Temui Pacar, Begal Sadis di Gunung Kayangan Pelaihari Ditembak Petugas Perhatian! PT KPP Rantau Ngutang Pajak Alat Berat Rp 1,8 M Warung Jablay di HSS Meresahkan, MUI Ngadu ke DPRD Jelang Pencoblosan, Warga Kalsel Diimbau Jangan Telan Mentah-Mentah Berita Medsos Disbudpar Banjarmasin Rilis Dua Wisata Baru, Cek Lokasinya

Politikus PDIP: Damai dengan Covid, Tak Berarti Negara Gagal

- Apahabar.com Senin, 25 Mei 2020 - 10:33 WIB

Politikus PDIP: Damai dengan Covid, Tak Berarti Negara Gagal

Ilustrasi virus corona atau covid-19. Foto: Shutterstock

apahabar.com, KUPANG – Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Lema menilai, ajakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar “berdamai” dengan Covid-19 bukan berarti negara gagal, menyerah kalah, takluk tak berdaya atau bersikap abai terhadap bahaya pandemi Covid-19.

Menurut dia, ‘berdamai” dalam konteks ini mesti dimengerti sebagai upaya melakukan berbagai tindakan penyesuaian, menjalankan adaptasi baru dalam seluruh aspek kehidupan manusia terhadap Covid-19.

“Sebelum ditemukan vaksin penyembuh dan selama pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman, maka logis pilihan kebijakannya adalah ‘berdamai’ dengan keadaan,” kata Yohanis Fransiskus Lema melalui aplikasi WhatsApp, Minggu, menanggapi pernyataan Presiden Jokowi.

“Untuk itu diperkenalkan istilah ‘new normal’,” tambah anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) 2 itu pula.

Menurutnya, World Health Organization (WHO) memperkirakan Covid-19 tidak akan hilang, dan bisa jadi keberadaannya terus ada dalam kehidupan manusia. Pada sisi lain, kehidupan harus terus berjalan.

Namun karena ancaman Covid-19, maka dibutuhkan berbagai penyesuaian-penyesuaian baru. Manusia harus bisa melakukan adaptasi secara cepat, agar bisa menjaga dirinya dari ancaman Covid-19, sekaligus tetap bisa menjalankan aktivitas kehidupannya.

Karena itu, sambil menunggu ditemukan vaksin penyembuh, manusia harus cepat melakukan adaptasi untuk bisa hidup berdampingan dengan Covid-19.

Bentuk penyesuaiannya adalah menjalankan protokol kesehatan pencegahan dan penanganan Covid-19 secara ekstra ketat, semisal melakukan physical distancing, pakai masker, rajin cuci tangan, dan menerapkan pola hidup sehat. Artinya, “berdamai” dengan Covid-19 mestinya dimaknai sebagai perubahan fundamental dalam mind-set maupun perilaku aktivitas sehari- hari, agar terhindar dari ancaman mematikan Virus Corona jenis baru,

Saat belum ditemukan vaksin penyembuhnya, hidup berdamai dan berdampingan dengan Covid-19 adalah pilihan logis yang bisa dilakukan. Tujuannya, kata ia, agar aktivitas kehidupan atau ekonomi kembali berjalan, namun tetap konsisten menjalankan protokol kesehatan secara super ketat. “Virus itu sulit untuk dihilangkan. Tinggal kita sebagai manusia menalar menggunakan logika untuk menyesuaikan diri, untuk ‘berdamai’,” ujarnya lagi.(Ant)

Editor: Aprianoor

Editor: Redaksi - Apahabar.com

Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Terkait Instruksi Kapolres Garut, AKP Sulman Mengaku Salah
apahabar.com

Nasional

Kagum Lihat Semangat Masyarakat Sambut Haul, Sandiaga: Terbesar di Dunia
apahabar.com

Nasional

Viral di Jagat Maya, Ahok Berseragam Pegawai SPBU
apahabar.com

Nasional

Imam Besar Masjid Istiqlal Serukan Shalat Ghaib untuk Korban Teror Selandia Baru
apahabar.com

Nasional

PDI-P Pantau Hitung Cepat Pilpres 2019 di Kediaman Megawati di Kebagusan
apahabar.com

Nasional

Kisah Pilu Ibu Muda, Ditinggal Suami Karena Bayinya Cacat
apahabar.com

Nasional

Topan Hagibis Jepang Berdampakkah di Indonesia?
apahabar.com

Nasional

Tragedi Speedboat Paspampres, Ratu Belanda Belum Tentu Datang
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com