Kesbangpol dan KPU Jamin Hak 8.620 Pemilih Difabel di Kalsel Terpenuhi Tabir Kematian 2 Bocah di Benawa HST, Korban Dipocong Hidup-Hidup oleh Ibu Kandung INNALILLAHI, Anggota TNI AL Ditemukan Membusuk di Indekos Banjarmasin Pembunuhan Wakar di Kelayan B Sudah Direncanakan, Pelaku Khilaf karena Luka Lama Debat Ke-2 Pilbup Tanbu: “Wakil Komitmen” HM Rusli Bikin Bingung Alpiya, Mila Karmila Speechless

Mungkinkah Kalsel New Normal? Pengamat: Masyarakat Harus New Behavior Positive

- Apahabar.com Selasa, 26 Mei 2020 - 21:43 WIB

Mungkinkah Kalsel New Normal? Pengamat: Masyarakat Harus New Behavior Positive

New Normal. Foto-turnto10.com

apahabar.com, BANJARMASIN – Pemerintah Indonesia menggaungkan new normal di tengah pandemi Covid-19. Langkah ini diambil untuk mendukung keberlangsungan usaha di sektor jasa dan perdagangan (area publik) pada masa wabah virus ini.

Bahkan pemerintah pusat telah menerbitkan Surat Keputusan Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha Pada Situasi Pandemi.

Kemudian SK itu ditindaklanjuti dengan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 tentang Protokol Pencegahan Penularan Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri Dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha.

SE ditujukan langsung kepada seluruh kepala daerah di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan.

Lantas, apa saja modal masyarakat Kalimantan Selatan dalam menghadapi new normal?

Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik FISIP ULM, Arif Rahman Hakim mengatakan new behavior (perilaku baru) merupakan modal awal masyarakat Kalimantan Selatan menghadapi new normal.

Mengingat pandemi Covid-19 ini telah memaksa semua pihak melahirkan perilaku baru (new behavior). Mulai dari individu, masyarakat, hingga pemerintahan.

Ia berdalih semua kekacauan di muka bumi berawal dari perilaku individu yang negatif.

Ketika orang lain terpengaruh dengan perilaku negatif tersebut, maka masalah akan bertambah besar. Sebaliknya, jika orang lain tidak terpengaruh, maka masalah itu menjadi kecil.

“Artinya, yang perlu kita ciptakan adalah new behavior positive. Sama halnya saat kita diwajibkan berpuasa dan menjalankan ibadah lain selama ramadan. Makna setelah sebulan melalui fase itu adalah kita diharapkan melahirkan perilaku baru yang positif (meraih kemenangan). Tentu hasil berbeda-beda tergantung aktifitas ibadah mereka selama ramadan,” ucap Arif Rahman Hakim kepada apahabar.com, Selasa (26/5).

Begitu pula dengan fase pandemi Covid-19 ini. Ia berharap mampu keluar dari fase ini dengan modal perilaku baru yang positif.

Menurutnya, ada lima modal etika yang membuat seseorang berperilaku positif.

Pertama adalah naturalisme. Dalam artian seseorang harus berpendirian bahwa fitrah manusia itu suci. Hakikat manusia berpedoman akal (naluri yang lurus).

“Karena itu, menurut Filsuf Yunani, Zeno, orang yang berperilaku menggunakan akal selalu melahirkan energi positif,” jelas Arif.

Adapun modal kedua yakni hedonisme atau manusia yang selalu menginginkan kenikmatan (hedone). Hedone dimaksud adalah kenikmatan yang tidak mengakibatkan penderitaan. Misalnya hedone terhadap sesuatu yang melahirkan kebaikan. Contohnya hedone menggunakan masker.

“Kita merasa nikmat karena dengan menggunakan masker terhindar dari hal negatif dan memberi dampak positif terhadap diri sendiri serta orang lain,” tegas Kepala Accelaration Room KNPI Kalsel ini.

Ketiga adalah utilitarianisme, berdasarkan pendapat yang dikemukakan John Stuart Mill. Menurutnya, kebaikan tertinggi adalah memberi manfaat (utility). Seseorang akan menjadi manusia yang sia-sia jika tidak memberi manfaat terhadap orang lain.

“Berprinsip seperti ini akan membuat kita selalu memilih perbuatan yang tidak merugikan orang lain. Contohnya, kita akan selalu berperilaku bersih. Karena bersih akan memberi manfaat dan kotor akan merugikan orang lain,” cetusnya.

Modal keempat, tambah Arif, yakni idealisme. Dalam konsep Immanuel Kant, idealisme diartikan sebagai pandangan manusia bahwa berbuat baik bukan karena diperintah, melainkan kewajiban.

Individu seperti ini berkeyakinan bahwa diri yang dilahirkan suci harus selalu disiram dengan perbuatan baik.

“Ibarat tanaman, ketika disiram dengan racun, maka akan mati. Begitu pula manusia, jika disiram dengan perbuatan jahat, maka makna hidup sebenarnya telah mati,” urainya.

Terakhir adalah theologis. Individu ini akan berpegang pada ajaran Tuhan dalam berbuat. Individu ini berkeyakinan bahwa kekacauan, kesedihan, kerusakan dan energi negatif lainnya muncul karena tidak mematuhi ajaran Tuhan.

“Karena itu, individu seperti ini selalu berpegang pada ajaran Tuhan agar dirinya berkontribusi untuk melahirkan energi positif,” katanya.

“Jika individu-individu seperti itu tercipta, maka masyarakat Kalsel akan melahirkan new behavior positive dan puncaknya adalah perilaku baru yang positif di pemerintahan,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Robby
Editor: Syarif

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Kalsel

BPBD HSS dan Relawan BPK Galang Dana untuk Korban Tsunami Selat Sunda
apahabar.com

Kalsel

101 Warga Kalsel Kembali Bebas dari Penularan Covid-19
apahabar.com

Kalsel

Biddokkes Polda Kalsel Ambil Sampel Swab Terhadap 275 Warga Reaktif Covid-19
apahabar.com

Kalsel

Perampokan Brutal di Kotabaru, Korban Ditusuk dan Dilempar ke Sungai
apahabar.com

Kalsel

Kirim Paket dari Rumah, Kantor Pos Kembangkan Layanan Oranger
apahabar.com

Kalsel

Hasil Laboratorium Air Sungai Barito, Minyak Juga Ikut Mencemari

Batola

Tetap Waspada, Covid-19 di Barito Kuala Berpotensi Naik Lagi
apahabar.com

Kalsel

Nikah di New Normal, Vendor Wedding Kalsel Wajib Usung Protap Covid-19
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com