Cium Bau Gosong, Honda Jazz Terbakar di Banjarmasin Baru Bebas, Napi di Banjarmasin Tusuk Kekasih Eks Istri Ada Ancaman Baru, Banjarmasin Coret 2 Kluster Penyebar Covid-19 Pasien Covid-19 Kabur, RSDI Banjarbaru Gembok Pintu Lagi, Kluster Gowa Tambah Pasien Covid-19 Kotabaru




Home Opini

Minggu, 10 Mei 2020 - 17:49 WIB

Penyalahgunaan Narkoba di Tengah Wabah

Triaji Nazulmi - Apahabar.com

Ilustrasi-Zulfikar apahabar.com

Ilustrasi-Zulfikar apahabar.com

Oleh Rahimullah

Penyebaran virus corona yang terjadi dan masih melanda negeri ini ternyata tidak membuat pengedar dan pemakai narkoba jera.

Sebagaimana kasus narkoba yang terjadi di wilayah Kalimantan Selatan, petugas Satresnarkoba Polresta Banjarmasin pada 28 April 2020 yang penulis kutip dalam matabanua.co.id, berhasil menggagalkan transaksi narkoba jenis sabu-sabu dengan berat netto 4,9 gram.

Pemusnahan narkoba juga dilakukan Polresta Banjarmasin pada 8 Mei 2020 yang penulis kutip dalam laman apahabar.com dengan jenis sabu-sabu 703,13 gram dan 915 butir pil ekstasi yang berasal dari 19 pelaku budak narkoba di Kota Banjarmasin.

Selain itu, ada juga Petugas Satresnarkoba Polres Tabalong pada 6 Mei 2020 yang penulis kutip dalam laman korankontras.net, berhasil mengamankan pelaku penyalahgunaan narkoba jenis sabu-sabu dalam satu buah kotak rokok di wilayah hukum Kabupaten Tabalong.

Pengungkapan penyalahgunaan narkoba tersebut sebenarnya hanya bagian kecil dari kasus narkoba yang terungkap, namun kinerja kepolisian tentu harus tetap diapresiasi.

Mengingat ada peristiwa yang mengejutkan dari jajaran Polda Kalsel beserta Polres Tabalong pada 13 Maret 2020 yang penulis kutip dalam laman ratanews.kalsel.polri.go.id berhasil melakukan penangkapan peredaran narkoba jenis sabu 208 kg dan ekstasi 13,9 kg di wilayah Kalimantan Selatan. Temuan narkoba yang berjumlah 221,9 kg ini merupakan tangkapan terbesar kedua secara nasional. Setelah Polda Metro Jaya yang sebelumnya juga berhasil menggagalkan peredaran narkoba sebanyak 288 kg di Pandeglang, Kabupaten Tangerang pada akhir januari 2020 yang lalu (cnnindonesia.com).

Baca juga :  Covid-19 dan Siasat: Menciptakan Political Distancing

Rencananya temuan narkoba di Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong tersebut akan dipecah di wilayah Kalimantan Selatan. Tentunya tidak menutup kemungkinan peredaran terjadi secara merata di 13 kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Selatan.

Dari data survei penyalahgunaan narkoba skala nasional yang dilakukan BNN kerjasama dengan LIPI pada 2019 yang penulis kutip dalam laman bnn.go.id mengatakan bahwa yang pernah memakai narkoba 4.534.744 jiwa dan yang setahun memakai narkoba 3.419.188 jiwa. Kalimantan Selatan, khususnya, mengalami penurunan jumlah penyalahgunaan narkoba pada 2019 menjadi kurang lebih 57.723 jiwa dibanding pada 2017 yang mencapai lebih 79.000 jiwa.

Penyalahgunaan narkoba tersebut mengingatkan penulis kepada salah satu warga yang terpesona dengan narkoba. Pemuda itu pernah bekerja di sektor swasta yang tentunya gaji yang didapatkan agak lumayan. Pihak yang bersangkutan bisa saja beranggapan merasa mampu dengan pundi-pundi rupiah yang dimiliki. Lalu mencoba memakai narkoba dan akhirnya ketergantungan.

Seiring berjalannya waktu, yang bersangkutan kena PHK di tempat pekerjaannnya. Kabarnya karena pengaruh penyalahgunaan narkoba. PHK yang dilakukan dibarengi dengan uang pesangon. Lantas banyak uang yang ia dapatkan. Namun tidak terasa uang yang dimiliki kandas.

Dengan adanya kebutuhan tersier yang dimiliki, berupa mobil dan kendaraan bermotor menjadi alternatif baginya untuk kembali menghasilkan uang dengan cara menjualnya. Bahkan sampai ada juga perabotan rumah tangga yang dijadikan alat untuk dijadikan uang.

Baca juga :  Politis Partai Demokrat Andi Arif Gunakan Sabu dan Ditangkap Bersama Seorang Wanita

Kesemuanya itu tidak lain karena dampak dari penyalahgunaan narkoba. Sekarang ini yang bersangkutan sedang dilakukan pembinaan oleh pihak yang berwenang.

Begitu pula seorang teman juga pernah bercengkrama dengan penulis di salah satu gedung olahraga. Ia mengaku pernah terjebak karena penyalahgunaan narkoba. Mulanya mau coba-coba dan akhirnya ketergantungan. Ia merupakan seorang pedagang dengan omset kurang lebih Rp 5 juta per harinya.

Dengan ketergantungannya menggunakan narkoba, diakuinya memengaruhi pekerjaannya dengan ketidaksiplinan membuka toko dagangan yang jam/waktunya tidak seperti biasanya. Serta pola pikirnya tidak terkonsentrasi lagi dengan dagangannya.

Pembelinya juga ada yang merasa “takut” berinterkasi karena berbeda tinggah lakunya. Selain itu pembeli yang biasanya berdatangan setiap harinya, kemudian menjadi sepi.

Akhirnya usahanya gulung tikar. Ia pun mengaku menyesal dan tidak mau mengulanginya lagi.

Beranjak dari adanya penyalahgunaan narkoba, pengguna sebenarnya menjadi korban. Kebijakan rehabilitasi sudah seharusnya dikedepankan. Tentunya diimplementasikan secara profesional tanpa pandang bulu sesuai dengan aturan main yang berlaku.

Pengedar narkobalah yang memang semestinya dihukum seberat-beratnya untuk melakukan pertanggungjawabannya.

Apalagi bandar besar, opsi hukuman mati sebuah keniscayaan. Mengingat penggunaan narkoba ini akan berdampak negatif yang secara signifikan kepada pengguna dan keluarganya serta lingkungan yang sekaligus juga mengancam genarasi masa depan bangsa.

*

Penulis adalah Alumni FISIP Universitas Lambung Mangkurat dan Mahasiswa Pascasarjana FISIP Universitas Airlangga

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Opini

Kekuatan Sedekah di Tengah Wabah Virus Corona
apahabar.com

Opini

China Harus Disadarkan, Ini Bukan Zaman Kublai Khan
apahabar.com

Opini

Menuju Sendratasik Berkarya IX: Adipati Karna dan Sumpah Setianya
apahabar.com

Opini

Demo Mahasiswa dan Viral Tilawah Fathur
apahabar.com

Opini

#DiRumahAja dan Kita yang Sebentar Lagi Menjadi Gila
apahabar.com

Opini

Komisi III Labrak Etika Publik
Monumen Baru Perlawanan Ilham Bintang

Opini

Monumen Baru Perlawanan Ilham Bintang
apahabar.com

Opini

Rahasia Guru Zuhdi Ketika Sakit