

DLH Banjarmasin Siagakan Pasukan Kuning di Idul Adha
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com